| Jumat, 04 Maret 2005 | BANYUMAS |
Puluhan Industri Rumah Tangga Mulai Tutup
PURWOKERTO - Kenaikan harga BBM membuat kegiatan usaha kalangan industri rumah tangga di Kabupaten Banyumas kalang kabut. Selain tidak bisa membeli bahan bakar minyak karena harganya naik, mereka juga kesulitan memasarkan produk. Alasannya, saat ini daya beli masyarakat cenderung berkurang dan terus melesu. Hal itu dikemukakan Koordinator Forum Komunikasi Usaha Kecil, Makanan dan Minuman Kabupaten Banyumas RY Gunawan, kemarin. Menurutnya, industri rumah tangga yang terpukul akibat kebijakan kenaikan harga BBM adalah industri mi, suun, dan usaha makanan. ''Mereka sekarang tidak hanya kesulitan memproduksi, tetapi juga sulit memasarkan. Kalau sedikit dipaksakan bisa saja kita memproduksi, tapi daya beli masyarakat kan berkurang. Adanya kenaikan harga BBM ini masyarakat pasti melakukan penghematan,'' katanya. Dijelaskan, pabrik mi yang sudah tutup ada 10 buah, sedangkan pabrik suun jumlahnya juga hampir sama. Industri makanan dan minuman belum terdata. Namun sebagian besar mulai mengurangi jumlah produksi dan pekerjanya. Padahal rata-rata mereka mempekerjakan 40-50 orang. Usaha yang lebih besar bisa mempekerjakan 80 orang. Menghabiskan Stok Gunawan mengaku, usaha mi-nya berhenti berproduksi sejak Senin (28/2) kemarin. Beberapa hari ini hanya tinggal menghabiskan stok lama. Stok lama yang tidak sempat terjual ada 5 ton. Alasannya, para pelanggan dan komsumen menghentikan pembelian. ''Sekarang harga terigu (bahan pembuat mi kering) sudah naik menjadi Rp 77.500/kantong (isi 25 kg). Sebelum ada kenaikan harga BBM hanya Rp 73.500. Itu belum ditambah biaya kenaikan harga minyak tanah sebagai bahan bakar karena harga minyak tanah untuk industri juga naik. Belum lagi untuk biaya operasional. Yang memberatkan, kini kita tidak bisa memasarkan,'' akunya. Dia juga menjelaskan, dalam kondisi normal, sehari rata-rata setiap pengusaha mi bisa memproduksi 1,5 - 2 ton. Namun beberapa hari ini mereka bisa memproduksi sekitar 900 kg saja sudah bagus. Ini untuk jenis produksi baru, sedangkan stok lama juga masih menumpuk. ''Kita juga bingung memikirkan nasib para pekerja. Kalau mereka tetap kita suruh masuk kerja kita tidak bisa membayar,'' keluhnya. (G22-20n) |