logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Maret 2005 SEMARANG
Line

Bahasa Jawa Masuk Muatan Lokal di SMA

  • SK Sudah Ditandatangani Gubernur

SEMARANG-Gubernur Jateng H Mardiyanto telah menandatangani surat keputusan (SK) yang mengatur pelaksanaan muatan lokal (mulok) bahasa Jawa di semua jenjang sekolah, termasuk SMA.

Hal itu memenuhi harapan sejumlah kalangan yang menghendaki agar bahasa Jawa diajarkan di SMA, untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa itu.

SK No 895.5/01/2005 bertanggal 23 Februari 2005 itu mengatur tentang Penetapan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Jawa pada Jenjang Pendidikan SD/SLB/MI, SMP/SMPLB/MTs, dan SMA/SMALB/SMK/MA. Saat ini, SK tersebut dalam proses penggandaan untuk selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat, melalui Dinas Pendidikan kabupaten/kota.

Terkait dengan penerbitan SK Gubernur itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jateng Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah merancang implementasinya. Pihaknya masih belum menentukan, apakah pembelajaran bahasa Jawa di SMA pada tahun pertama dilakukan dalam bentuk minipiloting pada sekolah tertentu atau langsung diterapkan untuk semua sekolah.

''Kalau yang untuk SD-SMP kan sudah melaksanakan sejak semula, jadi saya kira tidak ada masalah yang berarti. Tinggal mulok bahasa Jawa yang untuk SMA, perlu dipikirkan strategi yang tepat untuk melaksanakannya,'' kata Suwilan, Rabu (2/3).

Inventarisasi Kesiapan

Selanjutnya, Dinas P & K akan melakukan inventarisasi atas kesiapan sekolah-sekolah di Jateng. Hasil inventarisasi itu nanti akan digunakan untuk menentukan pelaksanaan mulok bahasa Jawa di SMA. Kalaupun diterapkan dalam bentuk minipiloting, tandas Suwilan, akan dipilih sekolah yang telah benar-benar siap untuk melaksanakannya, sambil mempelajari dan melakukan evaluasi atas pelaksanaannya.

''Yang jelas, pada tahun pelajaran 2005/2006 mulok bahasa Jawa akan diberlakukan, termasuk pada jenjang SMA,'' tegasnya.

Begitu juga soal pengadaan buku ajar dan guru pengampu bidang studi baru itu. Pengadaan buku akan bergantung pada mekanisme yang dipilih untuk penerapan mulok bahasa Jawa di SMA. Jika dilakukan dalam bentuk minipiloting, kata dia, guru yang dibutuhkan tentu lebih sedikit ketimbang jika diterapkan pada semua sekolah.

''Hingga sejauh ini, pembelajaran bahasa Jawa pada jenjang SMA kan belum ada gurunya. Mana mungkin proses pembelajaran bisa berlangsung dengan baik kalau tanpa guru?'' (amp-73)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA