| Senin, 28 Februari 2005 | SALA |
Pengalaman Keliling Nusantara 7 BulanMenyambung Hidup dengan SulapKEINGINAN Gunawan untuk berkeliling Nusantara dengan naik sepeda tadinya ditertawakan banyak orang. Dia bahkan dianggap gila. Tetapi tekad Gunawan, warga RT 2 RW 10 Kelurahan Mojayan, Klaten sangat bulat. Dia ingin melihat bagian lain dari negeri seribu pulau ini. Suatu siang, 1 Juni 2004, dia berangkat. Berbekal doa restu kedua orang tuanya, dia mengayuh sepeda dengan berbagai perlengkapan keliling nusantara. Tujuh bulan lamanya perjalanan yang penuh tantangan dia lakoni dengan hati senang. Tepat 27 Januari 2005, Gunawan kembali menginjakkan kakinya di kota kelahirannya, Klaten. Kulitnya semakin hitam terbakar matahari. Rambutnya yang dulu cepak kini menjadi sebahu. Tetapi, badannya yang dulu langsing kini semakin berotot, mungkin karena giat bersepeda tujuh bulan. Bagaimana pengalamannya? ''Banyak kisah senang dan sedih yang saya jalani, pengalaman yang tak bisa dinilai dengan materi. Saya menjadi banyak teman. Di mana pun saya singgah, saya disambut baik,'' kata Gunawan. Dia mengawali perjalanannya ke barat, ke Jabar, Jakarta, kemudian menyeberang ke Sumatra. Dengan mengayuh sepeda sampai ke ujung Sumatra, dia sempat singgah di perkumpulan mahasiswa pecinta alam USU. Mereka menerima kehadiran Gunawan dengan hangat. Namun niatnya untuk mengunjungi bumi Serambi Mekah gagal, karena dia tak diperbolehkan masuk Aceh. Selanjutnya dia menyeberang dan mengayuh sepedanya di pedalaman rimba Kalimantan yang masih seram. Lalu perjalanan dilanjutkan ke Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali, dan kembali ke Klaten. ''Ternyata tidak benar kalau masyarakat sekarang tidak peduli orang lain, buktinya di mana pun saya singgah saya disambut baik. Bahkan saya ditawari menginap di rumahnya dan dijamu,'' ujar pria yang ditolak ketika akan masuk Ambon. Ngamen Sulap Waktunya berkunjung ke Papua, Desember 2004, perjalanannya agak terhambat karena masih ada pengibaran bendera bintang kejora milik Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tetapi, di sana dia sempat mengamen bersama warga setempat. Dengan keahliannya, dia main sulap dan melukis untuk korban tsunami Aceh. Dalam tiga hari bisa mengumpulkan dana Rp 3 juta. Dua keahliannya memang bisa membuatnya bertahan hidup selama menempuh perjalanan. Pemuda lajang yang berangkat hanya berbekal uang Rp 60.000 di dompetnya itu beberapa kali kehabisan uang. Untuk membantu biaya, KNPI menyumbang Rp 1 juta dan KONI Rp 1 juta. Kalau kehabisan uang, dia menjual lukisan dari kertas foto atau lukisan di atas piring.(Merawati Sunantri-20s) |