| Senin, 28 Februari 2005 | NASIONAL |
Dukungan terhadap Partai Islam Menurun
SOLO - Dukungan terhadap partai-partai politik berbasis massa Islam eksklusif atau berasas Islam, menurut M Machfud MD, menunjukkan angka penurunan. Gejala itu dia perhitungkan dengan perolehan suara partai-partai tersebut dalam rentetan pemilu. ''Prestasi terbaik diperoleh pada 1955, ketika parpol-parpol Islam yang dimotori Partai Masyumi dan Partai NU meraih dukungan 4/9, berbanding 5/9 dukungan yang diraih parpol-parpol non-Islam. Namun sejak Orba hingga sekarang, dukungan itu merosot tajam,'' ungkapnya. Hal tersebut dia sampaikan saat berbicara dalam seminar nasional ''Masa Depan Partai-partai Berbasis Islam dalam Perpolitikan Nasional'', yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (26/2). Pembicara lain adalah Hidayat Nurwahid (Mantan Presiden PKS), Arief Muzdasir Mandan (Ketua DPP PPP) dan dosen UGM Dr Heru Nugroho. Pada seminar yang dibuka Rektor UMS Prof Dr Bambang Setiaji itu, Mahfud memaparkan, dalam Pemilu 1999, parpol-parpol Islam hanya meraih sekitar 19 % dari total pemilih. Sebarannya PPP 14 %, PBB 2,3 %, PK 1,9 %, dan parpol lain seperti PNU, PKU, PP total 1,5 %. Pemilu 2004, terjadi pergeseran saat PKS (semula PK) mencuat dengan 6,5 % suara. Namun total dukungan terhadap parpol Islam tetap berkisar 19 % dengan sebaran PPP 8,3 %, PKS 6,5 %, PBB 2,3 % dan PBR 2,2 %. ''Jika PKS naik tajam, maka parpol Islam lain turun drastis. PPP turun dan PPNU, PKU, PP kehilangan semua suaranya,'' ucapnya. Prospek ke depan, menurutnya, lebih buruk. Mengutip survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 1-6 Februari dan yang dirilis 24 Februari lalu, konfigurasinya mengecilkan parpol Islam. Sebab hasil survei, Partai Demokrat 28,2 %, Golkar 14,7 %, PDI-P 13,5 %, PKS 10,2 %, PKB 7,4 %, PAN 3,8 % dan PPP 2,6 %. Kekeliruan Kemerosotan dukungan itu dibenarkan dosen Fisipol UGM Dr Heru Nugroho. Penyebabnya antara lain ada gejala kekeliruan yang dilakukan partai-partai Islam dalam memahami aspirasi konstituennya. Ada gap antara orientasi partai dan aspirasi pemilih. Pascaruntuhnya rezim Orba, tingkat kesadaran berpolitik dan kemampuan memilih partai pada masyarakat, meningkat. ''Sementara beberapa elite partai berbasis Islam masih menggunakan pendekatan lama untuk menarik konstituennya, yakni dengan menempatkan konstituen pada basis politik aliran,'' tuturnya. Akibatnya partai-partai itu cenderung merosot perolehan suaranya. Sementara PKS justru meningat, karena strategi yang diterapkan berbeda. ''PKS bukan mengusung moralitas agama semata, tapi membuat jaringan yang cukup solid di tingkat bawah. Yang dijual bukan doktrin Islam, melainkan doktrin moral Islam yang bersih di tengah realitas kKN yang mengharu-biru.'' Hidayat Nurwahid menolak partainya disebut menyedot suara parpol lain yang berbasis Islam. Sementara itu, Arif Muzdasir Mandan berpendapat, dukungan bagi partai-partai berbasis Islam merosot antara lain karena faktor hanya terfokus pada basis santri. Dia mencontohkan, PKB menang di Jatim, lalu PPP dan PKS masuk ke kampus-kampus. Namun partai-partai itu tidak banyak menyentuh kalangan priayi dan abangan yang jumlahnya juga besar. ''Mitosnya kan puji-pujian kumpulana kanca sing soleh.'' Karena itu, lanjut dia, mestinya isu-isu dan program sekarang semestinya dibawa ke bawah, ke desa-desa. Menurutnya, kekuatan keislaman 80 % dari desa. ''Kalau di Jakarta hanya retorika-retorika, dishooting televisi, dan masyarakat sudah tahu itu sekarang,'' dalihnya.(D11-78m) | ||||