| Senin, 28 Februari 2005 | NASIONAL |
WNI yang Ditangkap di FilipinaKeluarga Faiz : Adik Kami Bukan TerorisBERITA tertangkapnya WNI di Filipina mengguncang Klaten. Salah satu dari WNI yang tertangkap itu yakni Muhammad Syaifuddin berasal dari Klaten. Keluarganya yang menetap di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten sedih mendengar berita itu. Tapi mereka tetap yakin saudara mereka tak bersalah, apalagi terkait dengan teroris. Dr Mu'inuddin, kakaknya yang mewakili pihak keluarga menyatakan bahwa salah satu adik lelakinya Muhammad Syaifuddin yang ditangkap oleh Pemerintah Filipina beberapa waktu lalu, sama sekali tidak terkait dengan kegiatan terorisme. Muhammad Syaifuddin atau yang akrab disapa Faiz disebutkan berada di Filipina murni untuk berdakwah. Dakwah yang dijalankan Faiz adalah mengajarkan ilmu yang dimilikinya di berbagai sekolah atau madrasah di Filipina. ''Saya dan juga keluarga sangat yakin keberadaan adik saya di Filipina dalam rangka dakwah. Pengertian dakwah ini sangat luas. Dan dakwah yang dilakukan adik saya tidak jauh-jauh dari ilmu yang dimilikinya yaitu mengajar di sekolah-sekolah,'' kata Mu'inuddin kepada Suara Merdeka, Minggu (27/2). Seperti diberitakan, dua WNI Mohammad Yusop Karim Faiz alias Muhammad Syaifuddin dan Mohammad Natsir Hamid ditangkap Pemerintah Filipina. Keduanya ditangkap dengan sangkaan terlibat rangkaian rencana terorisme. Ditanya kapan terakhir kali kontak dengan Faiz, Mu'inuddin yang akrab disapa Mu'in mengaku tidak ingat dengan pasti tapi diperkirakan sekitar 2002. Faiz menelepon dirinya untuk pamit berdakwah. Namun, Mu'in tidak tahu ke mana tujuan dakwah Faiz. ''Saya tidak ingat dengan pasti kapan terakhir kontak dengan Faiz. Mungkin sekitar 2002 lalu. Adik saya pamit mau dakwah. Itu saja,'' ujarnya. Mu'in mengatakan bahwa penangkapan terhadap adik lelakinya nomor 6 itu tidak terkait dengan masalah yang serius. Dia sangat yakin bahwa Faiz tidak ada kaitannya dengan terorisme seperti yang dikabarkan. Kalaupun ada persoalan, mungkin saja soal administrasi terkait dengan keberadaannya di Filipina. Faiz terlahir kembar pada 1978 dan tinggal di Dukuh Tempursari, Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten. Saudara kembarnya, Muhammad Nuruddin meninggal saat bergabung dengan aktivis Mer-C (Medical Emergency Rescue) di Maluku pada 2001 lalu. ''Adik saya berada di Maluku karena tugas kemanusiaan yaitu bergabung dengan tim kesehatan Mer-C. Ia ditugaskan dari tempat kuliahnya di Jakarta. Jadi tidak benar kalau adik saya itu meninggal karena ikut perang jihad di Maluku,'' kata Mukhlis (30), kakak kandung Faiz dan Nurudin. Mukhlis mengatakan, Nuruddin meninggal saat melakukan tugas kemanusiaan di sebuah desa di Maluku. Saat itu, tim kesehatan Nurudin tengah memberikan pertolongan medis kepada korban pertikaian berbau SARA di sana. Saat itulah, tim kesehatan yang tak bersenjata itu diserang sekelompok orang yang diduga kuat dari kelompok Republik Maluku Selatan (RMS). Sama seperti kakaknya Mu'in, Mukhlis sangat yakin kalau kasus yang menimpa Faiz murni persoalan imigrasi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kegiatan terorisme. kMukhlis mengaku bisa seyakin itu karena dirinya tumbuh bersama sejak kecil dengan kedua adik kembarnya itu. Jadi dia mengaku tahu betul tabiat keduanya. Hampir semua saudaranya menghabiskan masa pendidikan dasar di kampung kelahirannya di Tempursari. Faiz meneruskan pendidikan SMP Muallimin di lingkungan Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo. Masa pendidikan SMA dihabiskan di Jatibarang, Jawa Barat. Faiz mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Ibnu Saud di Arab Saudi pada 2001. Mukhlis mengaku sangat terkesan dengan kedua adik kembarnya itu karena sangat cerdas dan selalu mendapat rangking di sekolah. Bahkan saat mondok di Ngruki, keduanya berhasil menghafal Alquran 30 Juz. ''Dia sempat menelepon ke rumah dari Kedutaan Besar Indonesia di Filipina, tak lama setelah ditangkap sekitar Desember 2004. Saat itu, dia mengabarkan kalau ditangkap karena masalah keimigrasian,'' ujarnya.(F5-78m) |