| Senin, 28 Februari 2005 | NASIONAL |
Menjelang Hukuman Cambuk di Malaysia (1)Budak-budak Indon yang Didewakan
Selama seminggu wartawan Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo, berada di Kuala Lumpur, Malaysia, dan menyerap berbagai reaksi terhadap nasib orang-orang Indonesia di negara itu, menyusul pemberlakuan hukum cambuk (sebat) pada para pekerja ilegal. Apakah semua pekerja Indonesia akan merasakan hukum cambuk? Apakah justru ada tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sangat dihormati? Berikut dua seri pemaparannya mengenai persoalan tersebut. JANGAN kaget jika di tengah ketidakmenentuan nasib 800.000 pekerja ilegal, Anda bertemu dengan budak-budak Indon yang sangat dihormati oleh orang-orang Malaysia. Meskipun budak-budak Indon -sebutan hinaan utuk orang-orang Indonesia- setiap gerak mereka menjadi model, pikiran-pikiran mereka dianut, dan nyaris sosoknya dianggap sebagai dewa. Jika tak percaya, bertanyalah kepada perupa Arahmaiani. Perempuan asal Bandung yang kini tinggal di Rumah Residensi Seni Rimbun Dahan, Jalan Kuang, Kuang, Selangor itu jelas-jelas menjadi inspirator bagi salah satu kelompok gerakan perempuan di Malaysia. "Kata-kata saya seakan-akan menjadi fatwa. Gerakan keperempuanan Indonesia yang saya ceritakan kepada mereka dijadikan model," jelas perempuan yang kini menjadi konsultan gerakan reformasi perempuan Malaysia bernama Sister in Islam itu. Sebenarnya, untuk ukuran Indonesia apa yang dilakukan Arahmaiani biasa-biasa saja. Setiap hari dia membaca buku-buku yang berkaitan dengan "tubuh sosial", berenang, melukis, dan sesekali menari. Setelah itu, dalam waktu-waktu tertentu, dia bergaul dengan para seniman Malaysia, melibatkan diri dalam gerakan para perempuan, dan melakukan berbagai pertunjukan. Akan tetapi, karena yang dipertunjukan oleh "perupa politis" yang satu ini bukan pergelaran biasa, ledakan pengaruhnya diserap secara intens oleh para aktivis muda. "Ya, mereka kaget saat saya menggunakan tubuh saya sebagai sebuah media untuk menghasilkan karya seni rupa. Mereka terkejut saat saya minta melukis tubuh saya," ungkap perempuan yang kini didukung Gothe Institute untuk meneliti benturan antara Barat dan Islam di Malaysia itu. Cukup lama Arahmaiani menjelaskan kepada publik mengapa dia melakukan "pertunjukan tubuh". Perlakukan pemerintah atas tubuh (perempuan) adalah representasi penindasan kekuasaan kepada sesuatu yang dianggap lemah. Di Malaysia, tubuh perempuan dibungkus rapat-rapat dan cenderung dimarginalkan di ruang domestik. Akibatnya, feminisme tak berkembang, para pria memandang dengan sebelah mata setiap aktivitas perempuan, dan bias gender merajalela di berbagai ruang. "Nah, belajar dari saya yang lakukan di sini - membebaskan tubuh dari penjara ideologi pemerintah- Sister in Islam bergerak menyebarkan virus pembaruan. Maka jangan heran, jika di kalangan perempuan aktivis itu, saya dianggap seperti cahaya yang bakal membawa para perempuan menemukan kesejatian dirinya." Cahaya Tak hanya menjadi inspirasi bagi gerakan feminisme, Arahmaiani kini sedang melobi para seniman dan aktivis untuk menolak hukum sebat (cambukan). "Sangat absurd jika pada zaman modern seperti sekarang ini, tubuh manusia masih diperlakukan sebagai tubuh binatang. Karena itu, para aktivis muda Malaysia melakukan demonstrasi menolak hukuman cambuk," kata Arahmaiani. Nama lain yang juga dihormati di Malaysia adalah Bebek Taring Padi. Bebek yang saat ini menjadi konsultan anak-anak muda dalam bidang "pemberdayaan seni dan gerakan politik" belum lama ini juga menggelar pertunjukan bernuansa politis di hadapan anak-anak muda. "Semula mereka menyangka kegiatan seni tak bisa digunakan untuk melakukan reformasi. Setelah berkali-kali dalam berbagai pertunjukan yang saya gelar di Kuala Lumpur, saya bisa mengawinkan antara politik dan seni, akhirnya mereka terpengaruh." Kata Bebek, sangat sulit memberikan paradigma gerakan politik baru kepada anak-anak muda Malaysia. Politik, menurut orang-orang Malaysia tak mungkin disatukan dengan seni. Seni dianggap hanya sebagai hiburan, sehingga pendayagunaan seni untuk berbagai urusan politik dianggap sebagai sesuatu yang tak lazim. "Menembus persepsi yang keliru terhadap seni itulah yang saya lakukan di Malaysia. Hasilnya belum terlalu tampak. Namun, ada kegairahan anak-anak muda untuk melakukan pembaruan." Bagaimana menggambarkan peran Bebek bagi aktivis Malaysia? Tak berbeda jauh dari Arahmaiani, pria yang lebih sering berkesenian dalam bidang desain visual itu, lebih tampak sebagai "guru" ketimbang seniman yang aktif melakukan pertunjukan. Dan karena sebagai seseorang yang lebih mirip sebagai guru, Bebek memang berusaha memindahkan model reformasi ala Indonesia -yang memungkinkan kesenian sebagai salah satu pilar kekuatan- ke dalam perilaku politik anak muda Malaysia. "Dewa" lain yang sangat dipuja adalah Prof Dr Tjejep Rohendi Rohidi. Pengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris, Tanjong Malim, itu bukan hanya dihormati oleh para mahasiswa, tetapi juga dianggap sebagai pencerah masyarakat Malaysia, terutama dalam bidang pendidikan seni. "Di sini, tak banyak yang memiliki kecakapan seperti yang dimiliki Prof Tjetjep. Karena itu, kedatangan beliau sangat berfaedah bagi perkembangan pendidikan seni," kata Halim, warga Malaysia yang menjadi teman sekerja mantan dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unnes itu. Prof Tjejep menggambarkan perannya lebih sebagai perubah paradigma akademik (akademisasi). "Saya harus mengubah cara berpikir orang Malaysia yang selalu hanya praktis-praktisan ke hal-hal yang lebih teoritik. Dan ini tak mudah. Memberikan perbedaan antara konsep, data, dan fakta saja sulitnya setengah mati." Meski demikian, Tjetjep tak mau mundur. Dengan mencoba menerjemahkan buku-buku dan gagasan-gagasannya ke dalam bahasa Melayu, pria yang masih aktif melukis ini bersama para dosen setempat membangun cara baru memahami pendidikan dan pengkajian seni. Bahkan tak tanggung-tanggung, kini dia dipercaya meneliti identitas visual kesenian dan kebudayaan Malaysia. "Ternyata banyak kesenian yang berakar dari kesenian orang Jawa. Bahkan ada semacam kesenian jaran kepang yang salah satu pelopornya bernama Mbah Kliwon. Ini mencengangkan dan membahagiakan saya. Tercengang karena kebudayaan Indonesia menjadi akar. Bahagia karena saya dipercaya meneliti sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan Malaysia. Karena itu, saya ini Indon terhormat,'' kata Tjetjep setengah bercanda. (33m) | ||||