| Senin, 28 Februari 2005 | SEMARANG |
Mengenali Laut dengan AkuariumBOCAH itu tiba-tiba saja limbung ke depan. Dia berdiri persis sekitar tiga sentimeter dari kaca akuarium. Di dalam kotak ikan itu, miniatur laut dalam terlihat jelas. Ikan clonfis, atau acap disebut nemo, berenang hilir mudik. Belasan ikan lainnya mengipat-kipatkan ekornya yang warna-warni. Sama seperti kipat manja ikan-ikan itu, gerak bola mata si bocah juga terlihat lincah. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, mengikuti irama slow motion (gerak lambat-Red) si ikan zebra. Sewaktu si lurik hitam putih itu mendekat ke balik kaca, moncongnya dimonyongkan ke arah dia. Mungkin karena geli melihat mulut si ikan yang membulat seperti huruf O, bocah itu pun tertawa lepas. Bukan main girangnya dia, begitu tahu di sudut atas akuarium seekor kuda laut mungil bercenung. "Ma, Ma, kalau itu namanya kuda laut. Kepalanya kayak kuda kan Ma," teriak bocah yang usianya sekitar 6 tahun di Pameran Ikan Java Mall, kemarin. Belum berhenti di situ, tangan mungilnya menarik bocah lain yang lebih besar di sampingnya. "Nah, kalau itu namanya capungan Mas," terang dia pada kakaknya. Laiknya seorang guru, dia terus saja menyebut beberapa nama ikan yang dia kenal. Sesekali, penjelasan lugunya terdengar sedikit berteori ala kanak-kanak. "Wah, kalau beli itu ndak bisa dikasih air biasa. Harus mbuat laut kecil, ya Ma," tukasnya menunggu pembenaran sang ibu. Pecinta ikan sudah pasti mengenal letter 6, capungan, zebra, blue defil dan blue star. Jenis ikan itu berhabitat di air laut. Menurut Agus Subagyo, pemilik stan Triple P Aquarium, kebanyakan spesies ikan diambil dari perairan di Banyuwangi dan Karimunjawa. Karena asalnya dari air berkadar garam tinggi, setting akuarium yang ditonjolkan pun mirip laut. (Renjani PS-91) |