logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Februari 2005 INTERNASIONAL
Line

Iran-Rusia Tandatangani Kesepakatan Reaktor Nuklir

BUSHEHR - Setelah sempat tertunda sehari, Rusia dan Iran, Minggu kemarin, menandatangani kesepakatan yang akan mengirim bahan bakar nuklir ke negara Timur Tengah itu untuk memulai reaktor pertamanya.

Proyek nuklir tersebut telah bertahun-tahun didesak oleh AS untuk dihentikan, lantaran Washington menduga Teheran mencoba membuat bom nuklir.

Wakil Presiden Iran Gholamreza Aghazadeh dan Kepala Badan Tenaga Atom Rusia Alexander Rumyantsev menandatangani kesepakatan itu di fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr, Iran.

Penandatanganan tersebut, yang tertunda sehari, dilakukan setelah keduanya mengunjungi kompleks nuklir yang menelan biaya 800 juta dolar AS (sekitar Rp 7,3 triliun).

"Hari ini, perkembangan yang sangat penting telah terjadi. Ini merupakan protokol tentang pengembalian uranium bekas, yang kami tandatangani bersama. Dalam beberapa pekan lagi, banyak teknisi Rusia akan tiba di Bushehr untuk menyelesaikan PLTN ini," kata Rumyantsev setelah penandatanganan.

Kedua pejabat itu menolak membahas secara terperinci pengiriman uranium yang diperkaya ke Iran dan pengembalian uranium yang telah dipakai ke Rusia. Namun keduanya bersikukuh, kesepakatan itu sesuai dengan peraturan nuklir internasional.

"Iran memperhatikan semua peraturan tentang larangan penyebaran senjata nuklir," kata Rumyantsev.

Perincian Pengiriman

Rusia, yang membantu Iran membangun PLTN itu, sepakat untuk memberikan uranium yang diperkaya guna menjalankan reaktor tersebut. Namun, Iran harus mengembalikan bahan bakar nuklir yang telah dipakai tersebut untuk mencegah kemungkinan Teheran menapis uranium guna membuat bom atom.

Teheran setuju untuk mengembalikan plutonium tersebut, tetapi kedua belah pihak belum sepakat mengenai siapa yang harus menanggung biaya pengembalian itu.

Kedua pihak kemarin menyatakan telah menyepakati perincian pengiriman uranium tersebut. Namun mereka mengatakan bahwa waktu dan biaya pengiriman (termasuk siapa yang harus membiayai) dirahasiakan.

Penandatanganan kesepakatan itu dilakukan beberapa hari setelah pertemuan antara Presiden AS George W Bush dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Slowakia. Dalam KTT itu, Bush mengungkapkan keprihatinannya atas dukungan Rusia terhadap program nuklir Iran.

Washington menuduh Teheran secara diam-diam mencoba membuat bom nuklir. Iran membantah tuduhan itu. Putin mengatakan, dia yakin Iran hanya ingin membangun PLTN, tidak akan membuat senjata. Itulah sebabnya, kerja sama Rusia dengan Iran dilanjutkan.

Belum jelas apakah KTT Bush-Putin Kamis lalu telah menunda penandatangan kesepakatan tersebut, yang semula dijadwalkan Sabtu lalu.

Namun Mohammad Saeedi, wakil kepala Badan Tenaga Atom Iran mengatakan: "Perundingan Bush-Putin tidak berpengaruh pada kesepakatan tersebut. Pembicaraan kami dengan Rusia telah mencapai kata sepakat."

Penyimpanan Uranium

Menjelang penandatanganan, Aghazadeh menunjukkan kepada Rumyantsev gudang penyimpanan uranium yang diperkaya di Bushehr dan inti reaktornya. Diperkirakan, reaktor itu beroperasi akhir 2005 atau awal 2006.

"Saya melihat fasilitas yang jauh lebih baik daripada yang saya perkirakan. Kegiatan perakitan telah diselesaikan tiga sampai empat bulan lalu," kata Rumyantsev. Dia mengacu pada proses penyelesaian pembangunan PLTN tersebut.

Dia menambahkan, "Saya kira, kondisinya bukan sekadar baik, tetapi luar biasa baik."

Aghazadeh mengatakan, fasilitas penyimpanan uranium tersebut dibangun berdasarkan standar internasional. "Fasilitas penyimpanan ini siap untuk menampung bahan bakar nuklir," katanya.

Upaya-upaya Iran untuk memproduksi bahan bakar sendiri, bukan mengimpor, telah menimbulkan keprihatinan luas masyarakat internasional. Sebab, proses pengayaan uranium dapat dimanfaatkan untuk memproduksi materi senjata nuklir.

Prancis, Inggris, dan Jerman mencoba menagih komitmen Iran untuk membatalkan rencana pengayaan uranium. Sebagai imbalannya, Teheran bakal mendapat bantuan ekonomi, dukungan teknis, dan sokongan bagi upaya-upaya Iran bergabung dalam arus utama internasional.

Iran telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama perundingan dengan tiga negara Eropa itu. Kedua pihak menyatakan sulit mencapai kesepakatan, tetapi mereka bersikeras bahwa pembekuan aktivitas pengayaan uranium itu bakal segera dilaksanakan.

Bush mendukung upaya-upaya Eropa itu. Namun, Washington tampaknya akan mencoba meningkatkan tekanan terhadap Teheran, dalam pertemuan Badan Tenaga Atom Internasional Juni mendatang, apabila upaya ketiga negara Eropa itu gagal.(yahoo-ap-ben-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA