| Senin, 28 Februari 2005 | EKONOMI |
Pengusaha Eceran Belum Naikkan HargaSEMARANG-Para pedagang dan pengusaha eceran atau ritel memilih bertahan tidak menaikkan harga meski dalam waktu dekat pemerintah berencana mengumumkan kenaikan harga BBM. Alasannya khawatir produknya sulit terjual karena pada saat bersamaan beban masyarakat juga bertambah. ''Pertimbangan daya beli menjadi faktor utama mengapa kami belum menaikkan harga. Kami khawatir jika harga dinaikkan maka malah tidak laku,'' kata Budi Santoso, pemilik Toko Multi M di Jalan Ngaliyan-Boja, Semarang, kemarin. Hingga beberapa bulan ke depan, pihaknya belum memiliki rencana menaikkan harga barang. Selain pembeliannya dengan harga lama, persentase kenaikkan harga BBM belum jelas. ''Kalau kami membeli dengan harga lama, maka menjual ke konsumen pun dengan harga lama,'' tutur Budi. Dia menilai para pedagang dan pengusaha ritel atau eceran sudah terbiasa menghadapi dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, rekening telepon, serta komponen biaya produksi lainnya. Walaupun mungkin agak terkejut oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, kata dia, mereka sudah menyiapkan cara tertentu untuk menyiasati, termasuk efisiensi di berbagai bidang. ''Para pengusaha ritel memang bersikap menunggu dalam hal kenaikan harga barang, karena usaha itu hanya bersifat sebagai penyedia tempat untuk memasarkan hasil produksi pabrikan, baik lokal maupun impor,'' jelasnya. Tak Dapat Sepihak Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jateng Budi Handojo mengatakan meski efisiensi mutlak dilakukan, peritel tidak dapat secara sepihak menaikkan harga barang melebihi patokan yang ditetapkan pabrikan. ''Peritel tidak bisa seenak sendiri menaikkan harga jual kalau tidak ingin ditinggal para pelanggannya,'' tegasnya. Pertimbangan lainnya, lanjut dia, adalah persaingan bisnis ritel saat ini yang sangat ketat. Mereka bersaing menggarap pasar dan membangun loyalitas konsumen. Dalam situasi tersebut, tutur dia, pengusaha ritel dituntut cermat dan penuh pertimbangan dalam menyikapi situasi yang berkembang dan lebih berkualitas dalam melayani pelanggannya. ''Konsumen sekarang mempunyai pilihan yang sangat lebar untuk menentukan tempat berbelanja,'' ujarnya. Pemilik Swalayan Bali itu mengakui keputusan tidak menaikkan harga berdampak pada margin keuntungan yang berkurang. Kenaikan harga BBM akan menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Namun diyakini dampak itu tidak akan berlangsung lama setelah masyarakat mampu melakukan penyesuaian. (G2-53) |