| Senin, 28 Februari 2005 | EKONOMI |
Kegembiraan dan Kekecewaan PasarISU kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan informasi yang dirasa sangat tajam oleh para pelaku pasar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sejalan dengan pernyataan Marston (1996), suatu informasi dapat dilihat dari kualitas informasi yang terkait erat dengan muatan yang terkandung dalam informasi. Informasi kenaikan harga BBM ditangkap oleh para pelaku pasar mengandung muatan dengan dampak sangat luas. Pada hari bursa akhir pekan lalu informasi yang menyebutkan kenaikan harga BBM cenderung ditetapkan 1 Maret membuat para pelaku pasar diliputi kegamangan. Keadaan bursa lebih diwarnai oleh aksi jual yang mengakibatkan kinerja bursa menurun. Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun dari posisi 1.102 ke 1.083 atau turun 1,7%. Keadaan tersebut berlawanan dengan situasi menjelang pertengahan bulan saat pelaku pasar menghadapi isu kenaikan harga BBM. Sewaktu terbetik informasi kenaikan akan dilakukan sebelum 15 April, pelaku pasar menanggapi secara positif dan IHSG naik sangat signifikan. Sebulan terakhir telah dijumpai beberapa informasi yang menggembirakan dan informasi yang kemunculannya signifikan berpengaruh terhadap perkembangan bursa. Pertama, dari faktor ekonomi global kenaikan bursa regional khususnya Hang Seng di Hong Kong dan Nikkei di Jepang berpengaruh positif signifikan pada BEJ. Melalui analisis regresi perkembangan di bursa Hang Seng diketahui lebih dapat menjelaskan dan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan di BEJ. Kedua, dari faktor ekonomi global berupa pernyataan Indonesia telah bebas dari daftar hitam masalah pencucian uang juga merupakan faktor positif. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang-sidang Financial Action Task Force (FATF) di Paris dan berdampak pada peningkatan kepercayaan dari lembaga-lembaga ekonomi internasional terhadap investasi di Indonesia. Ketiga, faktor ekonomi nasional diwarnai oleh informasi laporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan periode 2004 yang membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sangat menggembirakan kenaikan kinerja keuangan emiten tersebut terutama diawali oleh sektor underlying, yaitu perbankan. Perbankan merupakan perusahaan yang paling tertib dalam menyajikan laporan keuangan secara cepat dan akurat. Laba bersih Bank Internasional Indonesia (BNII) mengalami pertumbuhan paling tinggi dari laba bersih Rp 309 miliar menjadi Rp 822 miliar atau naik 66%. Di urutan kedua Bank Danamon (BDMN) mencatatkan kenaikan laba bersih dari Rp 1,529 triliun menjadi Rp 2,408 triliun atau naik 57,4%. Ketiga, Bank Niaga (BNGA) laba bersihnya naik dari Rp 467,3 miliar menjadi Rp 660,3 miliar atau meningkat 41,3%. Menopang Perkembangan kinerja perbankan sebagai sektor underlying mempunyai pengaruh signifikan dalam menopang perkembangan sektor industri, perdagangan, properti, dan sektor lainnya. Dengan demikian laporan keuangan sektor perbankan yang menunjukkan perbaikan merupakan sinyal membaik kinerja sektor lain. Kenaikan harga BBM mengkhawatirkan para pelaku pasar, terutama karena ada kecenderungan dampak ganda dalam jangka pendek terhadap aspek ekonomi serta aspek sosial politik. Kenaikan itu mempunyai pengaruh secara langsung serta tidak langsng terhadap kinerja perusahaan. Secara langsung menyebabkan kenaikan harga, termasuk bahan produksi. Kenaikan biaya produksi akan menyebabkan margin laba perusahaan berkurang. Penurunan margin laba melemahkan harga saham di bursa. Pemerintah berharap kenaikan harga BBM dapat memberikan realokasi subsidi untuk penggunaan yang lebih baik, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. Investasi di kedua sektor itu merupakan investasi pada aspek sumber daya manusia (SDM). Kemanfaatannya sangat penting, namun hasilnya lebih bersifat tidak langsung dan dalam jangka panjang. Meskipun demikian pemerintah juga mengakui dan menyadari dampak kenaikan harga BBM akan terjadi kenaikan harga secara umum atau peningkatan inflasi. Mempertimbangkan faktor lain berupa informasi positif terhadap bursa tersebut di atas, para pelaku pasar di bursa tidak perlu terlalu kecewa atas kenaikan harga BBM. Kenaikan kinerja keuangan perusahaan yang signifikan terjadi pada 2004 cenderung dapat menopang pengurangan kinerja tahun ini. Seberapa besar faktor positif lebih besar dari dampak negatif atas kenaikan harga BBM akan bergantung pada faktor prasyarat yang dikendalikan oleh pemerintah. Faktor prasyarat atau faktor kritis yang bersifat ekonomi dari kenaikan harga BBM berupa pengendalian kenaikan inflasi, kemelemahan kurs rupiah, dan kenaikan suku bunga. Pengendalian terhadap faktor sosial politik juga merupakan faktor kritis dari kenaikan harga BBM. Kenyataan menunjukkan keberhasilan kinerja ekonomi 2004 lebih banyak ditopang oleh kinerja aspek sosial politik. Pengendalian terhadap faktor kritis tersebut merupakan prasyarat yang bersifat mutlak. Mengantisipasi faktor kritis pemerintah perlu lebih meningkatkan perhatian pada pengembangan pasar modal. Jika prasyarat tersebut terpenuhi maka para pelaku pasar di bursa tidak terlalu kecewa dan tetap tegar di bursa sepanjang 2005.(Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program MM Undip-53) |