logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Februari 2005 EKONOMI
Line

Pembenahan Manajemen Dongkrak Penjualan Daihatsu

JAKARTA-Pembenahan yang dilakukan manajemen PT Astra Daihatsu Motor berhasil mengubah cara kerja karyawannya dan berdampak pada pengurangan keluhan pelanggan.

''Hal itu pula yang kami yakini ikut mendongkrak penjualan minibus Zebra pada 2003 dan 2004 lalu,'' tutur Ronny Ramli, Head National Operational PT Astra Daihatsu Motor dalam sebuah diskusi manajemen di Jakarta, Sabtu lalu.

Sebelum melakukan pembenahan manajemen pada 2001, lanjut dia, produk-produk perusahaannya dianggap kurang kompetitif.

Salah satunya lantaran belum bisa mengelola stok kendaraan yang sudah diproduksi, sehingga pasar pun kurang merespons.

''Misalnya jika perusahaan menargetkan penjulan 5.000 unit per bulan, maka hanya 3.000 unit mobil yang terserap pasar. Kalau sekarang tidak lagi. Target selalu tercapai karena langkah-langkah yang diambil manajemen sudah jelas dan hasilnya cukup baik,'' tuturnya.

Totok Triyono, head customer care menambahkan pembenahan manajemen yang kemudian dilakukan ternyata sangat berpengaruh terhadap cara kerja para karyawan.

Produk dapat diperbaiki dan perusahaan mampu memberikan komitmen bahwa kesalahan produk langsung di-cover.

''Terbukti sampai sekarang tidak ada keluhan dari konsumen mengenai mobil Zebra yang mogok lantaran banjir,'' jelasnya.

Diperbaiki

Menurut dia, saat ini sudah di-improve (diperbaiki) sehingga mobil-mobil keluaran Daihatsu tidak mogok jika banjir. Ada perbaikan pada mesin dan posisi piston. Jika timingbelt putus maka tidak berdampak pada komponen lain serta tidak perlu turun mesin.

Totok mengakui perbaikan produk dari segi teknis menang tidak mudah. Namun agar pelanggan percaya, pihaknya dituntut melakukan perubahan desain mesin.

Ia menambahkan semula perusahaan mempunyai problem di bidang sumber daya manusia (SDM).

Untuk mengembangkan SDM yang memiliki kompetensi dilakukan berbagai upaya, antara lain pelatihan-pelatihan sesuai dengan bidangnya. Di samping itu, meningkatkan mental mereka.

''Hal itu kami lakukan sejak krisis ekonomi pada akhir 1997 sampai 2000 untuk meningkatkan kompetensi.

Peningkatan motivasi kerja kami pandang penting, tetapi tak kalah penting adalah membangun budaya perusahaan yang lebih baik,'' ujarnya

Dalam membangun budaya perusahaan tersebut, tutur dia, perusahaan mencanangkan agar individu bangga terhadap perusahaan.

Sebelum perusahaan meraih sukses setiap karyawan lebih dulu harus mempunyai motivasi kerja dan rasa bangga terhadap pekerjaan serta perusahaannya.

Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk membangun rasa bangga terhadap perusahaan. Pertama, membangun team work. Kedua, memperkenalkan budaya perusahaan yang baru, misalnya nilai-nilai champion spirit, straight for excellence, team work, dan integritas.

''Ternyata itu sangat bermanfaat dan diperlukan dalam mengatasi tantangan di masa depan,'' tandasnya.(A20-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA