logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 27 Februari 2005 BINCANG BINCANG
Line

Pernah Dilarang Jadi Jurnalis


SM/Sumardi

MELIHAT raut Meutya yang senantiasa ceria saat membawakan "Breaking News!" di Metro TV, tidak diragukan cewek hitam manis kelahiran Mei 1978 ini menyukai profesinya sebagai reporter.

Demikian setia bungsu Nyonya Mety Hafid ini pada profesi, dia rela berpaling dari dunia Teknik Industri yang sudah didalami beberapa tahun saat berkuliah di University of New South Wales (UNSW), Australia.

Kalau dia sudah demikian mantap dengan dunia kewartawanana, tidak demikian dengan orang tuanya. Termasuk almarhum ayahandanya, Hafid, yang telah berpulang setahun lalu. Apalagi setelah pengalaman terakhir yang membawa bungsu dari empat saudara ini disandera pejuang mujahidin di perbatasan Jordania-Bagdad, larangan jadi wartawan akan kian menjadi-jadi.

Sejak kali pertama mendengar Meutya mengatakan ingin bekerja sebagai wartawan, sang ibu sebenarnya sudah kurang berkenan. Namun karena yang bersangkutan sudah sangat menyenangi pekerjaannya, biarpun Nyonya Mety berkali membujuk-bujuk untuk beralih profesi lain, Meutya bergeming.

"Maunya sih melarang. Biar kuliah lagi seperti keinginan bapaknya, atau bekerja sesuai profesinya. Tapi kalau ibu melarang dianya nggak mau, ya susah juga. Nanti malah jadi berantem, ha...ha...," tutur sang ibu yang tersiksa merasakan drama penyekapan Meutya.

Karena itu jika belum berhasil membujuk Meutya, setidak-tidaknya dia berharap agar puterinya itu tidak lagi diberangkatkan meliput di daerah konflik seperti Irak.

Memang, waktu itu, ketika Meutya berpamitan untuk berangkat bersama Budiyanto, segalanya terjadi begitu mendadak. Pukul 16.00 Meutya pulang ke rumah dan menjelaskan kepada ibunya bahwa pukul 22.00 dia sudah harus berangkat ke kantornya di Kedoya untuk kemudian terbang ke Jordania. "Jadi saya nggak sempat berpikir banyak. Hanya langsung bantuin nyiapin barang-barang aja," kata sang ibu sembari berpikir bagaimana sang anak akan hidup di Irak yang merupakan daerah konflik, tempat yang memungkinkan bom meledak di mana saja.

"Jadi kalau misalnya nanti mau disuruh berangkat lagi kalau bisa tawar-menawar dululah."

Meskipun soal profesi keras hati, seperti dituturkan ibunya, masa kecil Meutya bukanlah sosok perempuan yang tomboy. Bahkan dia yang sedari kecil sekolahnya berpindah-pindah mulai dari Malang, Jakarta (SD hingga SMP), Singapura (SMA), hingga selesai kuliah, kesehariannya di rumah adalah anak yang manja kepada ibu dan kakak-kakanya. Apalagi ia adalah anak sulung.

Namun pada masalah pekerjaan, cewek yang bergabung dengan Metro TV sejak berdiri pada 2001, sangat konsisten. "Dia itu kalau sudah diserahin tugas atau pekerjaan akan mengerjakan sebaik dan sebagus mungkin. Kayaknya prinsipnya itu sama dengan prinsip bapaknya," puji sang ibu. (Fauzan Jayadi-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA