logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 26 Februari 2005 SALA
Line

Harga Jagung Rendah, Petani Mengeluh

KARANGANYAR- Sosialisasi tanaman jagung di Indonesia masih rendah, sehingga kesadaran petani untuk menanam jagung juga masih terbatas.

Akibatnya hasil produksi jagung di Indonesia juga rendah. Padahal kebutuhan jagung di Indonesia dan internasional sangat tinggi.

Pada umumnya petani menanam jagung sebatas untuk kebutuhan konsumsi, sedangkan kebutuhan jagung tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga diolah untuk pakan ternak.

''Hasil produksi jagung di Jateng cukup tinggi di Jawa, tetapi masih kalah dari Jatim. Secara nasional kebutuhan jagung di Indonesai masih kurang. Indonesia masih mendatangkan jagung dari luar negeri, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak,'' kata Menteri Pertanian Anton Apriyanto kepada sejumlah wartawan, di sela-sela panen perdana jagung hibrida di Desa Ngunut, Kecamatan Jumantono, Karanganyar.

Anton mengaku departemennya akan meningkatkan sosialisasi penanaman jagung bagi para petani, agar produksi jagung secara nasional nantinya kian bertambah. ''Sebenarnya ini adalah kesempatan para petani untuk meningkatkan pendapatan dengan cara menanam jagung, mumpung kebutuhan jagung di pasaran sangat tinggi,'' tuturnya.

Sementara itu dalam dialog dengan menteri, para petani mengeluhkan bagi hasil antara petani dan mitra. Petani pada awal musim tanam dijanjikan harga jagung Rp 950 per kg oleh mitra, yaitu Akindo Prima Sejahtera.

Rp 450/Kg

Namun, ternyata pada musim panen hanya laku Rp 450. Menurut petani, hal itu jelas tidak adil. Apalagi mereka sudah terikat perjanjian dan tidak bisa menentukan harga sendiri.

Menjawab keluhan soal tidak transparannya bagi hasil antara petani dan mitra, Anton meminta masing-masing meninjau ulang perjanjian tersebut.

Namun Menteri memakluminya, sebab hal itu merupakan kerja sama kali pertama yang dilakukan. Ke depan hal itu perlu diperbaiki. ''Idealnya pola kerja bagi hasil itu 50% : 50%, atau 60% : 40%, atau sesuai dengan kesepakatan bersama.

Harga jagung itu juga diambilkan dari harga maksimal di pasaran. Harga penjualan itu bersih dan sudah dikurangi biaya produksi.''

Bupati Hj Rina Iraini berharap Karanganyar bisa menjadi seperti Provinsi Gorontalo sebagai penghasil jagung cukup besar di Indonesia.

Karena itu, pihaknya kini giat menyosialisasikan penanaman jagung bagi masyarakat. Apalagi menanam jagung tidak perlu lahan khusus yang subur. Seluruh lahan pertanian bisa ditanami.

Di wilayah 4J itu --Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, dan Jatiyoso-- katanya, terdapat sekitar 500 ha lahan yang ditanami jagung yang melibatkan 1.300 kepala keluarga. Karena jagung yang ditanam jenis hibrida, maka hasilnya cukup besar yaitu sekitar 6,7 ton. Kalau ditanami jagung biasa hanya 3,5 ton. ''Secara keseluruhan di Karanganyar terdapat 7.500 ha lahan pertanian yang ditanami jagung,'' kata Rina.(G8-85s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA