BAGIAN KEEMPAT
38
DI TENGAH kemarau panjang, malam tak pernah benar-benar kelam. Sungguh pun tanpa rembulan. Bintang-bintang gegap mengerjap, menjulurkan sulur-sulur cahaya yang kemudian saling sulam menyaring gelap. Angkasa membentang bagai satin tembus pandang, di bawahnya benda-benda mengendap sebagai gumpal-gumpal bayangan. Serupa arsiran tipis arang pada selembar kertas buram.
Angin adalah pengelana jail yang tak letih berkeliaran. Di pantai ia berkesiur di pucuk-pucuk nyiur, lalu bergulir desir di sela butir pasir dan gigir air, mengusik tidur ganggang dan ubur-ubur. Sambil melenggang ke dataran ia sibak-sibak lembar daunan seakan hendak menguak rahasia di baliknya, lantas berlari kian ke mari seperti ada sesuatu yang ia buru.
Ketika dari keremangan dusun mengendap dua sosok bayangan ke arah padang, angin kemarau tahu apa yang mesti ia lakukan. Ia pun berdesir memperpanjang bunyi gesekan sayap-sayap belalang dan gangsir. Hamparan padang terasa lebih hampa. Hanya senyap yang merayap hingga ke celah tanah. Dan manakala dua sosok bayangan itu meletikkan bunga api, dari jauhan tampak bagai kerlip sepasang kunang yang timbul tenggelam ditingkah bayang-bayang daunan, sang api serta merta menyambar dan menyebar bunga api itu ke seluruh rumpun tebu. Api berkobar dan terus menjalar. Angin kemarau bersorak. Daun tebu gemerasak. Berhektar-hektar tebu menjelang tuai di siang hari seketika menjelma ladang api. Ledakan demi ledakan bersahutan, batang-batang tebu meletus sebelum hangus.
Abilawa tergeragap bangun di dipan ruang kerjanya. Nafasnya terengah. Tubuhnya basah. Komputernya masih menyala. Dan ketika ia mengamati sudut kiri bawah monitor kumputer itu, ia tahu hari belum terlalu malam. Ia melangkahi tumpukan buku dan serakan kertas, melangkah ke ruang tengah.
Melewati dapur yang sepi, Abilawa sempat memerhatikan piring-piring yang berjajar miring. Diambilnya sebuah gelas, memenuhinya dengan air dan menenggaknya hingga tuntas.
Di ruang tengah suasana tambah hampa. Pelan-pelan ia buka pintu pintu kamar. Abilawa tidak masuk, hanya melongok. Dari cahaya remang lampu bertudung di sisi ranjang dapat ia saksikan tubuh istrinya, telanjang, memeluk guling.
Abilawa tak mengerti mengapa beberapa tahun belakangan istrinya selalu tidur telanjang. Jakarta memang panas, tapi jika istrinya tidur tanpa busana tentu bukan lantaran ia mengidamkan pendingin ruangan. Abilawa pernah menduga, tindakan itu dilakukan istrinya sebagai protes setelah mengetahui sang suami punya kekasih gelap. Tapi benarkah si istri tahu? Dari mana ia tahu? Siapa yang memberi tahu? Abilawa yakin tak ada yang membocorkan perselingkuhannya. Istrinya bukan tipe perempuan yang suka bergunjing dan tidak gampang percaya pada kabar burung tanpa bukti. Abilawa percaya, pada dasarnya perempuan punya intuisi yang tajam. Jika seorang suami resah, konon sang istri bisa tahu apa yang terjadi di luar rumah.
Abilawa yakin istrinya tahu bahwa ia mencintai perempuan lain. Lalu ia selalu tidur telanjang dengan tujuan agar Abilawa sadar bahwa kemolekan tubuhnya pun tak kalah merangsang. Ketelanjangan itu, pikir Abilawa, juga semacam isyarat bahwa sang istri mau dan mampu melayaninya -apa pun gaya percumbuan yang ia inginkan.
Tapi, ternyata, Abilawa keliru. Suatu malam, ketika istrinya telentang dengan mata terpejam, diam-diam Abilawa pun melolosi pakaiannya sendiri. Lalu dengan amat sangat perlahan ia merangkak ke ranjang. Dalam siraman cahaya temaram, ia pandang bibir istrinya sambil membayangkan kelegitan kue talam. Abilawa ingin menggigit bibir itu, mengunyah-ngunyah dan menelannya. Namun, sebelum ia berhasil menyentuh, sang istri mendorongnya menjauh.
Mengapa? tanya Abilawa.
Aku tak tahan bau mulutmu.
Abilawa diam. Berahinya mendadak luruh. Susut ke seprai yang belum lusuh. Dirasanya udara dalam kamar seketika berubah dingin. Tubuhnya beku. Sendi-sendinya kaku. Lali ia berguling ke samping. Sang istri juga beringsut ke sisi lain. Dan terbentuklah pemandangan ini: Sepasang suami-istri di satu ranjang, keduanya sama-sama telanjang, tapi punggung memunggungi.
Wah, wah! Mestinya kurahasiakan bagian ini. Tapi aku terlanjur bilang bahwa Abilawa punya istri. Yah. Istri khayalan, tentu. Seorang perempuan yang ia nikahi belasan tahun lalu. Selama ini Abilawa memang berusaha menutup-nutupi. Aneh? Bagi Abilawa tidak.
Apakah Abilawa merahasiakan statusnya karena Yustina? Bukan. Abilawa memang mencintai Yustina, tapi bukan berarti ia tak mencintai istrinya. Abilawa punya seribu bual, selaksa dalih gombal, tentang cinta. Dia bilang, cinta adalah makhluk pertama karena Tuhan mencipta makhluk lain dengan cinta. Itu sebabnya semua takluk kepada cinta karena cinta yang tertua. Cinta itu semesta, katanya. Kalau ada yang bilang cinta bisa dibagi, katanya lagi, itu tandanya orang itu tak mengerti. Salah mengartikan kebesaran cinta. Yang bisa dibagi adalah perhatian. Cinta tidak. Semua berada di dalam cinta. Itu pula sebabnya, seseorang bisa sekaligus mencintai banyak orang dalam waktu yang bersamaan.
Kesetiaan? Bagi Abilawa, kesetiaan hanya bersangkut paut dengan tanggung jawab. Cinta memang bisa menumbuhkan tanggung jawab, tapi tanggung jawab tak harus berlandaskan cinta. Kesetiaan yang diartikan sebagai mengabdikan diri kepada hanya seorang sampai mati, bagi Abilawa itu khayal dan sesat. Tidak sesuai akal sehat.