logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 25 Februari 2005 MURIA
Line

Menggali Potensi Kudus sebagai Kota Kretek (1)

''Obat Sesak Napas'' yang Dipuji Sunan

''Kala seda Panembahan Syargi. Ing Kajenar pan anuggal warsa. Purwa sata sawiyose Milaning wong ngaudud'' (Waktu mendiang panembahan meninggal di gedung Kuning. Adalah bersamaan tahunnya dengan munculnya tembakau. Dan setelah itu mulailah orang merokok)

NUKILAN naskah Jawa Babad ing Sangkala atau catatan mengenai kejadian-kejadian penting yang diperingati dalam Candra Sengkala ''Geni Mati Tumibeng Siti'' yang berarti 1601 M (Amien Budiman dan Ong Hok Ham, 1987) atau bertepatan dengan peristiwa gerhana matahari pada 30 Juli 1601 (de Graaf, 1986), seakan menjadi pijakan sejarah awal tentang tembakau di Nusantara.

''Sejarah rokok memang tidak pernah luput dari perhatian orang,'' kata Senior EHS Djarum Djoko Herryanto, memulai ''dongeng'' kreteknya.

Ia melanjutkan, sejarah kemudian juga mencatat penduduk bumi Nusantara, lebih khusus lagi wong Jawa, telah mengenal tembakau sejak terbukanya perdagangan dengan bangsa Portugis dalam kurun waktu 1492-1601.

Menurut Dr De Haen, salah seorang utusan VOC untuk Mataram pada 1662 sampai 1623, Susuhunan Mataram (Sultan Agung) merokok tembakau dengan menggunakan pipa perak selama audiensi dengan para pejabatnya. Sebenarnya hal itu sangat terlarang untuk ditiru bagi pembesar-pembesarnya pada saat audiensi (De Graaf, 1986).

Seiring dengan rentang waktu dan sejarah yang merambat pasti, akhirnya munculah pionir-pionir industri rokok yang akhirnya menepis ketabuan untuk menghisap asap tembakau seperti pada masa kekuasaan raja-raja Jawa waktu itu. Sejarah pula yang akhirnya mencatat seorang bernama Haji Jamahri dari Kudus yang menurut sumber sejarah mempunyai deretan kisah panjang dalam sejarah rokok kretek.

Dikisahkan, sang pioner kebingungan mencari obat untuk penyakit sesak napasnya. Berulang-ulang dia memakai minyak cengkih untuk menghangatkan dadanya dengan mengoleskannya di punggung dan dadanya, namun ternyata hasilnya belum menggembirakan.

Akhirnya, entah mengapa dia mencoba mengunyahnya, dan hasilnya ternyata memberi efek yang luar biasa.

Ia pun lalu mempunyai ide untuk mencampurkan rajangan cengkih dalam rokok yang dihisapnya. Puas dengan hasil uji coba tersebut, ia akhirnya membuat rokok yang diberi rajangan cengkih dan dibungkus dengan klobot (kulit jagung yang dikeringkan).

Masyarakat Kudus yang mulai mengonsumsinya saat itu akhirnya menyebutnya sebagai rokok kretek. Pasalnya, bila dihisap, rokok bercampur cengkih rajangan tersebut akan mengeluarkan bunyi ''kretek-kretek'' yang begitu khas (Amen Budiman dan Ong Hok Ham, 1987).

Meninggalnya Haji Jamahri pada 1890 tidak lantas mematikan embrio idustri rokok di Kudus. Seseorang dengan nama kecil Roesdi yang kemudian dikenal ke seluruh penjuru dunia sebagai Nitisemito, akhirnya meneruskan budaya kretek.

Ia yang lahir di Desa Jagalan (kawasan Kudus Kulon) pada 1874 (Mark Hanusz, 2003), tertarik untuk terjun menekuni bisnis rokok klobot.

Untuk membedakan jenis rokok kretek produksinya, ia menciptakan merek ''Soempil'' kemudian diganti dengan ''Djeroek'', sebelum akhirnya memilih nama ''Bal Tiga'' yang kemudian melegenda itu.

Prestasi yang ditorehkannya mengangkat nama kota kecil di kaki Gunung Muria tersebut sebagai kota penghasil rokok terkemuka.

Tak kalah hebatnya, karena usahanya tersebut, ia dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Sunan Paku Buwono XI (Amen Budiman dan Ong Hok Ham, 1987). Setelah itu, nama Kota Kretek pun melekat pada Kudus.(Anton Wahyu Hartono- 90n)


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA