| Jumat, 25 Februari 2005 | EKONOMI |
Bisnis Properti Berkembang PesatBISNIS properti baik residensial (perumahan) maupun komersial (retail, office, apartment, hotel) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami perkembangan sangat pesat, sebagaimana terlihat dari maraknya pembangunan perumahan, pusat bisnis, dan super mall/plaza dalam dua tahun terakhir. Dalam rilisnya pemimpin BI Yogyakarta, Djarot Sumartono kemarin, mengungkapkan berdasarkan hasil survei harga properti residensial yang dilakukan secara triwulan oleh Kantor Bank Indonesia Yogyakarta, jumlah rumah yang dibangun dan yang dijual menunjukkan kecenderungan meningkat. Fenomena maraknya bisnis properti di DIY tersebut juga tercermin dari kinerja sektor bangunan yang dalam dua tahun terakhir mencatat pertumbuhan tertinggi dibandingkan delapan sektor ekonomi lainnya, yakni masing-masing 10,32% untuk tahun 2003 dan 10,75% untuk tahun 2004 yang dihitung berdasarkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY. Penyaluran kredit perbankan di DIY ke sektor tersebut, terus mengalami peningkatan dari Rp 1,22 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp 1,98 triliun (November 2004) atau naik 65,30%. Selain didukung oleh kondisi DIY yang relatif aman dan nyaman serta predikat Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan wisata, maraknya industri properti di DIY juga disebabkan masih besarnya permintaan. Sedangkan luas wilayah DIY relatif terbatas dan ''potential return'' yang menjanjikan untuk berinvestasi di sektor properti. Didasarkan kondisi tersebut, Kantor Bank Indonesia (KBI) Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan survei industri properti di DIY untuk mencari informasi awal mengenai struktur industri properti di DIY, baik dari sisi penawaran (supply side) maupun dari sisi permintaan (demand side) serta dampaknya terhadap perekonomian. (F1-82) |