logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Februari 2005 INTERNASIONAL
Line

Krisis Politik di Palestina Memburuk, PM Korei Bisa Terguling

RAMALLAH - Parlemen Palestina menangguhkan lagi voting mengenai kabinet baru, Rabu kemarin. Penundaan itu menunjukkan krisis politik semakin buruk.

Sebelumnya, para wakil rakyat pro-reformasi menuntut pemerintahan diisi oleh lebih banyak tokoh reformis. Permintaan lain, sejumlah pengikut setia Yasser Arafat di dalam kabinet harus disingkirkan.

Pertarungan politik telah menimbulkan tekanan yang kian besar terhadap PM Ahmad Korei. Dia harus mengundurkan diri jika tak dapat meraih dukungan parlemen untuk membentuk kabinet baru tersebut.

Krisis itu juga diperumit dengan rencana Presiden Mahmud Abbas untuk merombak Otoritas Palestina.

Selama ini, Otoritas Palestina dituding sebagai sarang koruptor. Perombakan pemerintahan itu juga bertujuan untuk memuluskan proses perdamaian dengan Israel.

Ketua Parlemen Rawhi Fattouh menunda pemungutan suara tersebut sampai Kamis ini. Itu berarti telah terjadi penangguhan voting yang ketiga dalam sepekan terakhir.

Krisis politik tersebut terjadi setelah Korei tidak dapat meraih mayoritas suara, meskipun dia telah menambahkan wajah-wajah baru di dalam komposisi kabinetnya, sebagaimana tuntutan kaum reformis.

Para wakil rakyat dari generasi muda yang pro-reformasi menuntut agar kabinet lebih banyak diisi wajah-wajah baru yang reformis.

Berantas Korupsi

Korei adalah PM yang diangkat oleh Arafat. Dia harus mengundurkan diri jika dia gagal memperoleh persetujuan parleman untuk menyusun kabinet baru.

Kematian Arafat, sebagai ikon nasionalis Palestina, membuat para menteri yang loyal kepadanya makin rentan dengan tekanan dari anggota parlemen yang pro-reformasi. Hal ini mencerminkan rasa frustrasi publik yang makin luas karena praktek korupsi di pemerintahan.

''Masih ada persoalan dengan formasi kabinet baru,'' kata seorang anggota parlemen. Meski demikian, upaya-upaya untuk mencapai kompromi masih berlanjut.

Abbas dan generasi parlemen pro-reformasi dalam gerakan Fatah pimpinannya telah berusaha membujuk Korei agar melibatkan para teknokrat dan pendatang baru.

Terbentuknya pemerintahan baru ini sangat penting bagi Abbas untuk membersihkan tubuh Otoritas Palestina. Dengan pemerintahan baru yang bersih, Abbas dapat menjalin kesepahaman dengan kelompok militan anti-Israel.

Kabinet Korei sebelumnya hanya memiliki empat wajah baru. Akibatnya, anggota menentang keras. Parlemen Palestina berkeinginan memberantas korupsi yang menjadi borok semasa pemerintahan Arafat. (rtr-ben-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA