logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Februari 2005 BANYUMAS
Line

Tiada Penganggur di Pusat Kembang

ASAL mau bekerja pasti bisa memperoleh uang. Bahkan siswa kelas III SD pun sudah bisa mencari uang. Banyak siswa bersekolah di SMP dengan biaya sendiri, tanpa memusingkan orang tua.

Itulah penuturan Sudar Sutiarso (48). Warga Grumbul Karangbatur, Desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, sekitar 2 km sebelum Baturraden, itu adalah Ketua Perkumpulan Pencinta Tanaman Kepodang Mas. Perkumpulan itu beranggota 60 orang petani dan pedagang tanaman hias.

Sekitar 80% warga Grumbul Karangbatur, atau 50% dari seluruh penduduk Desa Karangtengah, memang hidup dengan berjualan tanaman hias. Ada yang membudidayakan tanaman, ada pula yang berjualan keliling.

Lahan yang 20 tahun lalu berupa sawah, kini menjadi pesemaian tanaman hias. ''Dulu bakul kembang kurang dianggap, tetapi saya tidak minder. Sekarang berbeda. Saya 10 tahun dipercaya menjadi ketua sepakbola di kampung yang sering menjadi juara,'' kata Sudar.

Sepuluh Kali Lipat

Dia menuturkan hasil menanam bunga 10 kali lipat dari bertani padi. Menanam padi dengan modal Rp 200.000, setelah tiga bulan lebih hanya mendatangkan hasil Rp 300.000. ''Jika bertanam bunga, dengan modal sama dan dalam waktu sama menghasilkan Rp 1 juta.''

Sebagian besar petani bunga tak memiliki lahan. Mereka mengontrak tanah banda desa di tepi jalan raya Purwokerto-Baturraden. Agar tanaman menarik, petani harus rajin merawat.

Perkumpulan Kepodang Mas berdiri tahun 1991. Saat awal berdiri anggota berkumpul setiap tanggal 2. Saat itulah mereka membahas berbagai hal. Misalnya, menyamakan harga jual tanaman dan arisan. Namun mulai tahun 1998 kegiatan terhenti. Organisasi itu tidak bubar, tetapi tak ada kegiatan.

Meski organisasi vakum kegiatan, persaingan di kalangan petani tetap sehat dan harga tetap bagus. Sebab, wilayah pemasaran mereka sangat luas. Andalan petani bukan dari wisatawan ke Baturraden yang mampir ke pesemaian, melainkan pembangunan taman. Membangun taman di tempat umum atau rumah tinggal mendatangkan banyak uang. ''Satu taman rumah antara Rp 30 juta dan Rp 40 juta, seperti di kompleks Perumahan Permata Hijau.''

Pelancong di Baturraden sudah dilayani oleh pedagang keliling. Ada pula pelancong yang singgah ke Karangbatur, tetapi tak banyak.

Dia mengakui tidak tahu sejak kapan warga desanya menekuni usaha itu. Seingat dia, tahun 1960-1970 rata-rata warga desa berjualan bunga potong, seperti sedap malam, kenikir, dan gladiol.

Dulu hanya warga Karangbatur yang berjualan tanaman hias. Namun kini warga Karangmangu dan Rempoah, Kecamatan Baturraden, juga berjualan kembang.Tanaman yang dijual, kata Sudar, banyak sekali. Mungkin ratusan, mulai dari rumput jepang dan swiss, bermacam mawar, krisan, soka, mumbersia, landep atau kacangan, sampai tanaman pelindung seperti finisium.

Perhatian pemerintah berupa pemberian bantuan modal kurang. ''Namun kami berterima kasih ke Dinas Pariwisata yang mengarahkan agar menata tanaman secara rapi sehingga menarik. Dulu kami asal-asalan,'' kata Sudar. (Budi Hartono-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA