BAGIAN KETIGA
35
SIANG itu air mata sebagian pesakitan akhirnya tumpah ke rerumputan di lapangan Penjara Wirogunan. Air mata yang mendadak ditingkah deru hujan, menderas dan meluas hingga jauh ke luar kota Yogyakarta, seakan hendak mewartakan suka dan duka mereka kepada seluruh penduduk Jawa. Di beberapa daerah kaki-kaki hujan melenggang ringan di pekarangan rumah para keluarga dan kerabat dua puluh satu pesakitan yang dibebaskan, sedangkan di lain bagian hujan hanya berjingkat, langkahnya berat, suaranya terdengar bagai rerintih sedih, mereka membawa kabar duka: sebelas pesakitan, orang-orang yang dianggap punya peran penting dalam Revolusi Tiga Daerah, masih harus meringkuk di Penjara Banteng, pusat Kota Yogayakarta.
***
Penjara Benteng, malam, 30 Desember, di luar penjara hanya riwis hujan dan kesiur angin santer. Soepangat berbaring di lantai selnya, beralaskan selembar tikar pandan. Pandangannya menerawang. Ditembusnya langit-langit yang kusam dan angkuh, ia ikuti kembara pikirannya hingga jauh. Dan tibalah ia pada tanggal yang sama, tepat setahun sebelumnya, ketika disaksikannya seorang bupati jatuh. Sang bupati tak lain adalah dirinya sendiri.
Hari itu, setahun lalu, Tentara Keamanan Rakyat memasuki wilayah kekuasaannya, Pemalang. Dengan perasaan cemas Soepangat lantar melarikan diri ke Banyumas. Ia menyadari, posisinya sebagai bupati berbeda dari dua teman sejawatnya, bupati Tegal, Haji Abu Suja'i maupun bupati Brebes Haji Syatori. Meski ketiganya sama-sama menjabat atas kehendak rakyat, namun perbedaan ideologi dan latar belakang keagamaan telah menempatkan nasib mereka dalam kotak yang berlainan.
Soepangat masih ingat. Saat itu, para Kamijaya bersama Ketua Barisan Pelopor Tagal, Nuh, Amir selaku wakil Pemalang, dan Widarta sebagai utusan Menteri Penerangan di Jakarta; berembuk tentang siapa yang patut menjabat residen Pakalongan. Posisi residen lama, Mr Besar, baru digantikan oleh seorang pejabat sementara.
Sementara mereka menunggu keputusan pemerintah tentang siapa yang dipilih di antara nama-nama yang diusulkan, Angkatan Muda Republik Indonesia cabang Talang, di bawah komando Kutil, telah melakukan langkah sendiri, tanpa menunggu restu dari pemerintah pusat seperti mereka. Hari itu, 8 November, Kutil menjemput Haji Abu Suja'i dan menobatkannya sebagai bupati Tegal.
Langkah Kutil membawa pengaruh besar dalam kancah kepemimpinan daerah lainnya. Saat itu juga, Badan Pekerja Tegal dan Pejabat Residen Pekalongan mendesak Ketua Badan Pekerja Brebes, Kartohargo, agar segera mengganti pangreh praja Brebes demi kelangsungan putaran roda pemerintahan.
Esoknya Kartohargo melakukan rapat singkat bersama para anggota Badan Pekerja Brebes. Dalam rapat itu Kartohargo menandaskan bahwa hanya pemerintah yang sah yang punya wewenang mengangkat jabatan pangreh praja baru. Berkat kuatnya desakan Sayuti Melik yang saat itu menjabat Wakil Gubernur di Semarang, akhirnya Badan Pekerja Brebes akhirnya mengusulkan satu nama. Dan terpilihlah Haji Syatori, seorang tokoh Masyumi.
Beberapa hari kemudian, di tempat persembunyiannya, Soepangat menerima laporan dari seorang anak buahnya yang setia: Setelah tak berhasil menemukan dirinya di rumah maupun di kantor kabupaten, TKR langsung menggerakkan massa Islam untuk melakukan rapat umum di alun-alun Kabupaten Pemalang. Malam itu, rakyat beduyun dari dusun-dusun, membawa obor-obor menyala. Alun-alun yang beberapa saat sebelumnya senyap dicekam ketakutan, saat itu seakan menjelma sebuah pasar raya. Dari jauhan jilatan lidah-lidah api tampak bagai kelimun kunang-kunang. Bila dilihat dari dekat, tampak orang-orang berdesakan, suaranya saling tingkah seperti dengung kawanan lebah. Beberapa orang bergantian pidato di atas panggung darurat, semua menyeru kemuliaan martabat rakyat.
Soepangat ingat, belum genap dua bulan sebelumnya, ia bersama Widarta berpidato di panggung yang sama, bicara kepada rakyat yang sama. Rakyat yang dengan semangat meneriakkan yel-yel dukungan untuk dirinya. Tapi ia tak pernah tahu bahwa saat itu Kutil pun ada di sana, menatapnya dari kejauhan dan hanya diam di kegelapan.
Puncak dari rapat umum itu adalah dilantiknya seorang bupati baru, Kyai Maksum, seorang tokoh Islam nasionalis Pemalang, menggantikan Soepangat.
Pada malam seperti ini, setahun lalu, kekuasaan senjata yang berlindung di balik agama telah abai pada daulat rakyat.
Soepangat tidak heran mengapa semua itu terjadi. Revolusi Tiga Derah yang ia lancarkan bersama kawan-kawan seperjuangan, betapapun dilandasi hasrat merebut dan mewujudkan keadilan, mereka anggap sebagai tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. Pemerintah yang sah? Hah! Sah menurut siapa? Pemerintahan dibentuk sesungguhnya untuk kepentingan siapa? Kenapa kami, yang bergerak membela nasib rakyat, mendapat dukungan rakyat, justru mereka anggap pengkhianat?
Mereka tak ubahnya para pangreh praja bentukan para penguasa lama. Para penguasa asing yang menguasai tanah-tanah rakyat demi kelancaran produksi pabrik gula. Jika kaum penjajah dan antek-anteknya menganggap gerakan kami sebagai pengganggu kelanggengan kekuasaan mereka, pemerintah pusat pun menganggap perjuangan kami revolusi dalam revolusi. Revolusi kami diibaratkan duri dalam gading, pemberontakan lokal yang menodai penjuangan revolusi nasional.
Tak ada bedanya. Mereka sama-sama mengibaratkan gerakan kami sebagai butir pasir dalam gula. Butiran kecil namun keras yang harus disingkirkan, dikikis habis, agar mereka dapat mencecap yang manis-manis. Tanpa penggangu, seperti diriku.
Dan di ruang itulah Soepangat menemukan dirinya kembali. Sebagai sebutir pasir yang tersingkir. Kini ia dengar riwis hujan bulan Desember, ia rasakan jilatan dingin lidah-lidah angin yang mendesau santer. Soepangat menarik ujung sarung, membalut tubuhnya dan mencoba memejamkan mata.