logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 22 Februari 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kaus Kaum Obesitas

Seperti yang sering kita lihat betapa kaum obesitar (over weight/berat berlebih) sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan ukuran baju, kaos atau jaket yang sesuai dengan tubuhnya.

Hal ini karena sangat jarang ada perusahaan garmen yang secara khsus memproduksi untuk kebutuhan mereka. Mungkin alasannya karena jumlah kaum obesitas relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ukuran manusia normal.

Terus terang saya terpanggil untuk memenuhi kebutuhan mereka yang kebetulan memiliki ukuran tubuh super jumbo. Silakan yang merasa kesulitan untuk mendapatkan ukuran baju, kaos atau jaket hubungi saya .

Suprayitno

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Untuk Pak Haryono di PLN Cilacap

Karena pekerjaan, saya lupa membayar listrik rumah yang kebetulan tidak saya tempati. Rumah tersebut dikontrak orang baru seminggu. Atas laporan pengontrak listrik disegel dan dimatikan alirannya karena saya menunggak dua bulan. Kemudian saya ke kantor PLN di Jl Katamso Cilacap.

Pukul 16.00 saya rnenghadap Bpk Haryono dan mengaku salah atas kealpaan membayar listrik. Pak Haryono menjelaskan jumlah tunggakan Rp 29.000. Saya tinggalkan sejumlah uang membayar dan ada sisa untuk ongkos karyawan PLN yang akan menyalakan listrik di rumah saya.

Beliauminta saya esok harinya ke bagian pembayaran untuk mengambil tanda bukti bayar. Tidak sampai setengah jam saya diberitahu pengontrak, bahwa listrik menyala lagi. Esok harinya saya kembali ke kantor PLN untuk mengambil bukti pembayaran. Ternyata saya mendapat uang kembalian lengkap.

Saya berterima kasih atas pelayanan PLN yang demikian cepat dan tidak mengutip uang sepeser pun. Ternyata masih ada orang yang jujur, baik dan suka menolong. Selamat kepada PLN yang telah memiliki karyawan seperti Pak Haryono, bekerja sampai melebihi jam kerja.

Rumi Rachmawati

Jl Trembesi 18 Tritih Kulon, Cilacap

***

Peluh di Bus AC

Beberapa waktu lalu saya dari Pekalongan kembali ke Semarang naik bus Patas Coyo. Siang itu loket penjualan tiket penuh sesak. Beruntung ada kawan yang sudah antre di depan sehingga saya titip untuk membeli tiket. Kami mendapat tiket bus AC yang nyaman.

Begitu naik ke dalam bus semua tempat sudah penuh dan saya mendapat satu tempat kosong di pojok paling belakang. Ketika bus mulai berjalan sinar matahari menembus ke dalam dan yang mengecewakan, gordennya tidak bisa menutupi. Jadilah sepanjang perjalanan Pekalongan - Semarang saya mandi peluh.

Ditambah lagi AC-nya justru mengeluarkan hawa panas. Hanya sesekali mengeluarkan hawa dingin, itu pun dengan kadar yang kecil. Mohon perusahaan mengecek kondisi armadanya sehingga penumpang mendapat kenyamanan yang seharusnya didapatkan. .

Nur Fadhilah

Jl Genuk Krajan V/3, Semarang

***

Asal Bukan Mega

Megawati heran dengan sikap "asal bukan Mega". "Ada suara-suara siapa pun boleh menjadi ketua umum, asalkan bukan Megawati. Kok begitu," kata mantan presiden Megawati Soekarnoputri di sela-sela acara HUT-nya ke-58 di kediaman Jl Teuku Umar, Jakarta beberapa waktu lalu.

Tak heran bila Mbak Mega bertutur kata demikian. Selaku Ketua Umum DPP PDI-P dan mantan presiden, tentunya beliau bertambah kaya dengan pengalaman manis maupun pahit seputar rimba manajemen partai maupun NKRI.

Ke depan, pengalaman manis yang membawa kemaslahatan bagi kader partai dan rakyat banyak tetap terlestarikan. Sebaliknya, segudang pengalaman pahit dalam hal mengelola partai dan NKRI, seyogianya menjadi data yang tak ternilai harganya bagi tindak penyempurnaan.

Untuk ini, profesional sekali jika beliau menyelenggarakan seminar khusus terbatas bagi modal di arena kongres mendatang, mengundang para pakar lintas disiplin ilmu, antara lain dari LIPI.

Di samping itu, rasanya banyak pihak lebih heran dibanding Mbak Mega, yaitu tutur kata Bung Heru Lelono yang terekspose di media massa. Sepertinya, khilaf atau tidak, bung yang satu ini tak mengalkulasi. Bahwa, teramat mudah terbaca orang waras. Dia sebagai kader yang mantan Sekretaris Balitbang PDI-P tentu paham seluk-beluk partai yang membesarkannya, berkarya pada 'top suara struktur politik'.

Di era reformasi, sudah menjadi opini umum, apa pun yang diutarakan selama tersajikan di media sejauh menyangkut 'kongres' dan terkait lainnya, tak lepas dari jabatan sebagai 'staf khusus Presiden SBY', misalnya. Anak-anak baru gede pun kemungkinan paham.

Materi tutur kata yang memasuki wilayah 'pasar' media massa berkisar pada 'kongres' dan terkait lainnya senafas dengan upaya yang berwenang, "Mencampuri urusan dalam negeri dan mengganggu serta mengobrak-abrik organisasi PDI-P".

Hipotesis pertama, "apa yang dikemukakan Mega berkebalikan dengan posisi pemerintah" ala Bung Heru Lelono yang staf khusus Presiden SBY. Kedua, "menyongsong kongres, semakin gencar kampanye, 'asal bukan Mega', semakin ada kecenderungan Mbak Mega terpilih kembali". Kedua hipotesis ini pasti bakal teruji oleh peserta kongres di Bali yang mayoritas dari daerah-daerah.

Sungkowo Sukowera

Jl Rancamanyar l/17, Bandung

***

Langganan Mentari

Saya pengguna kartu Mentari yang 14-15 Januari 2005 saya berkemah ke Kopeng, dekat G Merbabu. Di sana sinyal lemah dan sering hilang. Akibatnya ketika akan membalas SMS, pengiriman gagal. Saya coba menelpon, namun hanya terdengar nada tut-tut-tut dengan tempo cepat (tanda telepon putus).

Ketika saya mengecek pulsa, layar HP hanya muncul tulisan: periksa layanan jaringan. Padahal saat itu kartu masih aktif, pulsa tersedia Rp 22 ribu, sinyal setengah penuh. Saya kecewa karena HP nyaris tak berfungsi padahal jauh dari wartel. Padahal di Semarang sinyal kuat.

Mohon pihak operator memperbaiki layanan agar tidak mengecewakan pelanggan. Karena tarif Mentari yang mahal belum diimbangi dengan layanan yang baik. Apakah arti slogan: ''Lengkap, Melengkapi Hidup" dan "Sinyal Kuat Indosat" yang selama ini dipromosikan.

Siti Novilia I

Malangsari Rt 7/Rw 7 Semarang

***

Layanan RS Mardi Rahayu

Saya kecewa atas pelayanan RS Mardi Rahayu Kudus. Saya pada 16 Januari 2005 s.d 19 Januari 2005, berada di ruang Immanuel kelas VIP 1 RS tersebut dan selarna itu tidak ada dokter khusus yang memeriksa. Setiap saya tanya perawat, jawabannya selalu: "Dokternya belum datang" dan itu sampai hari ke-3.

Di hari ke-4 saya memutuskan pulang meski kondisi belum sembuh. Waktu ada perawat datang dan melihat barang yang sudah saya rapikan, dia bertanya:"Mau pulang Pak?", saya jawab: "Ya". Tiada lama ada dokter datang dan bertanya:."Mau pulang Pak?.

Dokter bertanya lagi: " Bagaimana kalau saya panggilkan dokter spesialis kulit ?". Saya pun ikut bertanya: "Apakah dokternya bisa datang sekarang?", jawabnya bisa. Saya pun menunggu, tapi tidak lama perawat pendamping dokter tadi bilang: " Pak kalau mau pulang sekarang monggo.

Mendengar pernyataan perawat tadi saya kaget, lalu saya bertanya: "Lho kata dokter tadi saya dipanggilkan dokter spesialis kulit". Jawab perawat: "Iya Pak ... tapi datangnya tidak bisa dipastikan".

Saya imbau pihak RS memperbaiki mutu pelayanan. Saya merasa telah dibohongi. Jika memang tidak ada dokter spesialis, kenapa terpampang nama-nama dokter spesialis yang bertugas.

Sumiyadi

Srobyong Rt4/Rw 2 Mlonggo, Jepara


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA