logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Februari 2005 SALA
Line

Bara Besi Keris Itu Dijilat Bupati

KARENA dibakar, besi di perapian baselen (tungku pembuatan keris-Red) itu berubah warna menjadi merah membara. Dengan peralatan tanggem panjang, besi panas yang memerah itu lalu diambil dengan cara dijepit. Mendadak kemudian, benda itu dijilat oleh Bupati Wonogiri, H Begug Poernomosidi SH. Tentu saja, semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut, termasuk empu dan panjak (pembantu empu) mendadak terperangah dan heran.

Kejadian langka itu, terjadi Minggu siang (20/2) di halaman Kantor Bupati. Di sudut timur laut halaman itu, empu keris MNg Agustinus Daliman PR membangun baselen untuk mendemonstrasikan pembuatan keris.

Kebetulan, saat Bupati melihat dari dekat, ia tiba-tiba membuat kejutan dengan menjilat besi panas yang diambil dari pembakaran tungku keris. Setelah menjilat, Bupati minta agar besi itu dibuat menjadi keris Sabuk Inten.

Penjilatan yang dilakukan Bupati itu, diharapkan dapat memberikan tuah dan memperkaya kemunculan pamor yang kelak akan mewarnai dunia perkerisan.

Empu keris Daliman dari Baselen Meteor Sorogenen, Kelurahan Jagalan, Solo, menilai manuver Bupati yang menunjukkan kedigdayaannya itu, merupakan sesuatu yang langka dan tidak dapat ditiru oleh sembarang orang.

''Kalau yang menjilat warok reog dor atau pemain debus, itu wajar-wajar saja. Tapi itu, yang menjilat bara besi panas tersebut adalah Bupati. Kiranya sulit mencari duanya, seorang bupati yang punya keberanian menjilat bara besi panas. Yang saya tahu, itu baru Bupati Wonogiri saja,'' ungkap Daliman.

Sejak Minggu (20/2) sampai dengan Sabtu (26/2) mendatang, empu Daliman yang juga tenaga ahli pembuatan keris di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) itu membuka demo pembuatan keris dan tosan aji di Kantor Bupati.

Keberadaannya untuk melengkapi gelar pameran dan bursa pusaka di pendapa Kabupaten. Dia peduli mendemonstrasikan kemahirannya membuat tosan aji itu, adalah sebagai bentuk kepeduliannya dalam upaya ikut serta melestarikan pembuatan pusaka peninggalan nenek moyang.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Drs Pranoto MM, selaku ketua panitia pameran pusaka bulan Sura tahun Jimakir 1938 (masehi tahun 2005), mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus untuk ikut memeriahkan Gelar Wisata Budaya Bulan Sura Wonogiri (GWBBSW).

''Pameran pusaka itu digelar untuk umum secara gratis,'' tegasnya. Selama pameran pusaka digelar, di pendapa juga diadakan kegiatan demonstrasi pembuatan keris dan tombak oleh Empu MNg Agustinus Daliman.

Lalu ceramah dan praktik penjamasan pusaka oleh Supadmo, dwija (guru) padhuwungan (perkerisan) dari Persatuan Masyarakat Budaya Indonesia (Permadani); serta ceramah memahami karakter pusaka oleh cucu Empu Supo (Sumanto).

Juga diadakan ceramah seni dan supranatural aliran Mudra oleh Mbah Prapto dari Padepokan Lemah Putih. Ceramah tentang mengenal pusaka dari nilai magisnya, dan sekaligus praktik penampakan gaib yang diharapkan dapat disampaikan oleh pakar kejawen Ki Djoko; ceramah meditasi dan yoga oleh meditator Sugeng, dan wawasan supranatural serta pengenalan hari sesirik (jelek) taliwangke-samparwangke oleh Mbah Hadi pakar kejawen yang juga menjabat Kepala Museum Radya Pusataka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Solo.(Bambang Pur-92a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA