logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Februari 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Recovery Mental

Saya merasakan begitu dahsyatnya bencana tsunami yang menimpa NAD dan sekitarnya, hingga sudah sepantasnya kita membantu baik moril maupun spiritual. Namun yang disayangkan kenapa media hanya mengekspos bantuan dari pihak asing. Padahal mereka tidak memberi bantuan akan tetapi pinjaman.

Sebenarnya, setelah tsunami melanda Aceh, elemen Islam dan lainnya langsung terjun membantu para korban. Ini informasi kepada media agar pemberitaan tidak membesar-besarkan pihak asing terutama Amerika yang justru mendaratkan kapal induknya.

Tim kemanusiaan membawa misi recovery mental untuk menyelamatkan anak yatim piatu serta mengecek isu tentang adanya jual beli anak kepada orang asing di tempat itu. Tim menemukan adanya resistensi terhadap kedatangan orang luar.

Tim ini memberikan ceramah untuk membangkitkan para pengungsi agar mereka senantiasa mengingat Allah SWT dan mengajak mereka bangkit kembali dengan kemandirian. Selain itu tim juga membina anak-anak dengan membaca Alquran dan mengaji bersama.

Mereka juga menemukan semangat ukhuwah dan kekeluargaan dari masyarakat Aceh. Mereka memilih menjadi pengasuh anak-anak Aceh sendiri, tidak membiarkannya dibawa keluar daerah. Mereka khawatir anak-anak Aceh dibawa oleh mereka yang berbeda aqidah. Bangkitlah kembali saudaraku di Aceh.

Rohmadi

Jl Peterongan Tmr 346 C, Semarang

***

Pelayanan SIM di Polres Rembang

Tanggal 24 Januari 2005 saya membuat SIM C di Polres Rembang pukul 08.00 WIB. Kebetulan yang artre cuma 3 orang. Untuk membuat SIM C dibutuhkan Rp 160.000. Sesudah mengisi formulir dan memyetorkan uang, petugas menyuruh saya untuk melakukan sidik jari.

Di sini ada oknum yang mencoba rnemasukkan orang lain untuk mempercepat pembuatan SIM orang tersebut. Saya yang antre paling awal merasa kesal bahkan harus rela menunggu selama 4 jam di tempat komputer (untuk foto).

Sedangkan berkas orang yang dibawa oleh oknum tersebut sudah selesai serta mendapatkan SIM. Gara-gara oknum yang tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya, saya dan mungkin banyak lagi orang yang akan membuat SIM serta perpanjangannyak harus mau menunggu Iama.

Waktu itu saya disalip sampai 6 kali. Namun akhirnya saya dapat menyelesaikan pembuatan SIM pada pukul 12.00 WIB. Saya sarankan jika ingin citra Polisi tidak hancur jangan lakukan hal itu lagi karena masyarakat akan menjadi tidak percaya akan kejujuran dari penegak hukum.

Ketimbang dapat uang tambahan sedikit lebih baik menjadi seorang polisi yang jujur yang tidak mau disogok. Kapan ya kita punya polisi seperti itu? Karena akhir-akhir ini culture matters (budaya korupsi) sudah menjalar sampai ke penegak hukum. Mudah-mudahan Indonesia tidak hancur gara-gara korupsi yang membabi buta.

Widy Andrian SW

Mahasiswa Hukum Unnes, Semarang

***

Becak Bermotor

Menanggapi rencana penertiban becak di Kota Semarang (SM 10 Januari 2005), saya ingin urun rembuk juga masalah becak bermotor yang mulai banyak dioperasionalkan di kota ini. Becak bermotor adalah motor yang ditambah karoseri untuk penumpang atau barang

Saat ini kendaraan tersebut sudah banyak dioperasikan, apakah untuk menjajakan makanan/roti, mengangkut barang atau bahkan mengangkut orang seperti angkutan biasa (isi 6 orang). Pernah saya tanya STNK-nya penjual roti dengan menggunakan kendaraan tersebut. Ternyata masih sama dengan STNK motor biasa alias tidak ada perubahan.

Mengingat penggunaan lahan jalannya hampir sama dengan mobil kecil dan keselamatan penumpang perlu diperhatikan maka sebaiknya masalah ini segera mendapat perhatian instansi terkait. Apakah akan dilegalkan atau tidak, jangan sampai dibiarkan tanpa keputusan. Jangan sampai sudah menjamur seperti PKL dan angkutan plat hitam, baru ditertibkan.

Hadi Supeno

Bukit Agung U-21 Sumurboto, Semarang

***

Untuk Percasi dan KONI Kebumen

Percasi Kebumen untuk kali ketiga tidak mengikuti Kejurda Catur, termasuk kejurda yang baru diselenggarakan di Tegal. Dunia catur Kebumen prihatin karena pengurus Percasi dan KONI-nya sama-sama "kompak". Padahal setahu saya anggaran untuk KONI cukup besar.

Tetapi karena kurang transparan atau cara pengeluaran dana masing-masing induk cabang olah raga maka untuk mengirim Kejurda Catur saja tidak mampu. Apa Percasi dianaktirikan atau KONI tidak punya anggaran. Bagaimana pengurus baru dan pengurus Percasi Kebumen yang sudah 15 tahun lebih tidak ada reorganisasi.

Heru Riyanto SIP

Jl Kutoharjo Selang Rt 1/Rw 3, Kebumen

***

Program Tuntas Wajar Dikdas 9 Tahun

Membaca berita 22 Januari 2005 berjudul "Rendah, Akurasi Data Putus Sekolah di Jateng" yang diungkapkan Bpk Drs H Suwilan Wisnu Yuwono MM (Ka Dinas Pendidikan Jateng), saya sebagai mantan Kasi Dikmas ikut prihatin.

Saya pernah mohon penjelasan kepada Bpk Drs H Bambang Santoso MM (Ka Dinas P & K Jepara), tentang program tuntas wajar Dikdas 9 tahun. Beliau menjelaskan evaluasi keberhasilan program ditangani tim perguruan tinggi. Saya percaya dan yakin tim ahli yang handal ini.

Info dari Ka Dinas Pendidikan Jateng, bahwa akurasi data putus sekolah (SD/MI, SMP/TSn) rendah, maka target yang harus dicapai dalam penuntasan program wajar dikdas 9 tahun di Jateng perlu ditinjau kembali. Saya khawatir, akibat data dasar (inpur) yang kurang/tidak akurat, menyebabkan hasilnya (out put) tidak maksimal.

Tanpa mengurangi kepercayaan keberadaan BPS, menurut saya sebaiknya diadakan Sensus Penduduk Berdasarkan Pendidikan yang diselenggarakan Pemda (Dinas P dan K) Kab/Kota masing-masing. Petugasnya bisa dilakukan guru, baik negeri maupun swasta khususnya guru SD/MI. Mengapa saya sarankan guru SD/MI, sebab hampir di setiap desa/kelurahan ada guru sekolah ini.

Memang dalam mengadakan sensus penduduk berdasarkan pendidikan, konsekuensi logisnya Pemerintah mengeluarkan dana cukup besar. Untuk itu saya berpendapat insentif panitia/petugas sensus didanai APBN/APBD Provinsi. Pengadaan blanko/formulir didanai dari APBD Kab/Kota.

Saya kira lebih baik terlambat sedikit (lewat tahun 2006), dari pada dipaksakan namun hasilnya tidak sempurna (semu), karena tidak sesuai dengan ketentuan (kriteria dan tolok ukur yang semestinya).

Maaf usul saya mungkin dianggap ngaya wara karena ini semata-mata hanya berdasarkan praktik dalam menuntaskan B3B di Jepara tahun 1985.

Haryo Soebadi

Jl MH Thamrin Gg Maju I/29 Jepara

***

Korban Tabrak Lari

Pada tanggal 13 Februari 2005 sekitar 11.45 WIB, anak saya pulang dari pengajian di SMP Al Irsyad Purwokerto telah menjadi korban tabrak lari oleh pengendara motor Honda Kharisma R - 65 . . - KA. Peristiwanya di depan kios buah Jl Ov Isdiman Purwokerto.

Pengendaranya sudah diusahakan berhenti oleh Bapak-bapak penarik becak di sekitar itu, namun dia terus lari ke arah utara. Saya imbau mari selesaikan persoalan ini secara kekeluargaan, mengingat korban tangan kanan terkilir, pinggang nyeri dan pusing-pusing serta sepedanya rusak.

Saya tinggal di Perum Pemda Jl Warga Bakti II/40 Purwokerto. Bila Sdr tidak ada penyelesaian maka persoalan ini akan saya serahkan ke pihak yang berwajib.

Supawoko

Jl Warga Bakti II/40 Purwokerto


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA