| Senin, 21 Februari 2005 | SEMARANG |
Mengejar Asa di Bursa KerjaMAHAL memang, harga sebuah pekerjaan di zaman sekarang. Untuk mendapatkannya, orang harus berikhtiar sekuat tenaga dengan berbagai cara, satu di antaranya dengan mengikuti bursa lowongan kerja. Seperti yang terlihat di Gedung Wanita, Jl Sriwijaya Semarang Sabtu-Minggu (19-20/2), tempat digelarnya bursa lowongan kerja oleh Jogja Info Service (JIS) Network. Ribuan pencari kerja datang ke tempat itu dengan pengharapan serupa, beroleh pekerjaan yang diidamkan. Untuk mengejar harapan tersebut, mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam, antre dan berdesak-desakan. Mereka harus mengeluarkan Rp 15.000 untuk membayar tiket masuk. Para pencari kerja itu, laki-laki atau perempuan, lulusan SLTA atau sarjana berbaur menjadi satu, demi sebuah pekerjaan. Tak cuma dari Semarang, mereka banyak pula yang datang dari sejumlah kota di Jateng. Seorang di antaranya adalah Kusnandar (23). Pemuda bertubuh kecil itu rela datang jauh-jauh dari tempat tinggalnya di desa Nglengkir, Bogorejo, Kabupaten Blora. Agar bisa sampai di tempat lokasi pagi-pagi, dia berangkat dari rumah sehari sebelumnya. Sebagai ahli madya teknik elektro, Kusnandar berharap mendapat pekerjaan, sesuai dengan disiplin ilmu yang pernah dia pelajari. Stan demi stan dia singgahi. Kepada para penjaga dia tanyakan lowongan yang dicari. Namun, sepertinya Kusnandar harus legawa menepis harapannya. ''Saya ingin kerja jadi teknisi, tapi di sini tidak ada yang buka. Terus terang, saya kecewa.'' Tak ingin datang sia-sia, lulusan Undip tahun 2004 itu lantas mendaftarkan namanya pada stan bursa kerja karier, milik sebuah majalah info karier. Dengan membayar Rp 20.000, Kusnandar akan mendapat informasi lowongan pekerjaan sesuai bidang yang dikehendaki. Tak Hanya Pengangguran Para pengunjung ternyata tak seluruhnya berstatus pengangguran. Sebagian di antaranya telah bekerja. Ninuk (25) misalnya, saat ini berstatus karyawati sebuah bank swasta di Semarang. ''Saya lihat ada bank bonafide yang buka lowongan. Saya pingin nyoba, siapa tahu nasib lagi mujur, bisa diterima.'' Ninuk tak datang sendirian, beberapa rekan sekantornya juga turut dalam bursa lowongan kerja dan mengirimkan lamaran. Pagi itu mereka janji ketemu di halaman Gedung Wanita. Laiknya pengunjung lain, Ninuk telah menyiapkan berkas lamaran lengkap, dari fotokopi ijazah, transkrip nilai, foto kopi KTP, pas foto daftar riwayat hidup, dan tentu saja surat lamaran. Menurut dia, acara semacam itu harus sering diadakan, sebab banyak orang yang meminatinya. Pertama lantaran pelamar bisa memilih banyak lowongan yang disukai. Kedua bisa langsung bertemu dengan wakil perusahaan, dan terkadang juga langsung wawancara dan presentasi. Namun Ninuk menyayangkan tiket tanda masuk yang terlampau besar, yakni Rp 15.000. Staf Marketing JIS Network Diyah Pujiastuti mengatakan, besarnya tiket masuk ditetapkan berdasarkan pertimbangan banyak pihak. Berbeda dengan acara sebelumnya yang digelar di Yogyakarta beberapa waktu lalu, tiket masuk bursa lowongan kerja di Semarang, 50% lebih mahal. ''Biaya operasional di sini lebih banyak dari Jogja, jadi terpaksa dinaikkan.'' Kegiatan itu diikuti 16 perusahaan, di antaranya HSBC, Merdeka Wirastama, Riwani Globe, Sinar Sosro, Mataram Sakti Motor, Bank Niaga, dan Radar Semarang. Lowongan kerja yang ditawarkan di kebanyakan jenis marketing, account officer, teller, branch manager, dan front office. (Rukardi-91) |