BAGIAN KETIGA
33
KETIKA Kutil akhirnya dipanggil, kegembiraan diam-diam merebak di benak sebagian besar pesakitan yang menunggu kepastian. Bagi mereka, Kutil adalah sebuah kesimpulan final. Mereka tahu Kutil sudah divonis hukuman mati ketika masih mendekam di Penjara Kandang Panjang, Pekalongan. Jika kini dia kembali dipanggil untuk bergabung dalam satu barisan dengan nama-namja yang disebut sebelumnya, itu berarti mereka bukan yang akan dibebaskan.
Kepastian itu sesungguhnya sudah membayang ketika Kepala Penjara menyebut nama Soekirman. Pemimpin Angkatan Muda Republik Indonesia Cabang Slawi, setelah pemeriksaan silang oleh tim pemeriksa, dikukuhkan status hukumnya sebagai tertuduh dan sekitar sebulan kemudian divonis hukuman empat tahun penjara. Namun Soekirman menyatakan naik banding, sehingga keabsahan dan pelaksanaan vonis itu tertunda. Tafsiran mereka, bukan tidak mungkin dalam proses banding itu telah dilakukan tindakan-tindakan kaji ulang yang akhirnya menghasilkan putusan hukum susulan: Soekirman dibebaskan. Meski kenyataannya Soekirman masih ditahan, kebebasannya tetap sebuah kemungkinan.
Berbeda dari Kutil. Mereka belum pernah mendengar dilangsungkannya proses hukum lanjutan atas vonis mati yang telah dijatuhkan, yang mengubah vonis itu menjadi hukuman seumur hidup atau kurungan penjara dua puluh tahun, misalnya. Bukankah ganjil jika mereka tiba-tiba membebaskan Kutil? Itu mustahil. Maka begitu nama Kutil dipanggil, jelas bagi mereka: Si Gagak dari Talang itu, bersama para pandega lain, hanya akan dipindahkan untuk menjalani hukuman lanjutan. Dipindahkan ke mana, kelak mereka akan mengetahuinya. Sisanya, mereka yang menunggu, sebanyak dua puluh satu orang itu, adalah para pesakitan yang dibebaskan.
Begitulah kesimpulan mereka. Itulah sebabnya kegembiraan diam-diam merebak di benak mereka. Namun, tentu saja, mereka bukan sekumpulan orang kerdil tak tahu diri, yang akan bersorak dan berjingkrak ketika mendapatkan kegembiraan pribadi. Tidak. Kebebasan, kebahagiaan, memang telah lama mereka damba. Itulah sebabnya mereka menggalang perjuangan untuk melawan setiap tindakan yang hendak memberangus kebebasan dan kebahagiaan. Ketika para tentara menciduk mereka dan penjara mengungkung kebebasan mereka, bahkan seandainya mereka tidak dibebaskan melainkan dijatuhi hukuman mati; semua itu adalah risiko yang sudah mereka sadari.
Hari ini meraka akan bebas. Tapi bebas dari apa? Apakah keluar penjara dan kembali hidup di tengah keluarga dan handaitaulan merupakan kebebasan yang mereka idamkan? Bukan. Jika hari ini mereka meninggalkan Penjara Wirogunan, tak berarti mereka lantas sempurna jadi manusia bebas. Mereka masih menyadari ada banyak tali tak kasat mata yang melekat pada diri mereka. Tali perjuangan yang di batin mereka masih merentang panjang, yang tak putus oleh penangkapan, penyekapan, dan pembunuhan. Tali nasib yang mengikat mereka dengan kawan-kawan seperjuangan, termasuk para pemimpin mereka yang nama-namanya telah disebut sebagai pesakitan yang harus menanggung beban pengucilan lebih lanjut.
Jika mereka merasa sedikit gembira, bukan semata karena mereka akan kembali hidup di luar tembok penjara. Bukan. Mereka gembira karena membayangkan betapa banyak hal bisa mereka lakukan demi menjaga sisa-sisa benih api yang selama ini mereka nyalakan agar tak sepenuhnya padam. Mereka gembira lantaran akan ada lebih banyak tenaga yang bisa membantu mengurusi kawan-kawan mereka yang masih mendekam dalam penjara, membenahi jaringan dan melakukan pelbagai pendekatan, agar segala yang mereka yakini selama ini tidak sia-sia.
Ada bersit kegembiraan yang merebak di benak mereka. Namun mereka meredamnya. Bebas dari penjara tak membebaskan mereka dari hasrat yang lebih mulia. Hasrat mewujudkan kebebasan asasi umat manusia: bebas dari ketakutan, bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan.
Bukan saat yang tepat untuk bersorak dan berjingkrak. Orang-orang yang mereka hormati, panutan mereka selama ini, masih akan menderita di lain bui, bahkan ada yang harus menanggungnya sampai mati. Di seberang kegembiraan itu, mereka tahu, ada segenang haru.
Genangan haru itu jelas membayang di wajah Kutil begitu mendengar namanya dipanggil. Dengan mata basah ia tatap anak lelakinya, seakan hendak menitipkan cintanya kepada segenap anggota keluarga. Melihat Chambali, Kutil serasa melihat diri sendiri. Masa silam mendadak bertandang ke masa kini. Kutil terkenang masa remajanya yang pahit, terkenang pada seorang bocah nakal yang tumbuh di masa sulit. Ia sentuh bahu Chambali dan seketika anak itu memeluknya, erat sekali, seakan keduanya merasa tak bakal bertemu lagi.
Kutil ingin punya pesan terbaik untuk anak lelakinya. Tapi, apa? Detik itu juga Kepala Penjara mengulang panggilannya. Tak ada waktu lagi. Kutil harus pergi. Tak banyak yang bisa ia sampaikan, kecuali ini: "Bertahan, Anakku, bertahan. Jalanmu masih panjang. Tempuhlah dengan keteguhan lelaki matang."
Ketika Kutil akhirnya melepas pelukan si anak, lalu dengan langkah kalem dan pandangan tegak ia beranjak, Chambali jatuh bersimpuh, air matanya bertetesan membasahi lembar-lembar daun rumputan. Semula ia berharap bapaknya dibebaskan. Baginya, lelaki tua itu jauh lebih berarti daripada dirinya sendiri. Lelaki itu lebih dari sekadar bapak yang bijak. Ia telah korbankan hidupnya demi keluarga, para kerabat, dan sesama kaum papa yang dicintainya. Alangkah indah jika di masa tuanya ia hidup bahagia.
"Bapak!" Chambali mendadak bangkit dan berlari menyusul Kutil.
Orang-orang terperanjat. Para petugas penjara berhamburan menghadang. Chambali meradang. Para petugas meringkus kedua tangannya, menyeretnya kembali ke tempat semula. Para pesakitan panik, tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Bebaskan bapak saya! Bebaskan para pemimpin saya!"
Seorang sipir menarik tubuh Chambali agar tegak berdiri. Soepangat berlari mendekat, melerai si sipir agar tak melakukan tindakan kekerasan. Sipir itu mendorong tubuh Chambali hingga tersungkur di tengah kerumunan.
"Tangkap saja saya! Penjarakan saya!"
Kutil, yang langsung melesat ke sisi Chambali, merengkuh tubuh tirus itu seraya menuding para petugas, "Saudara-saudara boleh membunuh saya sekarang juga, tapi jangan sentuh anak saya!"
Hanya Kutil yang mendengar ketika dengan suara serak Chambali berujar, "Saya ikhlas bertukar tempat dengan Bapak. Biar saya yang di penjara."