BAGIAN KEDUA
32
PETUGAS penjara, dengan gaya pembaca pengumuman para pemenang lotere, meminta agar orang-orang yang dipanggil segera keluar dari barisan dan membentuk barisan tersendiri di sebelah kiri. Permintaan sederhana itu ternyata cukup membingungkan para pesakitan. Rupanya kabar akan ada pembebasan sebagian tahanan dan pemindahan sebagian yang lain telah menyebar di antara mereka. Kebingungan mereka bukan pada tahap tindakan "keluar dari barisan" dan "membentuk barisan tersendiri", melainkan apa makna di balik ungkapan itu. Apakah orang-orang yang akan keluar dari barisan dan membentuk barisan tersendiri akan bebas atau akan dipindahkan? Celakanya, kebingungan itu tak sempat terlontarkan, lantaran waktu terasa begitu tergesa ketika tiba-tiba petugas penjara membacakan daftar nama pada secarik kertas yang dipegangnya.
"Raden Sarjio Kartodiharjo!"
"Hidup pemimpin rakyat!" seru Miad, diikuti jogetan Salim dengan kedua tangan mengatup-membuka, menyentuh dada dan merentang ke udara, seraya mendekati Sarjio dan memeluknya. Beberapa orang lain memberikan ucapan selamat dan jabat tangan kepada yang bersangkutan. Tindakan-tindakan itu menunjukkan bahwa mereka telah menyimpulkan dengan lekas: siapa pun yang dipanggil berarti bebas. Tapi Sarjio bergeming. Dan ketika "si petugas pembaca pengumuman pemenang lotre" memangil untuk kali kedua dan ia tetap tak beranjak dari tempatnya, beberapa orang tampak tambah hormat dengan memeluknya lebih erat atau diam-diam air matanya menggenang. Tindakan-tindakan itu pun digerakkan oleh sebuah kesimpulan lain: Sarjio hanya bersedia keluar dari barisan, tak peduli itu berarti dibebaskan atau dipindahkan, asal bersama seluruh kawan seperjuangan.
Tentu saja para petugas penjara tahu siapa di antara mereka yang bernama Sarjio, yang telah dipanggil dua kali tapi tak peduli. Seandainya ada petugas yang semula tak tahu, saat itu akan tahu berkat cara-cara penghormatan yang dilakukan sesama pesakitan itu.
"Hei, Raden Sarjio Kartodiharjo! Budek kamu? Mau melawan petugas? Melawan negara?" bentak seorang petugas yang berdiri di sebelah Kepala Penjara.
"Hidup pemimpin rakyat!" seru Soepangat.
"Hidup! Hidup Bung Sarjio!" seru sebagian besar pesakitan.
Beberapa petugas bergegas turun ke lapangan. Dengan segera Sarjio membuka dan mengangkat kedua telapak tangan, seraya berkata, "Saudara telah keliru memanggil nama. Di sini tidak ada Raden Sarjio Kartodiharjo. Tidak ada raden dan segala embel-embel feodal sejenisnya."
"Hidup pemimpin rakyat!"
"Hiduuuuppp...!"
Kepala Penjara mendekat dan anak buahnya serentak merapat.
Kepala Penjara, "Tapi Saudara tahu siapa yang dituju oleh panggilan itu?"
Sarjio, "Terang benderang bagi saya. Tapi Saudara tak tahu apa yang dituju oleh ucapan saya."
Kepala Penjara, "Apa maksud ucapan Saudara?"
Sarjio, "Di sini tidak ada Raden Sarjio Kartidiharjo. Itu bukan saya. Panggil saya Sarjio saja."
"Hidup pemimpin rakyat!"
"Hiduuuppp...!"
Kepala Penjara memandang tajam ke mata Sarjio yang memandangnya. Tiga detik kemudian Kepala Penjara mundur, menyambar kertas berisi daftar nama dari tangan anak buahnya dan membaca.
"Sarjio!"
Mantan Residen Pakalongan itu beranjak tenang. Kawan-kawannya menyibak memberi jalan. Berdiri seorang diri di sebelah kiri barisan orang-orang, ia tampak lebih jantan daripada "si binatang jalang" yang "dari kumpulannya terbuang". Derita memang membayang pada usianya yang belum empat puluh, namun dari gerak tubuh dan lontaran-lontaran pikirannya terpancar sikap dan keyakinan yang teguh.
"Amir bin Noto Atmojo!"
"Itu saya," kata lelaki yang oleh kawan-kawannya dijuluki "Inspektur Penjara" lantaran lebih separuh hidupnya ia jalani dari penjara ke panjara. Sikapnya yang santun dan santai membuat kawan-kawannya seakan lebih ringan melepasnya.
"Soepangat!"
Lelaki ini seperti tak begitu hirau pada kerumunan kawan-kawannya. Ia hanya menyambut uluran tangan dan pelukan selintasan. Pandangannya ke sana-kemari, mencari-cari Chambali. Begitu dilihatnya anak itu berdiri gelisah di samping sang ayah, Soepangat menghampirinya. Ketika berhadapan, Soepangat memandang ke dalam mata Kutil. Ia melihat benih api di antara serbuk abu di hamparan ladang tebu. Mereka berjabatan. Soepangat dapat merasakan getaran ungkapan terima kasih dari lelaki tua itu atas kebersamaannya dengan Chambali selama ini. Terdengar suara petugas mengulangi panggilan. Soepangat bergegas sambil mengelus kepala gundul Chambali yang mendadak bersedu-sedan. Soepangat menepuk bahu anak itu, tanpa kata-kata, sebelum akhirnya bergabung dengan Sarjio dan Amir Atmojo.
"Widarta!"
Orang-orang memberinya salam, tapi tak ada yang memeluknya. Rasa segan mendorong mereka memberi hormat sekaligus membentangkan jarak untuk tak terlalu lekat. Widarta tersenyum. Orang-orang tersenyum. Widarta mengangguk. Orang-orang membungkuk. Kemudian ia melangkah pelan, tangan-tangannya mengepal di dalam kedua saku celana. Orang-orang mengiringinya dengan diam dan mata yang berkaca-kaca. Gerak-geriknya yang sepi mengesankan ia orang yang bersendiri. Namun Widarta mengerti, di mana ia mesti bediri.
Sepeninggal Widarta, orang-orang kembali ragu atas kesimpulan mereka. Benarkah orang-orang penting itu yang dibebaskan dan kami yang tak lebih penting ini yang harus menerima hukuman? Bahkan keraguan mereka tak juga sirna, setelah Soekirman dipanggil berikutnya.
Detik-detik berdetak. Waktu yang semula laju, kini seakan beringsut selambat siput. Dan mereka menunggu nama mereka disebut. Mereka penasaran, digelitik harapan dan kecemasan. Mereka gelisah, bebaskah atau pindahkah.