logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 SALA
Line

Jualan Sayur Keliling Datangkan Keuntungan Rp 50.000/Hari

KERETA dorong sayur milik Suhirman (44), belum menepi betul ke dekat trotoar jalan, ketika para ibu yang ingin berbelanja keburu merubungnya. Sebagai calon pembeli, ibu-ibu itu sepertinya saling berebut untuk minta dilayani paling awal.

''Sabar Bu, sabar. Keretanya saya tepikan dulu, agar tidak mengganggu lalu lintas,'' ujar Suhirman.

Ditemani istrinya, Sri Supatmi (42), pedagang yang tinggal di lingkungan Pokoh Kelurahan Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kota itu setiap harinya menjajakan sayur dengan menggunakan alat angkut berupa kereta dorong.

Dagangannya, mulai berupa sayur bahan lodeh, bermacam-macam dedaunan untuk bahan urap, beragam rempah-rempah kelengkapan bumbu dapur, pisang buah, petai, mentimun lalapan, tomat, pepaya, sampai kelapa.

Dia juga menyediakan garam dapur, bumbu masak, daging ayam, daging sapi, telor, ikan asin, dan teri. Bahkan kerupuk, tempe, tahu, dan karak pun ada di kereta itu.

''Meski jumlahnya sedikit-sedikit, kami upayakan komplet, agar tidak mengecewakan pembeli,'' ujar Suhirman, yang mengaku telah sekitar empat tahun terakhir ini menekuni pekerjaan sebagai penjual sayur kelilingan.

Dia punya prinsip, mengambil untung sedikit tapi dagangannya laris dan cepat habis. Pamrihnya, dapat cepat pulang dan keesokan harinya kembali kulakan (beli untuk dijual) lagi.

''Yang penting, pelanggan terus setia,'' ujar Suhirman. Dagangan daging ayam, dia mengaku hanya mengambil untung Rp 100 - Rp 150 untuk setiap kemasan seberat seperempat kilogram. ''Untung sedikit tak apa, yang penting cepat laku dan memperoleh banyak langganan,'' tuturnya.

Untuk modal belanja, diperlukan dana awal sekitar Rp 500.000 - Rp 600.000. Dari modal itu, dia mendapatkan untung sekitar Rp 40.000 - Rp 50.000. Soal laba itu, katanya, jumlahnya naik turun alias tidak pasti, karena bergantung kepada laris dan tidaknya dagangan.

Bapak dua anak itu mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat; tapi kemudian bermukim di Wonogiri, setelah membangun keluarga bersama istrinya yang asli Wonogiri.

"Dari dua anak kami, satu di antaranya sudah bekerja sendiri. Jadi kami agak ringan,'' ungkapnya.

Kegiatan rutin mendorong kereta sayur itu, dilakukan setiap pagi hari mulai pukul 06.00 sampai menjelang siang. ''Biasanya, tak sampai tengah hari dagangan sudah habis.''

Dia mengaku, malam hari harus bekerja sebagai Satpam. Semua itu dilakukan demi mencari penghasilan, untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama keluarga.(Bambang Pur-85a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA