logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 SALA
Line

Tim Jati Diri sebagai Filter

KOTA- Pemkot Surakarta telah menyusun beberapa perencanaan kawasan dalam usaha pelestarian kebudayaan dan identitas kota. Menurut Ketua Bapeda Surakarta Ir Masrin Hadi, perencanaan-perencanaan kawasan itu bisa digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan berwawasan jati diri Kota Solo sebagai Kota Budaya. Selain itu, Pemkot juga punya tim jati diri untuk mengevaluasi pembangunan terhadap bangunan kuno.

"Jika ada bangunan bersejarah yang akan dibangun, harus dievaluasi dulu oleh tim jati diri yang terdiri atas unsur Dinas Tata Kota (DTK), Badan Perencanaan Daerah (Bapede), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Kantor Lingkungan Hidup (KLH), dan Bagian Hukum. Tim itu sebagai filter untuk pembangunan tempat bersejarah," katanya, kemarin.

Menurutnya, tim akan melihat bagaimana rencana renovasi bangunan kuno bersejarah dan bagaimana upaya konservasinya. Jika si pembangun dinilai mampu merenovasi sekaligus konservasi, lalu baru diberi rekomendasi. Namun jika rencananya banyak perubahan inti bangunan bersejarah itu, tim tidak akan memberikan rekomendasi.

Pedoman

Sementara itu, perencaaan kawasan yang sudah disusun juga harus dijadikan pedoman. Antar lain Perda No 8 Tahun 1993 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) 1993-2013, penyusunan pedoman pelestarian pengembangan dan pemanfaatan Keraton Surakarta tahun 1991, studi pengembangan kawasan budaya Keraton Surakarta tahun 1990, dan studi pemanfaatan Keraton Surakarta tahun 1990.

Ada juga data-data arsitektur tradisional setempat Kota Surakarta tahun 1982, inventarisasi bangunan serta kawasan kuno dan bersejarah di Kota Surakarta tahun 1994, Rencana Tata Bangun Lingkungan (RTBL) Kawasan Keraton-Pasar Gede-Mangkunegaran, RTBL Kawasan Mangkubumen tahun 1996, dan grand design kawasan Balekambang tahun 2002.

Di tempat terpisah, staf pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNS Solo Ir Kusumastuti MURP mengatakan, arsitektur kota sebagai public interes. Sebab, sebagai communal work of art, arsitektur kota merupakan identitas komunal, sebagai bagian dari perjalanan masyarakatnya.

Karena itu, menurutnya, usaha pelestarian kota harus menjadi salah satu program pembangunan Kota Surakarta yang dikorelasikan dengan program-program lain. Hal itu hanya mungkin dibangun jika seluruh komponen masyarakat punya satu visi tentang masa depan kota.(G18,D11-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA