| Sabtu, 19 Februari 2005 | NASIONAL |
Reporter Metro TV Meutya Hafid Hilang di Irak
JAKARTA -Meutya Hafid, reporter Metro TV, hilang saat meliput di Irak. Selain perempuan cantik itu, turut hilang juga seorang rekannya yang bertugas sebagai juru kamera, Budiyanto. Mobil yang mereka tumpangi diduga diadang sekelompok orang bersenjata saat masuk ke Kota Ramadi, Bagdad. Demikian disampaikan Juru Bicara Deplu Marty Natalegawa di Departemen Luar Negeri Jalan Pejambon Jakarta, Jumat (17/2). Dia mengemukakan, berdasarkan informasi yang diterima dari KBRI Yordania dari warga Yordania, Debnabulsi, pada 15 Februari kendaraan miliknya disewa dua wartawan Metro TV untuk digunakan ke Kota Ramadi, Bagdad. Waktu dalam perjalanan menuju ke sana, kendaraan tersebut diadang kelompok bersenjata yang belum diketahui. Menurut keterangan KBRI Amman, lanjut Marty, mereka tiba di Aman pada 1 Februari. Lalu, pada 3 Februari ke Irak dan kembali lagi pada 12 Februari. Selanjutnya, mereka mendapat tugas lagi ke Irak, tepatnya ke Kota Ramadi. Debnabulsi menuturkan, kendaraan yang disewa berangkat dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat dan tiba pukul 08.00 waktu setempat. Ketika melewati perbatasan Irak-Yordania, mereka masih saling kontak. Namun setelah itu, kontak tidak ada lagi. Padahal, biasanya kalau sudah tiba dia diberitahu. Lebih lanjut Marty menyebutkan, Debnabulsi mendapat informasi tentang kejadian itu dari Ashraff, salah seorang sopir jasa penyewaan mobil. Asraff menceritakan, orang yang ada di Kota Ramadi melihat kendaraan masuk ke kota itu lalu diadang sekelompok orang bersenjata. Menyikapi masalah tersebut, Metro TV menjalin kerja sama dengan jaringan televisi Aljazeera untuk mencari keberadaan Meutya Hafid dan Budiyanto yang dinyatakan hilang. "Kami sudah menjalin kerja sama dengan teman-teman di sana dan temannya teman kami juga. Kami bekeja sama dan mengontak Aljazeera untuk perkembangan lebih lanjut," papar Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Salamun seusai mengadakan pertemuan di Departemen Luar Negeri, Jumat (18/2). Dia mengatakan, Meutya Hafid dan Budiyanto ditugasi meliput pemilu di Irak pada 1-12 Februari. "Selama hampir dua minggu tidak ada kesulitan apa-apa. Laporan rutin kami terima walaupun dalam hal-hal tertentu kami kesulitan kontak," ujar Salamun. Setelah 12 hari di sana, lanjut dia, sebenarnya keduanya sudah harus pulang. Namun setelah sampai di Yordania, Metro TV memutuskan menugasi mereka kembali ke Irak untuk meliput tahun baru Islam di Karbalah. "Mereka berangkat pada Selasa (15/2) dan kami dapat kontak pada hari itu juga bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Bagdad. Ini ditunjukkan dengan adanya SMS ke korlip yang menjelaskan mereka sudah di Irak," ungkap Salamun. "Sejak Selasa sore, tidak ada kontak lagi. Saat itu, kami masih merasa mungkin karena adanya blank spot sehingga kami kehilangan kontak," ungkapnya. Pada kesempatan itu, Metro TV mengucapkan terima kasih kepada Deplu karena sudah mengambil langkah yang cepat untuk mengatasi masalah tersebut. "Kami mendukung langkah itu untuk menemukan dua teman kami," tutur Don Bosco. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengambil langkah-langkah untuk segera menyelesaikan masalah hilangnya kedua kru Metro TV tersebut. "Pak Menlu sudah menyampaikan masalah ini ke Presiden dan beliau sudah menginstruksikan Menlu untuk mengambil langkah-langkah yang segera untuk menyelesaikan masalah ini," ungkap Juru Bicara Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Departemen Luar Negeri, kemarin. Keluarga Melihat TV Di tempat terpisah, keluarga Hafid mengetahui Meutya hilang di Irak setelah diberitahu manajemen MetroTV, Jumat (18/2) pagi. Sebelumnya, keluarga ini biasa melihat kehadiran Meutya di "Negeri 1001 Malam" lewat siaran MetroTV. "Tidak setiap hari dia menelepon kami. Kalau di Yordan sih selalu SMS," ucap Savitri Hafid, kakak Meutya. Karena tidak setiap hari kontak itulah maka melihat Meutya lewat MetroTV menjadi hal yang penting. Jika Meutya tidak nongol pun, keluarganya masih berpikiran positif. "Mungkin dia masih di jalan atau belum ada berita yang bisa dilaporkan," kata Savitri. Savitri mengakui, beberapa hari ini adiknya tidak muncul di televisi. Akan tetapi, keluarganya masih tenang saja. Hingga akhirnya, manajemen MetroTV menyambangi kediamannya di kawasan Jakarta Selatan dan mengabari kemungkinan Meutya hilang di Irak. Semula, keluarga biasa-biasa saja menanggapi itu. Namun, setelah banyak telepon dari sejumlah wartawan dan pemberitaan Meutya terus gencar di MetroTV, timbullah kesedihan itu. Terutama Ny Hafid, ibunda Meutya. Sementara itu, ayahanda Meutya sudah meninggal sekitar setahun silam. Meutya adalah bungsu dari empat bersaudara, kelahiran 3 Mei 1978. Savitri mengaku tak bisa berbuat apa-apa atas musibah yang menimpa adiknya. Dia hanya bisa mengandalkan bantuan MetroTV yang telah berkoordinasi dengan Deplu.(dtc-78j) | ||||