logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 NASIONAL
Line

Kerja Sama Militer AS-Indonesia Segera Pulih

WASHINGTON - Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengatakan, AS berencana melaksanakan kembali bantuan latihan militer untuk Indonesia. Hal ini merupakan langkah penting menuju pemulihan secara penuh kerja sama militer Indonesia-AS.

Hubungan militer kedua negara ini putus 10 tahun lalu akibat pelanggaran HAM oleh militer Indonesia. Kendati selama kurun waktu itu masih ada kerja sama latihan pada skala kecil.

Pemerintahan Presiden George W Bush pernah berusaha memulihkan hubungan kerja sama itu semasa periode pertama pemerintahannya. Namun, upaya itu gagal setelah dua orang guru Amerika tewas terbunuh di Provinsi Papua pada 2002.

Penyelidikan oleh polisi dan LSM menunjukkan adanya keterlibatan militer Indonesia dalam kasus pembunuhan itu.

Kongres AS kemudian menghentikan kerja sama latihan militer dengan Indonesia kecuali bila Pemerintah RI bersedia membantu Biro Penyelidik Federal AS (FBI) mengusut kasus itu.

Latihan militer bagi perwira Indonesia itu dikenal dengan nama International Military Education and Training (IMET).

"Saya sudah mencapai tahap lanjut dalam konsultasi dengan anggota Kongres. Kongres itulah yang nantinya memutuskan bahwa Indonesia sudah memenuhi persyaratan kerja sama itu. Ini sebagai syarat awal dapat dipulihkannya program IMET," kata Rice kepada Komite Apropriasi Senat AS.

"Menurut saya, waktunya sudah tepat. Indonesia baru saja melaksanakan pemilu presiden secara demokratis," kata dia.

Sementara itu, bantuan militer AS dihentikan setelah terjadi kasus demonstrasi di Timor Timur pada 1991, dengan korban tewas 17 orang. AS meyakini keterlibatan TNI sehingga menimbulkan korban tewas.

Namun, beberapa latihan antiterorisme bagi tentara Indonesia dilanjutkan setelah terjadi tragedi 11 September 2001. AS sendiri memasukkan Jakarta dalam daftar perang melawan terorisme.

Beberapa tokoh penting di Kongres masih mempertanyakan belum ada perbaikan memuaskan atas catatan HAM TNI.

Rice mengatakan, Pemerintah Indonesia telah bekerja sama sangat baik dengan FBI, sehingga AS dapat menangkap si pelaku dalam kasus pembunuhan di Papua.

Rice tidak mengemukakan jumlah dana dalam program mendatang, namun diperkirakan AS akan mengalokasikan dana cukup bagi kerja sama itu. Kerja sama semacam itu akan berdampak sangat penting bagi terjalinnya hubungan erat antara militer AS yang profesional dan sangat terlatih itu dengan negara-negara yang ingin dipengaruhi Washington.

Posisi Indonesia di mata AS masih dianggap sebagai negara muslim paling besar dan kunci bagi stabilitas regional, kendati dibayangi dengan raksasa Asia seperti Jepang dan China. Selama 50 tahun lamanya Indonesia-AS pernah menjalin kerja sama erat di bidang militer.(rtr-gn-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA