| Sabtu, 19 Februari 2005 | MURIA |
Berburu Cadangan Air di "Lapangan Tenis"BANJIR baru beberapa minggu melanda areal tambak daerah Kedung, Jepara. Tak terkecuali di Desa Surodadi, salah satu desa di kecamatan yang kebanyakan dihuni masyarakat nelayan dan petani itu. Hingga pertengahan Februari 2005 ini hujan masih acap kali turun di daerah tersebut. Ibarat menadah air tanpa bejana. Meski turun hujan, sungai yang membujur mulai Desa Semat, Kecamatan Tahunan dari utara hingga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, ludes tanpa air, layaknya musim kemarau. Hanya di beberapa titik yang ada airnya, itupun tidak banyak, jauh di bawah kebutuhan untuk mencuci warga. Sungai yang sebelah baratnya terbujur jalan beraspal dan sebelah timurnya terdapat ribuan hektare hamparan tambak ikan dan garam itu terlihat dangkal. Kedalaman sungai kurang dari satu meter. Sangat tidak ideal melihat lebar sungai yang mencapai kira-kira tujuh meter itu. Di beberapa lokasi, masyarakat memasang jaring ikan, kalau-kalau ada ikan yang terperangkap. Tapi yang terjadi, jaring tinggalah jaring. Alih-alih ikan, justru kambing dan ayam yang berlalu lalang di sekitar jaring itu. Pada jaring yang terpasang melintang, sepintas dasar sungai itu tampak bagaikan lapangan tenis. Beberapa jembatan bambu dan jembatan beton bak tribun penonton yang masih kosong. Sungai itu, fungsinya adalah sebagai saluran pembuangan air dari tambak-tambak, sekaligus untuk menampung air di musim kemarau untuk kebutuhan air di tambak. Beberapa titik sungai tersebut terhubung dengan muara sungai dari dataran atas, seperti Kali Panggung dan Kali Semat. Juga, sungai sebagai saluran pembuangan jika banjir melanda daerah tersebut seperti terjadi beberapa waktu lalu. "Jika dangkal begini, mana mungkin sungai bisa berfungsi optimal," kata Rukin, petani sekitar sungai tersebut. Rabu (16/2) siang kemarin, Supratman (65), warga Desa Surodadi tubuhnya yang renta belepotan lumpur. Ditunggui istrinya Sulasminah (60), Supratman yang nada bicaranya keras ini sedang mengeruk "lapangan tenis" yang melintas di belakang rumahnya. 'Pyuk...pyuk..," demikian bunyi lemparan lumpur yang sampai ke dinding rumahnya. Menggunakan ember kecil bekas untuk mengeruk, Supratman, meski sedikit pikun tampak bersemangat. "Nek mboten kulo keruk, toyane cepet telas (Kalau tidak saya keruk airnya cepat habis)," katanya dengan nada keras. Supratman yang hanya buruh tani ini tengah berjuang mendapatkan cadangan air untuk keperluan mencuci dan sekedar membersihkan badan, jika ia pulang kerja. Jika semua air harus membeli, sementara kantong cekak, bisa mempercepat proses penuaan keluarga sederhana itu. Supratman adalah satu dari sekian banyak keluarga yang tinggal di bantaran sungai itu. Kemarau sudah susah mendapatkan air. Musim hujan bingung banjir. Hujan reda susah cari air lagi. Tak mungkin mereka yang lugu itu bermain-main terus di "lapangan tenis". Mereka butuh sungai normal, bukan lapangan tenis. (Muhammadun Sanomae-15) |