logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 MURIA
Line

Sejumlah Kawasan Rawan Longsor

KUDUS- Berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah yang diterbitkan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Tengah tahun 2002, pada sejumlah kawasan atas berisiko cukup tinggi akan tejadinya bencana tanah longsor. Daerah-daerah seperti Ternadi bagian utara, Kajar bagian utara, Colo, Japan, Rahtawu, Menawan bagian utara, Terban bagian utara, dan Klaling bagian utara adalah kawasan yang harus diwaspadai akan munculnya kejadian tersebut.

Kasi Pelestarian Sumber Daya Air Pertambangan dan Energi pada Dinas Pertambangan dan Energi (PSDAP LHPE) Kabupaten Kudus, Drs Akmad Junaidi mengemukakan hal itu dalam Rakornis Satlak Penanggulangan Bencana di Gedung Setda lantai IV, kemarin. Dia menuturkan, gerakan tanah yang yang dimaksud merupakan perpindahan masa tanah, batuan atau bahan rombakan bergerak ke arah bawah menuruni lereng karena pengaruh gravitasi.

"Penyebabnya bisa faktor morfologi, struktur geologi, hidrogeologi, iklim, dan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan fungsi dan kegunaannya," tandasnya.

Faktor Pemicu

Gerakan tanah yang merupakan penyebab bencana tanah longsor, kata dia, akan terjadi apabila ada faktor pemicu berupa hujan, getaran/gempa, penggalian atau pemotongan lereng. Selain itu, pembebanan lereng yang berlebihan atau masuknya air ke dalam lereng juga berpotensi menimbulkan bencana tersebut.

Khusus untuk beberapa kawasan atas itu, ujarnya, mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadinya gerakan tanah. Selain itu, gerakan tanah lama dan baru juga sering terjadi pada kawasan tersebut. Penyebabnya, selain ketebalan tanah yang mencapai 0,3 meter-5 meter dan menumpang pada batuan segar, pada beberapa kawasan terdapat lereng-lereng terjal.

"Besarnya kecuraman di kawasan lereng 50%-70 % hingga lebih dari 70% di lembah sungai," tuturnya.

Untuk penanganan jangka pendek -terkait dengan ancaman tanah longsor tersebut- dapat dilakukan dengan membuat saluran terbuka untuk mengeringkan genangan air permukaan pada lereng bagian atas, dan mencegah masuknya air permukaan ke lokasi lereng yang longsor.

Selain itu, hal lain yang juga perlu dilakukan berupa penambalan retakan-retakan dengan tanah liat, pembuatan bronjong, pembuatan saluran bawah permukaan, dan memperkecil sudut lereng.

Untuk penanganan jangka panjang, pihaknya dengan dinas teknis lainnya telah mengupayakan pembuatan lereng yang lebih landai dengan cara mengurangi sudut kemiringan. Selain itu, pengecilan ketinggian lereng dan penghentian penggalian pada kaki lereng juga merupakan upaya lain yang perlu dilakukan.

"Tentu hal itu tanpa mengesampingkan optimalisasi penghijauan, khususnya yang berakar tunggang dengan jenis dan pola tertentu pada lereng dan pengaturan tata guna lahan," tandasnya. (H8-15s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA