logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 MURIA
Line

Tugu Kretek Bisa Tenggelamkan Identitas Lain

KUDUS - Rencana pembangunan sebuah tugu kretek yang digagas oleh PT Djarum Kudus bekerja sama dengan Pemkab dikhawatirkan justru akan menenggelamkan ciri khas lain kota itu.

Padahal, selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga mempunyai predikat Kota Wali/Santri, Kota Jenang, bahkan Kota Soto.

Anggota Komisi C DPRD dari PKS, Setya Budi Wibowo, mengemukakan hal itu kepada Suara Merdeka, kemarin.

Lebih lanjut ia menambahkan, jika pembangunan tugu yang desainnya disayembarakan itu ditujukan untuk menambah identitas baru maka terlebih dahulu identitas lama seperti tugu identitas - yang kondisinya kini perlu pembenahan segera - juga harus diprioritaskan terlebih dahulu.

"Ikon-ikon Kudus yang lama perlu dibenahi dahulu sebelum berencana membangun sebuah identitas yang baru," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kalaupun rencana pembuatan tugu yang kini masih dalam tahap pradesain oleh 25 peserta sayembara untuk merancang bangunan tersebut jadi direalisasikan, hendaknya tidak menenggelamkan ikon lama lainnya, seperti Menara Kudus. Atau, lanjut dia, dibuat prototipe Menara Kudus dan menara kretek secara berdampingan sehingga tidak mematikan ciri khas masing-masing.

Hal senada juga dikemukakan seorang pendidik sekaligus pegiat seni di Kudus, Mukti Sutarman EsPe, yang merasa cukup menggunakan identitas lama Kota Kudus yang telanjur melegenda, yaitu Menara Kudus. Bahkan, rencana pembangunan tugu itu dia anggap tidak menyentuh kehidupan rakyat dan hanya buang-buang biaya.

Pemerhati soal buruh dan perempuan, Lusila Anjela Bodroani mengatakan, jika beberapa pihak ingin mempertegas citra Kudus sebagai Kota Kretek dengan ribuan perempuan buruh giling dan bathil yang terlibat langsung dalam komunitas tersebut, hal yang diperlukan justru optimalisasi pemenuhan hak-hak mereka.

"Simbol-simbol kota mungkin bisa terbangun melalui hal itu sepanjang realitasnya membangun. Akan tetapi menurut saya, tugu tersebut tidak banyak mengangkat kaum buruh yang merupakan komunitas paling utama dari kretek itu sendiri," tandasnya.

Secara lebih tegas, seorang aktivis LSM, Kholid Mawardi, justru menyatakan simbol-simbol yang ada sekarang itu memang belum banyak mewakili masyarakat Kudus.

Bahkan, secara berseloroh ia mengatakan, kelak komunitas jenang dan soto, dua ikon Kudus yang tak kalah hebatnya dengan kretek, tentu juga akan membuat hal serupa.

Dalam kesempatan terpisah, Thomas Budi Santoso dari pihak Djarum selaku Panitia Pengarah mengatakan, rencana pembuatan tugu kretek tersebut dimaksudkan untuk menajamkan citra Kudus sebagai penghasil kretek yang utama, tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Pihaknya selaku salah satu komponen komunitas kretek, bersama Pemda hanya berusaha mengangkat potensi yang telah ada selama ini.

"Tugu atau monumen tersebut akan menjadi identitas baru Kota Kudus tanpa menenggelamkan identitas yang ada selama ini," ujarnya. (H8-90n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA