| Sabtu, 19 Februari 2005 | MURIA |
Buku Sejarah Kretek II Diterbitkan di LondonKUDUS- Setelah sukses membuat buku berjudul Kretek "The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes", pengarang buku tersebut, Mark Hanusz merencanakan untuk meluncurkan edisi keduanya. Menurut rencana peluncuran buku itu akan diadakan di London pada 23 Februari 2005. Pada buku edisi pertama yang kata pengantarnya ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, Mark, mantan bankir Singapura yang akhirnya memilih meninggalkan aktivitasnya karena tertarik menulis sejarah rokok kretek, banyak menyorot kehidupan komunitas kretek di sejumlah tempat, khususnya Kudus. Kepada Suara Merdeka beberapa waktu lalu, dia mengaku setelah melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Pulau Jawa pada Oktober 1998, kota di lereng pegunungan Muria itu akhirnya menjadi pilihannya. "Kudus mempunyai tradisi kretek yang begitu kuat. It's so historical..," ujarnya. Mark mengatakan, penulisan buku edisi keduanya tersebut tidak dimaksudkan sebagai upaya mengajak masyarakat untuk merokok. Tetapi, ujar dia, lebih ditujukan pada sebuah komunitas penghasil rokok yang kaya akan nuansa budayanya. Menurutnya, kehidupan buruh giling dan bathil (perapi rokok dengan gunting) dengan segala kompleksitas permasalahannya, merupakan hal menarik untuk diungkap. "Memang banyak daerah lain yang menghasilkan kretek, tetapi predikat sebagai kota kretek rasanya pantas disandang oleh Kudus," ujarnya. Dipilihnya London untuk launching buku keduanya, kata dia, merupakan suatu tantangan tersendiri baginya. Mengingat salah satu kota utama di dunia itu, memberlakukan regulasi yang amat ketat terhadap rokok. "Termasuk di dalamnya peraturan tentang pelarangan iklan rokok di media terbuka, media dalam ruang, dan event sport," ungkapnya (H8-15s) |