logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 MURIA
Line

Jipan sang Penjaga Malam

KEREMANGAN malam baru saja menyelinap di setiap ujung kelokan di Kota Kretek, saat sepasang sorot mata tajam memandang dengan tatapan seakan tiada berkedip, pada lalu lalang kerumunan manusia di kejauhan sana. Sambil merebahkan tubuh tegapnya pada kursi kayu coklat, yang mungkin sudah terlalu sering dibebani punggung uzur lelaki tua itu, tangan kukuhnya terlihat memutar-mutar tombol radio yang nyaris bobrok di sebelahnya.

"Saya suka mendengar lagu-lagu kenangan lama, khususnya dari The Beeges," ujarnya sambil terkekeh begitu senandung Don't Forget To Remember yang dibawakan vokalis grup legendaris tersebut, Andy Gibbs, tiba-tiba menyeruak memecahkan keheningan malam.

Jipan (60), begitulah nama lelaki tua bersosok tegap itu biasa disapa. Seorang yang di masa mudanya selalu menyandang popor senapan semi otomatis -berperangkai delapan butir peluru- buatan Italia, Petro Baretta, ketika dia menjelajah ganasnya rimba Irian ataupun menelusup di antara pekatnya hutan Serawak, saat negeri ini didera konflik bersenjata berkepanjangan. Ketika itu, dia yang berpangkat terakhir Sersan Kepala (Serka) Infanteri memang terlibat langsung dalam operasi pembebasan Irian ataupun Ganyang Malaysia, yang diserukan pemimpin besar revolusi saat itu, Ir Soekarno.

"Ah, itu hanya kenangan masa lalu," ujarnya datar, sambil menuturkan ada 21 rekan satu regunya gugur dalam bentrokan di kawasan yang kini milik negeri jiran tersebut.

Meskipun bau mesiu menyengat ataupun gelegar ledakan mortir tak lagi diakrabinya, kehidupan tak lantas berhenti bagi warga Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus itu. Setelah 30 tahun kehidupan militer dijalaninya, sisa-sisa kegagahannya tak juga pupus begitu saja.

Suami Saadah itu, terhitung sejak 11 tahun yang lalu dipercaya sebagai tenaga keamanan (penjaga malam) pada sebuah showroom motor Jepang yang berada di Jalan Sudirman, sebelah timur Pasar Kliwon. Semenjak itu pula, bersama seorang rekan sekerjanya -purnawirawan polisi- dunia malam kota jenang itu kembali disentuhnya.

Berbagai hal baru pun akhirnya menjadi bagian hidup ayah tiga anak yang semuanya mampu disekolahkan hingga jenjang perguruan tinggi tersebut, setiap hari. Dari bercengkrama dengan lalu lalang penjual makanan yang terkadang berhenti di dekat tempat kerjanya, atau mengusir secara halus orang-orang mabuk yang terkadang sering terjerembab di pelataran toko yang dijaganya.

Meski demikian, ujarnya, gangguan terberat ketika menjalani profesi sebagai seorang penjaga malam, terjadi pada sekitar tahun 1998 lalu. Pada saat terjadinya krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan itu, pihak perusahaan terpaksa menarik motor milik kreditur yang seret melakukan cicilan kreditnya ke showroom tersebut.

Akibatnya, saat bertugas berjaga malam, sering dia didatangi puluhan orang dari kerabat para kreditur motor tersebut untuk mengambil paksa kendaraan yang dibayar dengan sistem angsuran itu. Beberapa kali pula dia mengaku harus bersitegang dan beradu mulut dengan orang-orang yang sudah bermata gelap tersebut.

Namun, hal itu kini tiada dialaminya lagi. Kini, seorang tua bernama Jipan yang sering menyantap sekaleng nasi rangsum tanpa citarasa dan dibagi untuk 30 rekan prajuritnya dalam dinginnya hutan Kalimantan, masih saja menjalani sisa waktu senjanya menjadi penjaga malam.

Gurat ketuaan yang terukir pada sekujur lekuk wajahnya seakan menyatakan, betapa dia dapat menerima semua keadaan yang kini dijalaninya. Seperti tak ada yang disesalinya, meski di usia yang tiada lagi muda itu dia harus berganti shift kerja, mulai pukul 15.30 hingga 24.00 dan pukul 24.00 sampai 08.00. Begitulah hidup yang dilakoni "serdadu" tua itu hingga kini. (Anton Wahyu Hartono-15s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA