logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 SEMARANG
Line

45 Tahun Bertahan Jadi Pandai Besi

GURAT perjuangan hidup yang keras begitu nyata tergambar di wajah. Kedua telapak tangannya yang kasar semakin menjelaskan betapa Mukri (61) benar-benar melewati hari-harinya dengan kerja keras. Di rumah berukuran sempit dengan cahaya matahari yang menerobos lewat celah-celah dinding anyaman bambu, ayah empat anak itu masih bertahan sebagai pandai besi.

Empat puluh lima tahun lebih Mukri melewati hari-hari melelahkan di rumah bambu yang kini berwarna kusam karena pekatnya jelaga. Pagi hingga senja, di rumah berlantai tanah itu pula ia bermandi peluh dan berteman alat-alat pandai besi yang telah usang peninggalan kakek buyutnya.

Paron atau semacam alas untuk melempengkan besi, palu beragam ukuran, penjepit besi, betel, pompa yang telah dimodifikasi untuk peniup bara api, dan gerenda adalah sejumlah alat yang selama ini menjadi teman setianya. Kini, Mukri hanyalah satu dari empat tukang pandai besi yang masih tersisa di Kampung Pandean, Desa Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu, Kendal.

Era keemasan pandai besi sudah mulai surut sejak sepuluh tahun silam. Kerajinan besi yang mereka hasilkan, terkikis oleh produksi serupa dari pabrik modern. Meski hasil yang mereka peroleh tak bisa lagi menjadi pengharapan, pekerjaan pandai besi tak harus begitu saja ditinggalkan.

"Saya hanya sekolah sampai kelas empat sekolah rakyat (SR). Sejak usia 15 tahun, ayah sudah mulai mengarahkan saya menjadi pandai besi," tuturnya.

Tempat usaha pandai besi hanya berupa bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan beratapkan seng. Tempat usaha berukuran sekitar 4 x 5 meter itu berada persis di depan rumah yang dia huni bersama keluarganya. Beberapa tahun belakangan, Mukri yang kini dibantu tiga orang tenaga pocokan lebih sering hanya menerima pekerjaan memperbaiki peralatan para petani seperti cangkul dan sabit yang rusak atau sudah mulai kurang tajam.

"Sudah lama saya tidak menerima pesanan lagi. Orang sudah langsung membeli sabit dan cangkul di toko meterial."

Rejeki yang Barokah

Dalam seminggu, Mukri mengaku memperbaiki 5-7 alat-alat pertanian yang rusak. Ongkosnya sekitar Rp 4.000 - Rp 10.000 satu buah. Suami Ny Sobirotun (40) itu mengaku semua produknya berbahan baku baja bekas per mobil.

"Hasil bayaran atau penjualan produk kerajinan kami itu dibagi rata antara saya dan tiga tenaga kerja lainnya. Tentu setelah dipotong biaya pembelian bahan baku seperti besi baja dan arang kayu jati," jelasnya.

Mukri merupakan keturunan keempat yang menekuni pekerjaan pandai besi tradisional yang diwariskan dari kakek buyutnya. Empat anaknya, tiga di antaranya laki-laki, tidak lagi mau meneruskan pekerjaan itu. Mereka ternyata lebih memilih bekerja di pabrik.

"Dulu kakek buyut saya bukan hanya tukang pandai besi pembuat peralatan pertanian, melainkan juga pembuat senjata tajam dan keris. Satu-satunya warisan yang menjadi saksi bisu pada masa keemasan kakek buyutnya adalah besi bundar untuk alas melempengkan besi atau disebut paron. Konon alat itu telah berusia lebih dari seratus tahun."

Pada 1960-an, pandai besi di kampung Pandean itu jumlahnya 25 orang. Waktu itu hasilnya lebih dari cukup.

"Saya sudah ikut merasakan masa kejayaan sebagai tukang pandai besi." (Setyo Sri Mardiko-84n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA