| Sabtu, 19 Februari 2005 | SEMARANG |
Minim, Bacaan Berpengantar Bahasa Jawa
SEMARANG-Minimnya bacaan yang menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar merupakan salah satu penyebab merosotnya pengguna bahasa ibu bagi orang Jawa itu. Padahal, ketersediaan pustaka merupakan salah satu upaya menjaga keberadaan sebuah bahasa. Demikian disampaikan dosen Fakultas Sastra (FS) Undip Prof Drs Soedjarwo, terkait dengan sinyalemen akan kepunahan bahasa Jawa. Tidak banyak penerbit yang mau menerbitkan buku dengan pengantar bahasa Jawa. Sebab, buku semacam itu tidak banyak peminatnya dan tidak memiliki prospek penjualan yang menjanjikan. "Mana ada penerbit yang mau berspekulasi untuk menerbitkan buku dalam bahasa Jawa. Bisa-bisa malah menanggung rugi. Menjual buku bahasa Jawa rupanya lebih susah daripada yang berpengantar bahasa Indonesia," kata Soejarwo, Jumat (18/2). Seperti diberitakan Suara Merdeka kemarin, bahasa Jawa terancam lenyap kalau mulai ditinggalkan penuturnya. Kalau tidak dijaga baik-baik, bukan tidak mungkin, bahasa Jawa akan hilang, mengikuti nasib sejumlah bahasa ibu lainnya. Pada saat yang sama, masih amat sedikit ruang di media yang berpengantar bahasa Jawa. Walaupun sudah ada, menurut dia, berbagai rubrik yang ada perlu ditingkatkan. Dia menambahkan, hidup atau tidaknya sebuah bahasa amat ditentukan oleh masih adanya penutur bahasa itu. Jika penuturnya semakin berkurang dari waktu ke waktu, tengara akan kematian bahasa Jawa bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Menurutnya, saat ini orang Jawa sedikit demi sedikit sudah mulai meninggalkan bahasa ibunya. Terbukti, mereka berkomunikasi dalam bahasa Jawa pada kesempatan tertentu saja, misalnya pada kebudayaan atau kebatinan. Kendati demikian, Soedjarwo menyatakan, masyarakat tak perlu mengalami kekhawatiran berlebihan terkait dengan ancaman kematian bahasa Jawa. Dalam masyarakat yang berkembang ke arah bilingual atau bahkan multilingual, merupakan konsekuensi logis bagi bahasa pertama untuk bersanding dengan bahasa kedua yang dikuasai kemudian. "Tinggal bagaimana penutur bahasa bisa menerapkan konsep empan papan secara tepat. Kapan menggunakan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, atau bahasa lain yang dikuasai." Mengerem Dihubungi secara terpisah, budayawan MA Sudi Yatmana menyatakan pendapat serupa. Ancaman akan kematian bahasa Jawa, seperti juga bahasa ibu lainnya, merupakan hal yang wajar adanya. "Semua bahasa nantinya juga akan mati. Bisa karena terlibas oleh bahasa lain atau ditinggalkan penuturnya. Tugas kita, mengerem agar kematian itu tidak datang begitu cepat," kata dia. Para penutur bahasa Jawa perlu melakukan berbagai upaya untuk menghindarkan kematian bahasa Jawa secara drastis. Untuk itu, masyarakat Jawa tidak boleh meninggalkan bahasanya, dan tetap menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi. Sebab kalau tidak, bisa jadi bahasa Jawa akan punah seperti bahasa-bahasa besar yang pernah ada. "Bahasa latin atau Sanskerta yang merupakan bahasa dengan penutur yang besar saja bisa tidak digunakan." Dia menambahkan, penerbitan bacaan dalam bahasa Jawa perlu lebih digiatkan. Terutama bacaan yang ditujukan bagi generasi muda. Sebab, kekosongan bacaan berbahasa Jawa bagi generasi muda berpotensi membuat mereka tidak memahami dan pada gilirannya akan meninggalkan bahasa ibu itu. (amp-73) |