| Sabtu, 19 Februari 2005 | SEMARANG |
Bersepeda Keliling Jawa demi SBYTAK kenal putus asa. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan semangat Agus Suwarno (56) warga Kampung Beting Jaya RT 006 RW 018, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Gagal menjumpai idolanya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), usai berjalan kaki Surabaya-Semarang pada 22 Oktober-8 Desember lalu, lelaki berkulit legam itu mencoba ikhtiar baru. Dengan sepeda onthel-nya, Agus kembali melakukan petualangan demi dapat bertemu orang nomor satu di Republik Indonesia. Rute yang dia tempuh meliputi lima provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa tengah, DIY, dan Jawa Timur. Sepeda 'kebo'' itu biasa dia gunakan untuk mencari nafkah dengan ngojek di Jakarta. Sebuah bendera Merah-Putih dipasang di boncengan. Atribut lain yang dia kenakan adalah sebuah caping bertuliskan ''Saksi bisu perjalanan Surabaya-Jakarta''. Agus berangkat dari Jakarta pada 27 Januari 2005, dua hari menjelang 100 hari masa kepemimpinan SBY. Setelah menjelajah enam provinsi tersebut, lelaki yang sehari-hari bekerja serabutan itu kembali ke Jakarta. Tempat yang hendak dia tuju kali pertama tentu saja Istana Negara. ''Pokoknya saya harus bisa bertemu Pak SBY, Pak Jusuf Kalla, dan Pak Fahmi Idris (Menteri Tenaga Kerja-Red). Saya kagum sama kepinteran mereka. Saya suka lihat mereka saat bicara di tivi,'' ujarnya saat mendatangi Kantor Biro Kota Suara Merdeka, Jumat (18/2) sore. Jika nanti bisa bertemu dengan orang-orang yang dia kagumi itu, Agus tak hendak meminta apa-apa. Dia hanya akan menyampaikan dukungan, agar mereka, utamanya SBY dan Jusuf Kalla kuat menghadapi cobaan yang tengah menimpa. Baik lantaran persoalan Bencana tsunami Aceh, maupun oleh cibiran lawan-lawan politik mereka. Selama dalam perjalanan, Agus tidur di sembarang tempat. Namun sering, dia menginap di kantor polisi, baik Polsek maupun Polres yang dia temui. Demikian halnya untuk makan. Bapak tiga anak dan kakek dari enam orang cucu tersebut acap diberi orang lain. ''Saya berangkat dengan bondho nekat,'' kata lelaki kelahiran Solo tersebut. Tanpa sepeser rupiah pun di kantong, Agus yang pernah menjadi buruh pelabuhan itu mendapat sesuap nasi dari bantuan kader Partai Demokrat. Kalau mengantuk, dia segera mencari kantor polsek terdekat. Untungnya, tidak banyak kendala yang dia hadapi sewaktu hendak menumpang 'kamar'. Sayangnya, dia juga terpaksa menelan pil pahit lantaran kerap disangka peminta sumbangan. Saat mampir di salah satu kelurahan di Purwodadi, keinginan pria itu mendapatkan surat keterangan dari tiap kelurahan yang dilaluinya nyaris gagal. Selain sejumlah surat pengantar kelurahan, KTP dan berkas identitas lain, pria itu juga mengoleksi surat keterangan dari lurah di kota-kota yang disinggahinya. (Rukardi, Renjani-84) |