logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Februari 2005 SEMARANG
Line

Resik-resik Kutha

Bagian Bangun Praja Lingkungan

SEMARANG - Gerakan ''Resik-resik Kutha" yang diprakarsai Pemkot Semarang, Suara Merdeka, Djarum 76, dan New Exi Production, merupakan salah satu program Bangun Praja Lingkungan Kota Semarang.

Menurut Penjabat Wali Kota, Drs Saman Kadarisman, Jumat (18/2), target gerakan itu adalah terciptanya kondisi lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.

Kondisi lingkungan seperti itu, diharapkan terjadi di lingkungan perumahan, pasar, jalan, pertokoan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, taman kota, sungai, bantaran sungai, pedagang kaki lima, dan tempat penampungan sementara (TPS) sampah.

''Program itu, setiap tahun dilaksanakan. Pada tahun ini, mendapat penekanan khusus karena turut sertanya pihak swasta yang peduli terhadap lingkungan di Kota Semarang. Jadi, program itu tak bermuatan politis,'' kata Saman menegaskan.

Oleh karena itu, Pemkot menyambut baik semangat seluruh lapisan masyarakat dalam menyukseskan gerakan bangun praja lingkungan itu.

Kepada seluruh jajaran dinas di lingkungan Pemkot pun, apabila memiliki fasilitas pendukung untuk melakukan gerakan kebersihan itu, diminta all-out. ''Apabila program Resik-resik Kutha itu sukses, syukur nanti pada 6 Mei 2005 saya dipanggil ke Jakarta untuk menerima Piagam Adipura atas nama Kota Semarang.''

Gerakan "Resik-resik Kutha" yang merupakan bagian Program Bangun Praja Lingkungan tersebut, juga bertujuan mengeliminasi berkembangnya wabah penyakit deman berdarah di Ibu Kota Jateng ini. Sesuai dengan data Dinas Kesehatan, dari 177 kelurahan terdapat 138 kelurahan yang masuk daerah endemis demam berdarah.

Selama Januari-Februari tahun ini, wabah demam berdarah dapat ditekan. Dibandingkan kurun yang sama 2004, terjadi penurunan sangat tajam.

Diberi Hadiah

Untuk lebih meningkatkan semangat melakukan gerakan kebersihan/pencegahan wabah demam berdarah, Saman Kadarisman akan memberikan hadiah kepada para camat. Hadiah dalam bentuk uang itu, diberikan kepada kecamatan yang paling sedikit ditemukan kasus demam berdarahnya.

''Kami bedakan dua kategori, kecamatan yang masuk endemik dan nonendemik demam berdarah,'' jelasnya. Untuk kawasan endemik demam berdarah, hadiah pertama Rp 10 juta, kedua Rp 7,5 juta, dan ketiga Rp 5 juta; sedangkan kawasan nonendemik, hanya diambil dua juara.

Menurut dia, hadiah itu diambil dari dana taktis wali kota. Adapun penggunaan hadiah itu, nantinya bisa dipakai untuk membantu pendanaan proyek pembangunan di kecamatan yang mendapat hadiah tersebut. ''Karena, saya ingin dana taktis itu bermanfaat bagi masyarakat,'' ujarnya.(G17-84a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA