| Sabtu, 19 Februari 2005 | KEDU & DIY |
Banyak Penempatan Guru Tidak Sesuai dengan FormasiPURWOREJO - Mantan tim peneliti statistik pendidikan Purworerjo, Drs H Banon Eko Susetyo MSi, mendapat keluhan di daerah tersebut mengenai banyaknya penempatan tenaga guru yang tidak sesuai dengan pemetaan/formasi. Misalnya saja ada guru TK, tetapi kemudian dijadikan guru kelas di SD. Ada lagi yang semula melamar lowongan guru TK, tetapi setelah diterima ditempatkan sebagai guru SD. Akibatnya, kata Banon, ada beberapa guru baru yang stres. Tidak kalah menarik, kabarnya banyak murid bingung karena gurunya tidak mampu mengajar sebagaimana mestinya. Keluhan semacam itu, kata Banon, cukup banyak terdengar dari wilayah Kecamatan Purwodadi. ''Saya tidak tahu, ini yang salah Pemerintah Pusat atau Pemkab. Yang jelas, harus diperbaiki,'' kata Banon yang juga Ketua DPD II Partai Amanat Nasional (PAN) Purworejo itu, kemarin. Kepala Dinas Pendidikan Drs Sudarmo Subroto MM ketika dimintai konfirmasi masalah itu membenarkan adanya palamar guru TK yang kemudian ditempatkan sebagai guru SD. Sebab ketika dilakukan pengadaan guru bantu beberapa bulan lalu dari formasi 118 guru SD, ternyata yang lulus ujian hanya 49 orang. Sementara itu, pendaftar guru TK cukup banyak yang lulus dengan nilai bagus. Di sisi lain di daerah itu kekurangan guru SD cukup banyak. Melihat kenyataan seperti itu, Sudarmo melapor ke Pemerintah Pusat dan meminta agar kelebihan lulusan calon guru TK bisa dialihkan menjadi guru SD. Usulan semacam itu juga diajukan ke Pemprov. Menolak Atas usulan tersebut, semula Pemerintah Pusat menolak dan akan mengisi kekurangan formasi guru SD Purworejo dengan diambilkan dari luar daerah. Berkat kegigihan memperjuangkan hal itu akhirnya usulan Purworejo disetujui. Konsekuensinya, sejumlah pendaftar guru TK ditempatkan di SD. Menurut Sudarmo Subroto, sebelumnya dia sudah menawarkan kepada para pelamar guru TK yang akan ditempatkan sebagai guru SD. Pertimbangannya, daripada formasi guru SD itu diisi tenaga dari luar daerah. Saat diberi tawaran itu, kata Sudarmo, para calon guru tersebut bisa menerima. ''Waktu itu saya tanya, mau apa tidak lulusan pelamar guru TK ditempatkan sebagai guru SD? Ketika itu dijawab mau,'' tegas kepala Dinas Pendidikan. Berkenaan dengan itu, imbuhnya, para calon guru itu sudah diminta untuk belajar agar mampu mengajar SD. ''Sebab kalau di TK cuma nyanyi-nyanyi, tetapi di SD kan tidak,'' tambahnya. Dijelaskan pula, saat dibuka pendaftaran guru bantu, jumlah pelamar guru TK dan SD 1.635 orang. Semula yang akan diterima 259 orang, tetapi karena ada yang kurang memenuhi syarat, akhirnya hanya 254 orang yang diterima sebagai guru bantu. Pemkab Purworejo yang akhir tahun lalu menerima 137 guru negeri dan 254 guru bantu itu ternyata belum cukup untuk menutup kekurangan tenaga pengajar di daerah itu. Menurut Kepala Dinas Pendidikan, dari sekitar 7.000 guru yang ada, masih terjadi kekurangan sekitar 800 orang untuk SD negeri. Di daerah itu saat ini ada 20 buah SD swasta, 560 SD negeri, sedangkan TK swasta 405 orang, dan TK negeri hanya satu. (yon-76n) |