| Sabtu, 19 Februari 2005 | INTERNASIONAL |
Dubes AS: Korea Utara Lakukan Kesalahan BesarSEOUL - Korea Utara sedang menuju jalan buntu dengan program senjata nuklirnya. Demikian dikemukakan Dubes AS untuk Korea Selatan Christopher Hill, Jumat kemarin. Hill berada di Beijing bersama Deputi Menlu Korsel Song Min-soon untuk berunding secara terpisah dengan Korut menyangkut isu nuklir negara komunis itu. Hill mendesak Korut agar bersedia kembali ke meja perundingan. Pernyataan Hill itu dikemukakan hanya sehari sebelum pejabat senior Partai Komunis China Wang Jiarui berkunjung ke Korut Sabtu ini. Kunjungan utusan China itu dalam rangka menyelamatkan perundingan. Sekembali dari Beijing, Hill mengatakan Korut telah melakukan kesalahan besar dengan program nuklirnya. Sebab, perekonomian negara itu memburuk dan hubungan dengan negara-negara maju juga makin suram. ''Memiliki senjata nuklir adalah jalan buntu bagi Korut. Mereka tidak dapat mencapai kemajuan kalau terus bersikeras di jalan ini,'' kata Hill. Sebagaimana diberitakan, Pyongyang pekan lalu mengumumkan secara terbuka kepemilikan senjata nuklirnya. Korut berkilah, senjata nuklir diperlukan untuk menghadapi kebijakan keras AS. Korut juga menarik diri dari perundingan enam negara dengan Korsel, AS, China, Jepang, dan Rusia. ''Ancaman terhadap Korut justru datang dari ketidakmampuan mereka mengembangkan ekonomi. Program nuklir ini menelan dana besar dan ikut mengakibatkan turunnya kondisi perekonomian negara itu,'' kata Hill. Dia tidak bersedia menjelaskan secara rinci hasil pertemuannya di Beijing. Namun, senada dengan China, dia mengatakan AS tetap teguh untuk menemukan solusi diplomatik. ''Kami bersungguh-sungguh menjalankan proses ini,'' kata dia. ''Mutlak diperlukan agar Korut kembali ke proses perundingan.'' AS merasa berterima kasih pada Beijing yang telah tiga kali berusaha membujuk Korut. Namun, AS menyayangkan China yang tidak menggunakan seluruh pengaruhnya. Sementara Hill bicara panjang lebar soal perundingan enam negara, Korsel malah tutup mulut perihal pertemuan mereka di Beijing.(rtr-gn-52) |