| Sabtu, 19 Februari 2005 | EKONOMI |
Alami, Batu Dinding Kebumen Jadi MahalDAERAH Karangsambung dan sekitarnya, 18 Km di utara Kebumen, selama ini menyimpan potensi sebagai cagar geologi. Bahkan, LIPI memiliki Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi dan Informasi Kebumian Karangsambung (BIKK). Berbagai jenis batuan dan bahan tambang di sekitar daerah itu juga memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat. Seolah, BIKK dan warga saling berlawanan kepentingan. BIKK melindungi batuan, sedangkan warga justru menjual batuan tersebut. Selain pasir Luk Ulo yang menjadi bahan bangunan, di daerah Kebumen utara juga menyediakan batu kericak atau batu pecah, serta batu hias untuk halaman atau pekarangan. Belakangan, yang lagi ngetren dan laku keras adalah batu dinding jenis lendem Kebumen. Batu-batu itu asalnya dari daerah perbukitan kawasan Karangsambung, seperti Desa Kedungwaru, Karangsambung, Widoro, dan sekitarnya. Dulu ada beberapa pedagang batu menjual ke Jakarta masih lempengan. Namun kini tinggal satu pengusaha yang mengepul batu dinding tersebut dan tidak lagi menjual dalam bentuk lempengen, tetapi telah jadi. Pengusaha itu, Kerso (40) dan istrinya Rohyati (30). Kerso awalnya sopir yang mengangkut batu-batu dinding itu ke Jakarta. Kemudian dia mengembangkan diri menjadi pengusaha. Apalagi ia telah mengetahui daerah pemasaran batu dinding Kebumen. Paling banyak batu-batu warna kuning dan coklat muda itu dipasok ke kawasan perumahan mewah di Jakarta, Tangerang dan Puncak, Bogor. Bila sepuluh tahun lalu batu dinding Kebumen dijual masih bahan atau lempengan, kini Kerso dan istrinya menjual dalam bentuk potongan dan siap pasang. Apalagi dia sekarang telah memiliki mesin pemotong sendiri. Berkat keuletannya, pengusaha batu alam itu telah mempunyai mesin pemotong senilai ratusan juta, dan mempekerjakan enam orang. Tiap hari, mesin pemecah batu itu mampu memproduksi 15-20 meter. Biasanya, dia membuat batu dinding ke dalam tiga ukuran. Ukuran 10x20 cm, dijual dengan harga Rp 35.000 per meter, 15x20 m seharga Rp 37.500/m dan ukuran 20x40 seharga Rp 40.000/m. Lebih Mahal Tentu saja harga itu jauh lebih mahal dibanding harga keramik. Namun Rohyati buru-buru menambahkan, harga tersebut untuk pasaran di Jakarta dan sekitarnya. Apalagi saat ini bahan mentah batu dinding semakin sulit diperoleh. Harga mentahnya dulu masih Rp 8.000/m, kini mencapai Rp 11.000/m. Sedangkan ongkos angkut ke Jakarta juga tidaklah murah. Minimal untuk sekali memasok ke Jakarta dan Bogor mencapai 100 meter batu atau satu truk Diesel. Adapun ongkos angkutnya sekitar Rp 900.000. ''Jadi sebetulnya mepet. Karena itu kami berani kredit truk dan kadang disopiri sendiri untuk menghemat pengeluaran,'' tandas wanita asal Desa Tanuraksan Kebumen itu. Menurut penuturan Ny Rohyati, batu dinding Kebumen memiliki kelebihan dibanding dari daerah lain, seperti dari Magelang, Gunung Kidul maupun Tulung Agung, Jatim. Sebab, batu Kebumen lebih nampak natural atau alami, lebih indah dipandang dan tidak mudah menjamur. Kini, seiring dengan perkembangan dunia properti dan arsitektur, batu dinding Kebumen tak hanya dipasang untuk dinding tembok, tiang bangunan maupun jendela, namun juga untuk lantai. Hanya Ny Rohyati mengakui, belakangan ini pemasaran batu dinding Kebumen agak seret. Hal itu terasa semenjak gempa bumi dan tsunami di Aceh. Sementara, untuk pemasaran lokal masih agak susah.''Padahal, tiap bulan kami harus mengangsur kreditan truk,'' aku Ny Rohyati. Namun Kerso dan Rohyati tetap berlega hati. Meskipun stok batu dinding Kebumen kini menumpuk, mereka telah memiliki aset berupa lahan pabrik pengolah batu milik sendiri seluas 80 ubin (1.100 m2), mesin pemecah batu seharga ratusan juta, mobil truk dan minibus yang masih baru. (Komper Wardopo-82) |