| Sabtu, 19 Februari 2005 | BANYUMAS |
Menggembala, Pencandu Narkoba SembuhPESANTREN Tanbighul Ghofilin, Desa Mantrianom, Bawang, Banjarnegara, selalu meningkatkan kemampuan dan mencari terobosan untuk membina umat. Salah satu inovasi di pesantrenb itu adalah pendirian pondok penyembuhan pencandu narkoba. Pondok khusus itu ditangani H Khayatul Makki SH, putra KH Muhammad Hassan, pemimpin pesantren. ''Kami menangani 13 orang pencandu, 80% sumbuh dan bisa membantu terapi pada pasien baru,'' tutur Khayat, kemarin. Semua pasien, kata dia, anak orang kaya. Mereka datang ke pondok naik mobil mewah. Paling banyak datang dari Jakarta. Kini, siapa pun bakal terharu melihat kegiatan mantan pencandu yang hampir sembuh. Mereka, yang biasa hidup dalam dunia gemerlap, mau bertani serta memelihara kambing dan ikan. Saat panen padi, para bekas pencandu menyunggi gabah. Santri khusus itu pun bersedia menggembalakan kambing dan menyabit rumput. Semua mereka lakukan dengan riang gembira. Mereka bahkan bangga, karena itu bukti keinginan untuk maju, berkembang, dan kembali normal. Ada pula yang menyatakan lebih menyukai hidup seperti itu daripada kehidupan mewah yang sebelumnya mereka jalani. ''Itu pengakuan mereka,'' kata Khayat. Dia menuturkan tidak ada nabi yang tak menggembalakan kambing. Metode itu untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Kambing adalah binatang yang paling tak bisa diatur. Salah memperlakukan, misalnya mencambuk, ternak itu pun akan memakan tanaman orang dan si penggembala dimarahi. Tugas penggembala adalah mengendalikan ternak itu secara baik. ''Mereka tak diajari caranya, biar menemukan sendiri.'' Namun itu cuma satu dari beberapa terapi. Pondok khusus narkoba menggabungkan terapi medis dan keagamaan. Penanganan secara medis bekerja sama dengan dokter dari Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara. Selama sebulan pertama di pondok itu para pencandu kerap ketagihan, sehingga harus ditangani dokter. Setelah sebulan lewat dan tak lagi ketagihan, barulah pasien ditangani dengan terapi lain. Mereka dibangunkan setiap pukul 02.00 dan disuruh mandi, lalu shalat tobat dan hajat untuk mencapai kesembuhan. Mereka juga diminta membaca wirid dari Alquran dan jaljalut. Terapi ini dilakukan sampai mereka sembuh. Kurang Perhatian Setelah setengah sembuh, tutur Khayat, mantan pencandu sering diajak dialog. Rata-rata mereka mengaku terjebak narkoba karena kurang perhatian orang tua. Ayah sibuk mencari harta, ibu menghabiskan waktu mengejar karier. Anak hanya ditinggali harta. Tanpa bekal moral kuat, harta justru berubah menjadi racun. Itulah yang disampaikan kepada orang tua pasien dan mereka mengakuinya. Umumnya orang tua menangis saat berkunjung ke pondok itu dan melihat sang anak berbaju koko, menggembala kambing, atau menyabit rumput. Selama tinggal di pondok, kiriman uang dari orang tua maksimal Rp 150.000 sebulan. Uang itu hanya untuk membeli sabun, pasta gigi, dan obat-obatan. Seorang mantan pencandu dari Jakarta semula sangat dibenci warga di lingkungannya karena selalu membuat masalah. ''Lebaran lalu anak itu pulang. Jamaah masjid di tempat tinggalnya menangis ketika melihat anak itu azan.'' Untuk menampung para pencandu, pondok itu membangun sebuah rumah. Bupati Banjarnegara H Djasri menyumbangkan 200 sak semen dan Ketua DPRD Ruwiyati menyumbangkan batu bata. Khayat mengelola pondok itu dibantu adik dan kakaknya, HM Hamzah dan H Hakim Anai Saburi LC. Modal awal dari Al Sayid Muhammad Al Maliki (Makah), yang diberikan saat Khayat menunaikan ibadah haji. ''Juga bantuan masyarakat sekitar,'' katanya. (Budi Hartono-86) |