logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Februari 2005 NASIONAL
Line

Berderma karena Ingin Diakui

  • Bedah Buku ''Ketika Selebriti Berbagi''

SEMENJAK Indonesia mengalami krisis ekonomi, dan banyak karyawan perusahaan swasta yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mulailah muncul fenomena filantropi di kalangan selebritas kita. Di antara mereka berbondong-bondong mendirikan kafe tenda untuk menampung mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja. Tindakan serupa muncul dalam gelombang lebih besar lagi ketika terjadi bencana tsunami akhir tahun 2004 di Aceh dan Sumatera Utara. Selebritas kita kembali berbondong-bondong menjadi penggalang dana.

Sebenarnya tindakan filantropi atau kedermawanan itu memang tidak hanya muncul ketika sebuah peristiwa terjadi. Banyak di antara selebritas kita yang melakukan tindakan filantropi itu, sepanjang hari tanpa menunggu adanya bencana, tetapi sayangnya tidak ada data yang merekam kegiatan mereka. Karena itulah Hamid Abdullah kemudian tergerak menulis buku Ketika Selebriti Berbagi: Pola Derma dan Aktivitas Sosial Selebriti Indonesia.

Peluncuran buku terbitan Piramedia itu ditandai dengan acara bincang santai dengan pembicara Helmi Yahya, Dorce Gamalama, dan Tika Bisono serta sang penulis buku, Hamid Abidin dengan moderator Teguh Juwarno.

Hamid tertarik menulis aktivitas filantropis para selebritas itu, karena menurutnya sosok yang punya posisi khusus di tengah masyarakat itu memiliki 4 peran penting. ''Pertama, selebritas adalah sebagai donatur dan potensi besar. Mereka memiliki penghasilan besar antara Rp 10 juta-Rp 60 juta per bulan,'' tuturnya. Di dalam buku bahkan dituliskan kekayaan sejumlah selebritas Indonesia yang mencapai miliaran rupiah.

Mengutip HAI, Hamid menulis ada 10 musikus terkaya di Indonesia berpenghasilan antara Rp 1,4 miliar sampai Rp 5,1 miliar. Di peringkat pertama adalah Slank dengan penghasilan sekitar Rp 5 miliar. Kemudian disusul Krisdayanti (Rp 4,58 miliar), Jamrud (Rp 3,74 miliar), Padi (Rp 3,5 miliar), Sheila on 7 (Rp 3,5 miliar), Dewa (Rp 3,1 miliar), Melly Goeslaw dan Anto Hoed (Rp 2,35 miliar), T-Five (Rp 2,02 miliar), /rif (Rp 1,65 miliar), dan terakhir Jikustik.

Kemudian sebagai donatur, selebritas sangat potensial sebagai penggalang dana. Kemudian ketiga, dia juga sebagai penyampai pesan, dan keempat sebagai relawan.

Lewat Acara

Setiap selebritas mempunyai pola berbeda dalam berderma. Helmi Yahya yang sempat disebut sebagai raja kuis membeberkan kiat-kiatnya berderma. Pimpinan PT Triwarsana yang kini mendapat julukan raja reality show itu memang memilih berderma melalui acara reality yang dibuatnya di sejumlah stasiun teve. Sebut saja Uang Kaget yang tayang 2 kali seminggu di RCTI, Bedah Rumah di stasiun yang sama, dan Tolong di SCTV.

Lain lagi cerita Dorce Gamalama yang memilih mendirikan Yayasan Halimatussahdiyah di 4 kota, yaitu di Citayam (Bogor), Jatibening (Bekasi), Surabaya, dan Maluku Utara. Di empat yayasan yang dipimpinnya itu, semua operasional menggunakan dana pribadi Dorce yang disisihkan dari hasil kerjanya sebagai artis. ''Biasanya 70 persen hasil kerja saya untuk yayasan,'' kata Dorce yang mengaku penghasilannya memang di atas rata-rata.(Trisnawati-69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA