BAGIAN Pertama

29

SEPASANG tangan sedang mempermainkan sebutir telur bebek. Telur itu jatuh bergolek dari telapak tangan kiri ke kanan, dari kanan ke kiri. Lalu berputar-putar digerakkan ujung-ujung jari. Dan ketika telur itu pas berada dalam genggaman, mendadak jari-jari itu mencengkeram. Krek! Bulatan biru itu ringsek. Tak ada leleran lendir bening campur kuning. Jari-jari kembali sibuk, mengelupasi cangkang yang remuk. Segulung plastik menyembul. Jari-jari mencabut dan mendudah gulungan plastik itu. Dan terbentanglah selembar kertas merang yang kerut-merut dengan goresan huruf-huruf miring yang runtut. Wajah itu mendekat hendak membaca. Wajah Widarta.

Pendekatan yang kami lakukan dengan sejumlah kalangan belum sepenuhnya membuahkan hasil, tapi juga tidak nihil. Dalam waktu dekat akan dilangsungkan pemeriksaan di Yogya. Beberapa kawan akan dikembalikan ke Penjara Pekalongan untuk disidangkan. Sebagian akan bebas. Bagi kawan-kawan yang menjalani hukuman, kami telah menyiapkan beberapa pengacara yang memahami perjuangan kami untuk mengupayakan keringanan.

Pelan-pelan Widarta menyobek-nyobek kertas itu menjadi suwiran-suwiran kecil. Lantas ia mengupas sebuah pisang raja. Dengan tenang ia kemudian memasukkan suwiran kertas dan kupasan pisang ke mulutnya, mengunyah dan menelannya bersama.

Inilah muara dari serpihan kabar yang selama ini dialirkan Prihatini, kata Widarta dalam hati. Inilah satu lagi bukti kebenaran pemeo tentang revolusi: bahwa di mana pun revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Kemenangan, pada akhirnya, bukan milik kebenaran. Kemenangan senantiasa milik kekuasaan. Keadilan bukan hak setiap orang, karena hukum dibuat dan diberlakukan hanya untuk mereka yang tak berdaya. Dalih dan dalil dengan mudah memutar balik setiap delik. Lembaga-lembaga pengadilan di negeri ini tak ubahnya kalangan judi, di mana para pejabat saling bersaing demi menangguk keuntungan pribadi dengan mempertaruhkan nasib kami, para pesakitan ini.

Bukan kurungan itu benar yang menyakitkan Widarta, melainkan khianat yang dilakukan kawan-kawannya. Memang, cukup lama ia menyiapkan diri. Sejak remaja, sebelum memasuki kancah organisasi, ia telah sadar bahwa di dalam politik banyak kemungkinan bisa terjadi. Tapi, sungguh ia tak menduga bahwa rasa sakit itu datang bukan dari perlakuan pihak-pihak yang ia tentang, tetapi justru dari sikap para sahabat sepaham. Tikaman jarak dekat lukanya lebih dalam.

Sering kali kita sekata hanya dalam janji. Bukan dalam tindakan. Dalam keadaan sukar, di mana kita mesti memilih, tindakan bisa ingkar terhadap ikrar, hanya karena saling selisih. Dan memang aku kadang berselisih paham dengan kawan-kawan.

Widarta belum lupa, tak lama setelah kemerdekaan, sekelompok anggota Perhimpunan Indonesia pulang dari pengasingan di Holland atas biaya pemerintah Belanda. Widarta meradang ketika mereka menganggap Republik Indonesia adalah hadiah Jepang. Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang mereka serap dari Negeri Kincir Angin, mereka meminta perjuangan ideologi dan asas kesetaraan dilaksanakan sambil menjalin hubungan hangat dengan Belanda, sebagaimana mereka lakukan dalam perang menghadapi fasisme Nazi.

Aku menolak. Perjuangan persatuan front antifasisme mesti tuntas. Setelah berhasil menghancurkan fasisme Jepang, kita masih harus melawan segala bentuk kolonialisme dan imperialisme. Aku tak akan berdiam diri membiarkan kaum kolonialis dan imperialis Belanda kembali. Tidak. Tidak ada kompromi.

Widarta merasa panas. Terik matahari memanggang ujung kakinya sejak tadi.

Ah, sudah siang. Pukul berapa sekarang? Berapa lama aku berlindung di tempat teduh ini?

Ia lihat kawan-kawannya masih berkelimun di tempat pangkas rambut. Dan, aih, di bawah pokok flamboyan yang tak henti menabur jarum-jarum jingga, pasangan Prihatini dan Amir Atmojo sedang bercengkerama. Alangkah khidmat dan indah, pertemuan singkat setelah lama berpisah. Lihatlah, mereka tertawa-tawa. Barangkali menertawakan nasib, atau tentara dan penjara. Tentara memang telah merenggutkan mereka dari kedamaian keluarga dan penjara memisahkan tubuh mereka. Tapi bisakah tentara dan penjara menceraikan cinta? Tidak. Lihat, ada taburan bunga-bunga cinta mewarnai gelak mereka.

Tiba-tiba benak Widarta dirasuki rasa cemas. Lalu ia pun berharap, semoga Amir termasuk daftar pesakitan yang akan bebas. Siapa yang lain? Siapa yang akan mendapat hukuman? Surat itu yang dibacanya tadi tak menjelaskan secara terperinci. Tak juga kabar dari Prihatini.

Pri hanya menyampaikannya dengan cepat bahwa pemeriksaan di Yogya akan dilaksanakan atas desakan pemerintah pusat. Setelah terjadi perdebatan di kalangan Pengadilan Pekalongan, tentang perlakuan terhadap para pelaku Gerakan Tiga Daerah, sebagai tahanan politik atau kriminal, perkara memang diambil alih Kejaksaan Agung. Banyak orang yang digaruk dan dianiaya TKR dibebaskan. Kecuali 32 orang yang harus tetap mendekam di Penjara Pekalongan, kemudian dipindah ke Penjara Wirogunan.

"Jaksa Karioatmojo telah mengeluarkan keputusan, semua tahanan harus memberikan kesaksian tertulis," bisik Pri ketika menyerahkan pisang dan telur asin tadi.

"Bagaimana dengan yang tidak bisa menulis?"

"Akan dituliskan petugas kejaksaan."

"Apa bedanya, ditulis atau diucapkan, toh kejaksaan tetap harus mengusut pembuktian."

"Pembuktian akan dilakukan dengan pemeriksaan silang oleh tim pemeriksa."

"Siapa yang menentukan keanggotaan tim Pemeriksa?"

"Jaksa Kario."

"Siapa saja yang dipilihnya?"

"Sebagian besar bekas pangreh praja yang kita rontokkan."

Tak seorang pun menyaksikan wajah Widarta yang mendadak murung dalam lindungan bayang-bayang gedung. Ia tak menduga bahwa politik kolonial masih berlaku. Para pangreh praja, antek-antek penjajah itu, masih diberi wewenang membantu jaksa untuk memeriksa orang-orang yang menggulingkan mereka. Mungkinkah keadilan bisa ditegakkan dalam sandiwara semacam itu? Tak seorang pun tahu betapa Widarta jadi ragu.


HexWeb XT DEMO from HexMac International