logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 16 Februari 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Perhutani, Ada Apa denganmu ?

Di tengah kegalauan isu kenaikan BBM, masyarakat kembali mendapat kado kenaikan harga dasar kayu sebesar 15 % di awal tahun 2005. Tentu hal ini jadi pukulan telak bagi yang menggantungkan hidupnya pada sektor industri kayu. Dunia permebelan yang menjadi primadona ekspor Jateng harus berjuang ekstra keras untuk tetap bertahan hidup.

Di tengah serbuan produk mebel negara lain, kami masyarakat Jepara yang bergerak dibidang permebelan harus menguras otak agar tetap bersaing. Beberapa tahun terakhir ini, industri mebel sedang berada pada level yang memprihatinkan. Ratusan industri mebel baik yang berskala kecil maupun besar harus menerima kenyataan pahit.

Langkanya bahan baku serta kian meroketnya harga kayu merupakan faktor yang paling dominan atas terpuruknya industri mebel. Perhutani sebagai pihak yang paling berkompeten atas harga kayu, tampaknya tak mau ambil pusing, sepanjang pundi-pundi rupiahnya terus menggelembung.

Alasan klise menjadi alibi yang ampuh untuk menjawab pertanyaan masyarakat. Kenaikan harga dasar kayu yang tanpa sosialisasi tentu sangat mengejutkan, mengingat sebelumnya Perhutani berjanji akan menyosialisasikan lebih dulu bila terjadi kenaikan. Namun apa daya, janji tinggal janji.

Tak ada jalan lain, kecuali lawan. Ya, itulah kini yang dilakukan para pelaku industri kayu. Sebuah bentuk perlawan kecil telah kami lakukan dengan meninggalkan tempat lelang kayu Perhutani Unit 1 Jateng. Lelang pun akhirnya batal. Hal serupa dilakukan rekan-rekan di Jabar dan Jatim.

Kami tahu langkah ini tak banyak berarti. Namun kami akan terus berusaha hingga Perhutani mau membatalkan kenaikan atau setidaknya menunda sampai pasar membaik.

Fathul Minan

Desa Kerso, Kedung Jepara

***

Objek Wisata Kendal Begitu-begitu Saja

Soal tempat wisata tak bisa ditutup-tutupi lagi kalau warga Kendal iri kepada Yogyakarta dan Solo. Dua kota itu sudah menjadi tujuan wisata yang mendunia. Bahkan untuk kelas domestik pun, Kendal masih tercecer jauh. Padahal Kendal memiliki objek wisata potensial. Sebut saja air terjun Curug Sewu, pantai Sikucing, gua Kiskendo dan lainnya.

Nyatanya, beberapa objek, ada yang kurang terurus atau sedang-sedang saja. Ada yang malah kehilangan pamornya. Pantai Sikucing yang dulu akan dikembangkan menjadi wisata pantai tak terurus. Lokasinya kurang terawat dan sarana penunjangnya tidak memadai. Pengunjung makin Iangka, konon karena lokasinya sulit dijangkau.

Yang kehilangan pamor, gua Kiskendo. Padahal daerah yang memiliki gua eksotis sernacarn itu sangat jarang. Objek wisata air terjun Curug Sewu juga kurang maksimal. Umumnya hanya ramai setahun sekali bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

Inilah soalnya, Kendal memiliki objek-objek wisata budaya, sejarah, dan tempat wisata baru yang bervariasi. Namun umumnya kurang berkembang baik. Tidak terlihat usaha meningkatkan keindahan dan kenyamanan lingkungan sehingga keadaannya begitu-begitu saja untuk tidak mengatakan malah terbengkalai.

Harus diakui, Pemkab Kendal belum memberi perhatian relatif besar kepada sektor pariwisata. Bahkan ada kesan, sektor ini "dianaktirikan" dibandingkan sektor lain yang dinilai lebih produktif.

Suatu objek wisata tidak menarik, karena tak dikembangkan. Atau dibiarkan terbengkalai akibat tidak diberi anggaran cukup. Akibatnya, masyarakat tak berminat untuk berkunjung. Atau sekali berkunjung langsung kapok lantaran tidak menemukan nilai tambah.

Joko Suprayoga

Jl Raya Sapen 99 Sukorejo Kendal

***

Mencari Teddy Saputro

Beberapa tahun lalu saya punya sahabat bernama Teddy Saputro, terakhir tinggal di kompleks Puri Anjasmoro A/4 Semarang. Sebelumnya dia tinggal di JI Kelud Utara dan sampai sekarang saya kehilangan jejaknya. Saya ingin bersilaturahmi kembali dan mohon kepada pembaca yang tahu dia, menghubungi saya di 08122616139 atau (0272) 322161.

Muhammad Nur Hidayat

Wironanggan Rt 1/Rw 4 Gatak, Sukoharjo

***

Tahun Solidaritas

Tragedi tsunami Aceh sungguh memilukan. Namun rasa haru dan duka saya teraduk-aduk di antara tayangan kedahsyatan bencana dengan gemerlap kemeriahan acara TV. Rasa ingin meringankan kepedihan tsunami berselingan dengan mimpi mendapatkan giliran hadiah uang kaget, undian gebyar, kuis hingga belanja berbonus mobil.

Rasa prihatin membayangkan nasib anak-anak Aceh beralih menjadi rasa terkesima dengan tayangan sinetron rumah gedongan, adegan paha dan pusar, hipnotis mistik, hingga dongeng misteri dan cerita gaib.

Bapak Presiden, tugas bapak sungguh berat.

Tahun 2005 menjadi tahun solidaritas yang bapak canangkan jangan hanya menjadi teriakan di tengah belantara ketidakpedulian. Mari kita menyatukan hati dan pikiran untuk membangun Aceh, membangun Indonesia.

Seandainya 4 juta pegawai negeri dan 2 juta pegawai perusahaan swasta dipotong gajinya masing-masing sebesar Rp 5000 dan Rp 10.000/bulan selama Tahun Solidaritas ini, maka sekurangnya setiap bulan masuk Rp 40 miliar dapat diwujudkan.

Mari sosialisasikan kepada masyarakat bahwa bumi Indonesia selain mengandung sumber daya alam untuk kehidupan, bumi pun perlu dicermati karena memendam potensi kebencanaan. Memahami bumi dalam skala regional dapat dimulai dari tindakan memahami alam dalam skala lokal, yaitu skala hunian manusia.

Munasri

Karangsambung Rt 3/Rw 2, Kebumen

***

Kebijakan Khusus Pendidikan di Aceh

Sebagai orang yang pernah ngurusi pendidikan di sekolah, saya prihatin karena pemerintah sampai sekarang belum ada satu kebijakan khusus pendidikan anak-anak Aceh. Barangkali yang membuat makin sedih adalah hilangnya para guru dari beberapa sekolah.

Barangkali harapan Rektor Unnes Semarang agar guru yang dikirim ke Aceh sudah membawa SK pengangkatan sebagai pegawai negeri bisa dipertimbangkan. Kalau pihak Depdikbud beberapa waktu lalu diberitakan akan mengadakan seleksi guru ke Aceh, harus juga betul-betul diseleksi.

Hal ini karena medan Aceh bukan sembarangan. Guru yang dikirimkan harus berani berjibaku. Saya usul guru yang dikirim nantinya diberi kenaikan istimewa satu tingkat. Kebijakan khusus membentuk relawan guru kiranya perlu dipikirkan agar segera mengaktifkan proses belajar mengajar secara darurat .

Terlambatnya proses ini dikhawatirkan akan mempengaruhi watak dan perilaku anak-anak Aceh, apalagi dengan masuknya unsur-unsur asing ke wilayah itu. Semoga curahan hati seorang warga negara yang prihatin terhadap musibah ini mendapat tanggapan dari Bapak-bapak yang berwenang.

Parmanto SH MHum

Jl. Meranti Raya 302, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA