BAGIAN KETIGA

28

DI TEMPAT pangkas rambut itu sudah ada beberapa orang menunggu. Di sekeliling Kutil dan Sapili yang sedang merapikan rambut Khamidun dan Kromo Lawi tampak Tan Jiem Kwan memunguti guguran bunga flamboyan, Widarta dan Muryawan berbincang di emperan, Miad berdiri dekat Rustamadji yang asyik mencabuti rumput teki. Seorang pengawas penjara yang duduk terkantuk-kantuk di bawah tiang beranda, terperanjat begitu mendengar langkah mendekat.

"Selamat pagi," sapa Soepangat sambil berjalan di sisi Chambali.

Seketika Khamidun menggerakkan kepalanya ke arah sumber suara. Lalu, "Atoh!" teriaknya tiba-tiba.

"Kalau mau noleh, bilang-bilang, Bung! Untung hanya pelipis yang terguris. Bagaimana kalau kuping Bung yang lepas?" celetuk Sapili bercanda, disambut tawa orang-orang di sekitarnya, kecuali si pengawas penjara. Mungkin lantaran malu, mengira orang-orang menertawai dirinya, si pengawas lalu bergegas menjauh sambil menyalakan rokok yang tak lagi utuh.

"Bapak, nanti saya dicukur gundul saja, ya," pinta Chambali kepada bapaknya.

"Kamu pantesnya dipotong bros saja, Li," usul Sapili.

"Jangan, ding, nanti kayak kopral TKR," timpal Rustamadji.

Gelak tawa kembali bergema.

"Nanti kami jadi pangling, terus kamu didombreng, bonggan!" sambung Miad seraya berjogetan sambil bertepuk tangan. "Breng dobreng dombreng, panci ember piring kaleng." Sapili segera beranjak dan mengikuti, "Breng dombeng dombreng, pengkhianat kita dombreng!" Disusul Sapili di belakang Rustamadji.

Keruan saja Khamidun yang rambutnya belum rapi berteriak-teriak, "Hei, Sapi... selesaikan dulu cukuran ini!" Orang-orang tambah terbahak. Suasana jadi semeriah pasar loak. Segera setelah Chambali menggabungkan diri, iring-iringan itu berjalan ke sana kemari, menjalar dan melingkar. Breng dombreng dombreng!

Dari berbagai arah orang-orang berlarian datang, memperpanjang barisan. Disusul sebuah pekikan, "Pengkhianat kita dombreng!" Orang-orang tahu siapa pemilik suara cempreng itu. Dialah Salim, penyandang gelar si Cabe Rawitsesuai dengan tubuhnya yang kecil tapi bersemangat besar, sindiran-sindirannya pedas. Tidak seperti teman-temannya yang bergabung di bagian belakang barisan, si Cabe Rawit malah langsung menempatkan diri paling depan seakan dialah sang pemimpin arak-arakan. Permainan itu tambah marak oleh sindiran dan gerak-gerik Salim yang kocak.

Kor: Breng dombreng dombreng, panci ember piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Salim: Iblis asing kita dombreng!

Kor: Breng dombreng dombreng, panci embre piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Salim: Iblis pribumi petentang-petentengan.

Kor: Breng dombreng dombreng, panci embre piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Salim: Antek iblis asing, kita dombreng!

Kor: Breng dombreng dombreng, panci embre piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Salim: Tuan tanah kita dombreng!

Kor: Breng dombreng dombreng, panci embre piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Salim: Lintah darat kita dombreng!

Kor: Breng dombreng dombreng, panci embre piring kaleng. Breng dombreng dombreng...

Kutil merenung, di antara Soepangat dan Kromo Lawi yang hanya senyum-senyum di kejauhan. Bagi Kutil, tingkah laku orang-orang itu, betapapun lucu, mengingatkannya pada gelombang amarah dan kengerian setahun lalu.

Tiba-tiba terdengar jerit Miad, "Dewi Penyelamat!"

Serentak orang-orang pun berpaling ke satu sasaran: seorang perempuan dengan bibir mengembang, berjalan menyeberang lapangan.

"Ibu Pri!" Dengan girang Chambali berlari menyambut perempuan itu, lantas membantu menjinjing barang bawaan. Dari depan pintu ruang Kepala Penjara beberapa pengawas memperhatikan mereka.

"Lho lho lho, ini bangkotan-bangkotan kok main ular-ularan?" sapa Ibu Pri. Para lelaki yang baru menghentikan tindakan-tindakan konyolnya itu hanya diam. Beberapa menahan tawa. Rasa sungkan dan hormat kepada perempuan itu telah membuat suasana senyap seketika.

Ibu Pri, tak seorang pun di antara mereka tak mengenalnya. Perempuan yang tangkas trengginas berotak cerdas. Aktivis pergerakan yang berani dan anggun. Umurnya belum tiga puluh tahun. Dialah salah seorang di antara lima perempuan yang pada masa pendudukan Jepang ditugaskan oleh kaum pergerakan bawah tanah untuk mengikuti kursus politik Pusat Tenaga Rakyat, di bawah pimpinan empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Haji Mas Mansur. Dialah perempuan yang telah melanglang ke seantero Tanah Jawa untuk membangkitkan kesadaran kaum perempuan. Ia ke Indramayu ketika terjadi pemberontakan petani, lalu ke Banten, sebelum akhirnya kembali ke Comal atas permintaan Widarta. Tak lama setelah proklamasi, dia ditugaskan ke Jawa Timur untuk membebaskan Amir Syarifuddin. Dialah perempuan yang mengikuti Kongres Pesindo Jawa Timur, Kongres Pesindo Se-Indonesia di Yogyakarta, lantas di Comal ia membentuk Pemudi Pesindo untuk kawasan Tiga Daerah. Dialah perempuan yang liat bagai kijang. Ya, kijang buruan para tentara. Dia diinterogerasi TKR dan ditahan di Hotel Merdeka, Pekalongan. Kini ia mengemban tugas rahasia, mengatur pengiriman barang kebutuhan kawan-kawan seperjuangan yang menjadi pesakitan di Penjara Wirogunan.


HexWeb XT DEMO from HexMac International