| Selasa, 15 Februari 2005 | MURIA |
Air, Kawan dan LawanOleh : M WidjanarkoPERNAH membayangkan bagaimana kehidupan di Bumi tanpa air? Jawabannya kehidupan di Bumi tanpa air, makhluk hidup akan mati! Tidak ada satu pun makhluk hidup yang tidak membutuhkan air, termasuk manusia. Untuk negara kita, kebutuhan air per kapita per hari kurang lebih 100 liter, yaitu untuk minum 5 liter, mandi 30 liter, memasak 5 liter, mencuci 15 liter, dan untuk WC membutuhkan 45 liter. Jadi, air merupakan kebutuhan vital bagi manusia, bahkan sebagian besar (kurang lebih 75 %) jaringan tubuh manusia terdiri atas air. Dari situ dapat dipahami bahwa air merupakan sumber kehidupan primer bagi makhluk hidup. Untuk itulah manusia bersepakat bahwa air merupakan sumber daya alam yang dikategorikan sebagai barang milik umum (public property) . Sepanjang rentang sejarah di seluruh dunia, hak atas air telah dipengaruhi oleh keterbatasan ekosistem dan kebutuhan masyarakat. Hak atas air sebagai hak asasi tidak berasal dari negara, konteks ekologis tertentu dari eksistensi manusialah yang memunculkan hak atas air itu. Sebagai hak asasi, hak atas air merupakan hak guna (usufructuary rights) yang dipahami bahwa air boleh dimanfaatkan tetapi tidak bisa dimiliki (Shiva, 2002). Sudah seharusnya penggelolaan air tidak boleh dimiliki (baca: dimonopoli) oleh individu atau badan milik swasta. Sebab ada kekhawatiran jika swasta dilibatkan dalam pengelolaan air, para pengusaha/pemilik modal tentu cenderung akan menganggap air bukan sebagai komoditas ekonomi sosial melainkan sebagai barang komersial. Saat ini, sejumlah perusahaan besar dunia di sektor air telah beroperasi di Indonesia. Misalnya Biwater di Batam dan Palembang, Ondo suez di Jakarta dan Sidoarjo, serta Vevendi yang beroperasi di Sidoarjo. Jaga Muria Kota Kudus tercinta nyaris tidak akan terkena ''tsunami'' karena memang tidak berada di pinggir laut. Akan tetapi, karena Kudus menjadi penyangga Gunung Muria, maka air yang bersumber darinya terkadang membuat ''repot'' masyarakat yang tempat tinggalnya dilewati aliran sungai yang berasal dari Muria. Penelitian Pusat Kajian Lingkungan Hidup Muria Research Center pada bulan Agustus - Setember 2004, selain telah memetakan adanya potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang ada di Gunung Muria, juga telah memberikan warning bahwa daerah hutan kawasan Muria telah berlubang-lubang, berkurangnya hutan alami, terjadi penggundulan hutan yang disebabkan oleh tangan-tangan jahil, dan pembukaan lahan yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Secara logika-rasionalis maka ketika musim penghujan tiba, air akan mengalir dengan cepat dan membuat desa-desa di bawah, terutama Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu dan tiga desa di Kecamatan Mejobo yaitu Golantepus, Temulus, dan Mejobo menjadi terendam (banjir). Sebagai benda mati, air tidak mengenal kawan dan lawan, air mengikuti proses alam yang acap kali telah dicampuri oleh tangan manusia dengan perilakunya: pepohonan dibabati, air tanah dieksploitasi, penataan tata ruang tidak diindahkan, daerah resapan air dihilangkan, dan badan sungai dipenuhi sampah. Seringkali hal ini tidak disadari, dan jika sadar pun sering kali terlambat, seperti saat terjadi banjir, tanah longsor, mata air jadi kering atau air menjadi tercemar. Oleh karena itu, selain harus memperlakukan air dengan arif dan bijak, kita juga harus belajar dari pengalaman bahwa jika daerah atas di Gunung Muria mulai hari ini, masih tidak ada penataan ulang, reboisasi, pengelolaan hutan berbasis masyarakat atau penghentian pembukaan lahan, maka daerah bawah akan tetap menjadi daerah yang terendam ketika hujan atau akan menjadi daerah yang rutin kebanjiran. Sepertinya, tidak berempati manakala membiarkan rakyat dalam situasi tidak ada pilihan, dan setiap kali harus masuk ke lubang yang sama. Hari ini banjir dan besok juga banjir, tahun ini banjir dan tahun depan juga banjir, padahal bisa jadi masyarakat yang terkena banjir hanyalah masyarakat korban yang tidak melakukan ''ekoterorisme'' (penghancuran dan kerusakan lingkungan) kawasan Muria. Tidak bijak juga, jika hanya menyalahkan satu dengan yang lain. Sepertinya menjadi pekerjaan rumah bersama untuk melakukan kerja riil, bersahabat dengan alam, melestarikan alam, dan melindungi alam yang telah memberikan segalanya. Dan, juga sebaliknya bertanya pada diri masing-masing: Apa yang sudah aku berikan pada alam?(90m) - Penulis adalah Staf Pengajar di Program Studi Psikologi Universitas Muria Kudus dan Peneliti di PKLH Muria Research Center |