| Selasa, 15 Februari 2005 | MURIA |
''Itu Memang Sabuk yang Biasa Dipakainya''WAJAH Kuyu Legiyo (50) yang membiaskan duka mendalam karena kematian Moh Syaifu (30), putra sulungnya, terlihat menyembul di antara riuhnya keramaian ratusan orang yang ingin menyaksikan proses pembongkaran makam anaknya di TPU Tanjungrejo. Dengan tabah dia menanti delapan penggali kubur yang secara bergantian menggali lobang sedalam dua meter untuk mengambil mayat anaknya. ''Saya akan makamkan hari ini juga,'' katanya. Meskipun tersendat, kepada Suara Merdeka dia menceritakan awal kepergian Moh Syaifu tersebut hingga akhirnya kabar kematiannya terdengar di telinganya. Pada Jumat (4/2) sekitar pukul 20.00, anaknya kedatangan seorang tamu yang entah bernama siapa dan bermaksud menemui putranya. ''Yang saya dengar, keduanya merencanakan untuk pergi ke Semarang,'' tuturnya. Kemudian, Sabtu (5/2) pukul 08.00 keduanya pun pamit dengan mengendarai Honda Grand hitam tahun 1993 Nopol H-6466-YR milik korban. Istrinya, saat itu sedang membantu hajatan di rumah tetangga dan anak keduanya tidak berada di tempat. Setelah dua hari meninggalkan rumah, dia mengaku sibuk mencari anaknya ke rumah rekan-rekan ataupun saudara-saudaranya yang lain. Seorang saudaranya yang berada di Dawe, Kudus, bernama Sariyonom, memberikan kabar bahwa ada penemuan mayat di Desa Tajungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus. ''Saya langsung ke sana untuk membuktikan hal itu,'' ucapnya. Setelah melihat pakaian dan barang-barang yang ditemukan bersama mayat tersebut berupa monel dan sabuk bertuliskan Heri Kurniawan, dia pun yakin bahwa mayat itu memang betul anaknya. Soalnya, lanjut dia, lelaki tua tersebut mengaku sering melihat anak sulungnya itu memakai sabuk dengan nama kemenakannya yang tertulis di dalamnya. ''Benar, itu memang sabuk yang biasa dipakainya,'' tandasnya. Meskipun menanggung duka yang teramat sangat, dia mengikhlaskan kepergian putranya itu. (Anton Wahyu Hartono-90j) |