logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 15 Februari 2005 MURIA
Line

Petani Rembang Gagal Tanam

  • Tak Ada Hujan, Embung Masih Kering

REMBANG - Petani di wilayah Kabupaten Rembang mengerang. Ribuan hektare areal sawah yang sebagian besar tadah hujan hingga kini masih kering kerontang, sehingga sama sekali belum bisa ditanami.

Sejumlah petani di beberapa desa telah mencoba tanam padi, saat turun satu dua kali hujan mulai Desember lalu. Namun akhirnya, tanaman mereka mati.

Menurut keterangan yang dihimpun Suara Merdeka, warga yang menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam pesimistis jika pada 2005 ini bisa tanam padi. Masalahnya, sampai kemarin hujan masih jarang turun. Kalaupun ada hujan, hanya sebentar dan tidak besar.

Akibat minimnya hujan tersebut, sejumlah embung (waduk mini) yang berfungsi untuk menampung air hujan maupun air dari kali-kali kecil, hingga kemarin belum terisi air.

Tingkat kekeringan embung bisa dipastikan dari dasar bangunan tersebut yang terlihat secara jelas. Kalaupun ada airnya, tak lebih dari mata kaki serta tak merata pada penampang embung.

Embung Rowosetro di Desa Pasa Banggi, Kecamatan Rembang misalnya, dasarnya malah banyak ditumbuhi rumput liar. Padahal, pada pertengahan tahun 2004 lalu, embung tersebut telah dikeruk dengan menggunakan alat berat. Sementara di lahan lambirannya yang kosong, tampak ditanami dengan mahoni dan jati. Namun, puluhan bibit penghijauan tersebut terlihat mati.

Kemarin, dua orang petani tengah menyedot air yang tak seberapa banyak dari Embung Rowosetro, guna mengairi sawahnya yang telah ditumbuhi padi dengan umur tiga minggu.

''Ongkos menyedot air per jam Rp 9.000. Untuk satu kotak sawah bisa sampai 10 jam, baru airnya cukup untuk seminggu,'' kata Suyadi.

Untuk ''mengantar'' air hingga lahannya, dia memerlukan pipa sepanjang 300 m.

Tak Ada Tanggapan

Tidak berbeda jauh dari kondisi Embung Rowosetro, dua embung yang terdapat di Desa Telogomojo, Kecamatan Rembang yakni Embung Telogomojo dan Embung Sambangan saat ini juga mengalami kekeringan.

''Padahal, embung tersebut menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan air,'' ujar Kades Isa Anshori.

Ia menjelaskan, Embung Telogomojo yang luasnya 1,5 hektare terakhir kali dikeruk 10 tahun yang lalu. ''Kami telah mengajukan proposal ke Pemkab agar dilakukan pengerukan kembali, namun hingga sekarang tidak ada tanggapan,'' tandasnya.

Embung itu, tambahnya, mampu mengairi 60 ha sawah yang masuk wilayah desanya maupun Desa Garang, Kecamatan Rembang. ''Mestinya, kalau embung tersebut ada airnya, warga bisa satu kali tanam padi dan sekali palawija dalam setahun,'' paparnya. (yit-90m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA