| Selasa, 15 Februari 2005 | SEMARANG |
Bekali Keterampilan TambahanSEPERTI kebanyakan anak pedesaan pada waktu silam, menjadi guru adalah sebuah cita-cita dan pengharapan yang amat didambakan. Harmoni kehidupan itu juga dirasakan Drs Sutopo ketika melewati masa kecilnya di sebuah desa wilayah Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. ''Umumnya anak desa, waktu itu yang terlintas di pikiran saya adalah bagaimana bisa menjadi guru atau tentara. Bukan apa-apa, dua profesi itu sangat akrab di telinga kami saat itu,'' tutur Sutopo, Kepala SMA Negeri 1 Kendal. Jika akhirnya menjadi guru, salah satu pendorongnya karena dia bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri. Andai waktu itu gagal masuk, dia berancang-ancang untuk mendaftar tentara. Alumnus Fakultas FPIS Jurusan Geografi IKIP Negeri Semarang 1986 itu mengaku tidak mengira pada kemudian hari profesi yang ditekuninya berkembang seperti saat ini. ''Karena sudah menjadi pilihan hidup, tentunya saya harus komit untuk menuangkan kemampuan di dunia kependidikan.'' Pria kelahiran 22 Oktober 1962 itu mengemukakan, komitmennya antara lain berupaya semaksimal mungkin agar para alumnus sekolah yang dipimpinnya mampu berprestasi, siap di dunia kerja, serta tetap membekali pendidikan budi pekerti. ''Bekerja sama dengan semua unsur yang ada di sekolah ini, kami mendata siswa-siswi yang kemungkinan tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka kemudian diberi bekal keterampilan tambahan atau life skill.'' Keterampilan tambahan yang diberikan, lanjut ayah tiga anak itu, antara lain komputer dan bahasa Jepang. Bekal komputer, tak hanya sebatas memahami pengoperasiannya saja namun juga merakit. Mengapa membekali juga dengan bahasa Jepang? Menurut keterangan mantan Kepala SMA Negeri 1 Weleri itu, selain bahasa tersebut sudah mendunia, juga agar siswa-siswi nantinya juga dapat mentransfer teknologi maju dari Jepang. ''Keterampilan lain yang sifatnya mendasar juga kami diberikan, khususnya untuk pelajar putri, yaitu menjahit.'' (Setyo Sri Mardiko-91j) |